Mengapa Tahun Ini Indonesia ''Banjir'' Investasi dari Raksasa-Raksasa Teknologi Amerika?

Mengapa Tahun Ini Indonesia ''Banjir'' Investasi dari Raksasa-Raksasa Teknologi Amerika?
info gambar utama

Pasar internet Indonesia yang berkembang pesat telah menjadi arena pertarungan yang tidak disangka-sangka sebelumnya antara perusahaan-perusahaan teknologi China dengan saingan mereka dari Amerika Serikat. Keduanya bergerak cepat .

Di tahun 2020, meski tertutup berita pandemi dan berbagai berita riuh rendah perpolitikan di Indonesia, dunia startup Indonesia tetap menyita perhatian dengan 'datangnya' investor-investor dari perusahaan-perusahaan raksasa dunia.

Tahun ini, Google, Microsoft, Facebook, Paypal tanpa ragu menggelontorkan dana besar ke perusahaan-perusahaan startup (baca: Unicorn) Indonesia, yang nilanya diperkirakan lebih dari $1 milyar, sebuah nilai yang cukup fantastis di tengah beratnya ekonomi di masa pandemi ini.

Menurut data Bank Dunia, persentase 267,7 juta penduduk Indonesia yang memiliki akses internet telah meroket. Pada 2019, 47,7% penduduk Indonesia memiliki akses internet; tahun sebelumnya, hanya 39,9%, dan 32,3% tahun sebelumnya.

Menurut para analis, tren 'banjirnya' investasi ke startup-startup Indonesia tak akan memudar di waktu-waktu mendatang. “Investasi besar ke Indonesia (di era) ini menandakan pentingnya negara tersebut dan kawasan Asia Tenggara yang lebih luas di mata raksasa teknologi global ini.

Suara kepercayaan ini akan memiliki efek yang positif. Lebih banyak perusahaan internasional akan didorong untuk mengikuti dan berinvestasi di Indonesia, yang akan mendorong lebih banyak inovasi dan penciptaan lebih banyak perusahaan baru, ”kata Pinn Lawjindakul, vice-president di Lightspeed Venture Partners yang berbasis di Singapore, seperti dikutip SCMP.com.

Kerjasama investasi Microsoft dan Bukalapak | Microsoft.com
info gambar

Meski Indonesia adalah tempat yang jelas bagi investor untuk berinvestasi di dunia startup negara-negara seperti Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina juga merupakan kandidat kuat untuk menarik minat investasi yang tinggi dalam beberapa tahun mendatang karena Produk Domestik Bruto (PDB) mereka yang tinggi dan pengguna internet pertama kali (first user) akan begitu besar.

Seperti diberitakan, pada awal November 2020, Tokopedia mengumumkan bahwa mereka telah mengumpulkan sejumlah investasi yang jumlah dirahasiakan ( diperkirakan sekitar 350 juta dolar AS) dari Google dan Temasek, (Sovereign Wealth Fund dari Singapura). Kini, Tokopedia bernilai senilai 7 miliar dolar AS, dan sebelumnya sudah didukung oleh raksasa teknologi China Alibaba, bersama konglomerat Jepang SoftBank Group dan firma modal ventura Sequoia Capital India.

Raksasa terknologi lain dari AS, Microsoft juga mengumumkan investasi (yang jumlahnya juga dirahasiakan) bulan November ini di Bukalapak (kini bernilai 2,5 miliar hingga 3 miliar dolar AS). Investor Bukalapak sebelumnya yang sudah masuk adalah perusahaan China Ant Group, yang memiliki 19,4 persen saham di perusahaan tersebut.

Sebelumnya, pada bulan Juni 2020, Facebook dan PayPal menginvestasikan jumlah yang tidak diungkapkan di Gojek Indonesia. Gojek sendiri mengatakan investasi tersebut terutama akan digunakan untuk memperkuat GoPay untuk terus memperluas bisnis pembayaran digitalnya tersebut.

Kini Gojek bernilai 10 miliar dolar AS, dan memiliki investor raksasa juga dari China, yakni, Tencent dan juga Temasek dari Singapura. Investasi di Gojek adalah investasi nyata Facebook yang pertama kali di Indonesia, di mana mereka akan mencoba memperkenalkan layanan pembayaran seluler melalui aplikasi perpesanan WhatsApp yang ada di mana-mana.

Raksasa teknologi AS yang lain, Amazon, juga telah menunjukkan ketertarikannya untuk beroperasi Indonesia. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengumumkan pada 16 November bahwa perusahaan akan menginvestasikan sekitar 2 miliar dolar AS untuk membangun pusat data untuk layanan cloud-computing di provinsi tersebut.

Meskipun detail kesepakatan investasinya belum jelas, namun investasi tersebut diharapkan membuka jalan bagi Amazon untuk mendirikan operasi di Indonesia, di mana pasar e-commerce domestiknya senilai 32 miliar dolar AS yang didominasi oleh perusahaan lokal dan regional.

Bulan Oktober 2020, raksasa teknologi China Huawei menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengembangkan bidang kecerdasan buatan (Artificial Intellegence), komputasi awan, dan teknologi internet 5G.

Banyaknya investasi yang membanjiri Indonesia ini terlihat cukup menonjol, apalagi mengingat masalah ekonomi Indonesia yang berat tahun ini. Pada kuartal ketiga tahun 2020, produk domestik bruto negara itu menyusut sebesar 3,49 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa secara keseluruhan, ekonomi Indonesia akan menyusut 1.5 persen tahun ini. Dan ini tidak menhentikan laju investasi dari big tech companies ke Indonesia.

Data dari perusahaan Venture Capital yang berbasis di Singapura, Cento Ventures, menunjukkan bahwa 5,6 miliar dolar AS telah diinvestasikan di perusahaan-perusahaan teknologi di Asia Tenggara yang terbagi dalam 300-an kesepakatan pada paruh pertama 2020 ini, di mana 74 persen dari modal tersebut diinvestasikan pada startup-startup di Indonesia.

Raksasa-raksasa teknologi belajar banyak dari kesalahan Uber yang percaya diri masuk tanpa menggandeng pemain lokal, dan akhirnya 'dipaksa' merelakan bisnisnya 'dicaplok' pesaingnya, Grab, pada 2018. Kegagalan Uber tersebut membuat strategi investasi perusahaan teknologi AS bergeser untuk bermitra dengan perusahaan lokal, yang memahami pasar masing-masing lebih baik daripada perusahaan asing.

Hal inilah yang secara taktis dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Teknologi dari China. Sejak awal, perusahaan-perusaahn China yang pertama kali menyadari pentingnya berinvestasi di perusahaan lokal untuk memastikan kehadiran jangka panjang di wilayah tersebut.

Jauh sebelum perusahaan-perusahaan AS berinvetasi di Indonesia (dan Asia Tenggara), investor-investor raksasa dari China telah duluan masuk. "Perusahaan-perusahaan China lyang berivestasi di Asia Tenggara (seperti Tescent dan Alibaba) lebih berpengalaman dalam membangun konsumen pasar berkembang, sedangkan perusahaan-perusahaan Barat (dalam hal ini AS) lebih baik dalam membangun budaya perusahaan, brand dan value globale" kata Lawjindakul.

Investasi perusahaan-perusahan big tech (dari AS dan China) di Indonesia sebagian besar memang mengikuti trend "Next Billion Users", investor-investor tersebut juga melihat 'ketegangan' yang berkepanjangan antara AS dan China, juga gesekan antara China dengan India , sebagai salah satu alasan mereka mulai jor-joran investasi di kawasan yang lebih netral, Asia Tenggara.

"Next Billion Users" adalah sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh Google pada tahun 2015 setelah Sundar Pichai menjadi CEO yang bertujuan untuk menghadirkan koneksi internet ke miliaran orang di negara berkembang. Facebook memulai upaya serupa pada tahun 2010, ketika mulai bermitra dengan penyedia telekomunikasi di negara-negara berpenghasilan rendah untuk menawarkan sejumlah aplikasi, termasuk versi sederhana dari aplikasi media sosialnya, ke ponsel murah dengan daya pemrosesan data yang lebih rendah.

"ByteDance (pembuat Tik Tok) menginvestasikan sejumlah besar uang ke Asia Tenggara, melalui Singapura, karena ketegangan AS-China dan ketegangan India-China, dan kita bisa melihat dengan jelas bahwa perusahaan China menempatkan lebih banyak uang dan upaya di wilayah tersebut (Asia Tenggara)," kata Lauria dari Golden Gate Ventures.

Yang 'diperebutkan' adalah internet economy yang sangat besar di Asia Tenggara, yang nilainya diperkirakan mencapai US $ 105 miliar tahun ini meskipun ada hambatan dari pandemi Covid-19 - sedikit meningkat dari 100 miliar dolar AS tahun lalu. Indonesia sendiri berkontribus hampir setengah dari ekonomi yang didukung internet di kawasan itu, dengan ukuran pasar diperkirakan mencapai 44 miliar dolar AS tahun ini.

Referensi:

“Why Are Google, Amazon Eyeing Indonesia? Because Alibaba, Tencent Are Too.” South China Morning Post, 30 Nov. 2020, www.scmp.com/week-asia/economics/article/3111466/why-are-google-and-amazon-investing-indonesias-tech-unicorns.

Morgan Artyukhina . Sputnik International. “Chinese, American Tech Giants Race to Back Indonesia's Burgeoning 'Unicorn' Startups.” Sputnik International, Sputnik Internationalcdn2.Img.sputniknews.com/i/Logo.png, 30 Nov. 2020, sputniknews.com/asia/202011301081320773-chinese-american-tech-giants-race-to-back-indonesias-burgeoning-unicorn-startups/.

“Individuals Using the Internet (% of Population) - Indonesia.” Data, data.worldbank.org/indicator/IT.NET.USER.ZS?locations=ID.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini