Kerjasama dengan UEA, Indonesia Bakal Punya PLTS Terapung Terbesar Se-Asia Tenggara

Kerjasama dengan UEA, Indonesia Bakal Punya PLTS Terapung Terbesar Se-Asia Tenggara
info gambar utama

Selama bertahun-tahun, hubungan kerjasama energi antara Indonesia dan negara-negara kawasan teluk didominasi oleh energi konvensional berupa perdagangan minyak dan gas. Pasokan minyak mentah impor Indonesia masih bergantung pada minyak di Arab Saudi.

Sejumlah negara di kawasan teluk pun melakukan investasi di sektor migas Indonesia. Misalnya, perusahaan minyak milik negara Indonesia, Pertamina, awal tahun lalu menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi, ADNOC, untuk pengembangan fasilitas kilang di Balongan, Jawa Barat.

Pada tahun 2016, perusahaan minyak dan gas dari Oman, Oman Overseas Oil and Gas Operation, menandatangani perjanjian dengan Pertamina untuk membangun kilang minyak baru di Bontang, Kalimantan Timur. Kilang tersebut ditargetkan berkapasitas 300 ribu barel per hari. Setahun kemudian, Doha juga menandatangani head of agreement (HOA) senilai US$1 miliar dengan PLN untuk mengembangkan 800 GW, serta unit penyimpanan dan regasifikasi terapung di Sumatera Utara.

Di sisi lain, investasi Indonesia juga telah merambah ke negara kawasan teluk. Contohnya adalah Pertamina yang pernah mencoba mengakuisisi blok migas di Uni Emirat Arab (UEA) untuk meningkatkan produksi minyak dan gas perusahaan. Selain itu Medco Energi juga memenangkan kontrak pada 2015 untuk mengeksplorasi Blok 56 di Oman, yang diperkirakan memiliki cadangan minyak 370 juta barel.

Kerjasama Negara Teluk-Indonesia Mulai Beralih ke Energi Terbarukan

Namun belakangan ini hubungan kerjasama antara Indonesia-Teluk rupanya secara bertahap beralih ke sektor energi terbarukan. Energi terbarukan rupanya dipilih karena ramah lingkungan serta aman jika digunakan dalam jangka panjang. Selain itu mirip dengan negara Teluk, Indonesia dianugerahi potensi tenaga surya melimpah yang tersebar di wilayah Indonesia. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa potensi tenaga surya di tanah air mencapai 207,8 GW.

Pada 2015, Kuwait dan Pertamina telah menandatangani MoU untuk mempererat kerja sama di bidang terbarukan. Sedangkan di awal 2020 lalu, perusahaan energi terbarukan terkenal dari Uni Emirat Arab, Masdar, menandatangani perjanjian dengan PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB), anak perusahaan Perusahaan Listrik Negara (PLN), terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 145 MW.

PLTS terapung ini rencananya bakal menjadi pembangkit tenaga surya terbesar di ASEAN setelah PLTS Cadiz Solar Powerplant di Filipina yang memiliki kapasitas 132,5 MW. Proyek di Waduk Cirata, Jawa Barat ini rencananya akan beroperasi secara komersial pada tahun 2022 dan diharapkan dapat memasok energi bersih ke Pulau Jawa.

Kerjasama pembangunan PLTS ini telah dituangkan dalam kesepakatan Power Purchase Agreement (PPA) antara PT. PJB Investasi (PT PJBI dan Masdar) dan PT. PLN (Persero). Proyek yang bernilai US$ 129 juta ini telah diteken 12 Januari 2020 lalu di Abu Dhabi.

PLTS Likupang, Ladang Panel Surya Terbesar di Indonesia

PLTS Likupang © Ebtke.esdm.go.id
info gambar

Sebelumnya, Indonesia sudah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung bifacial (dua sisi) yang dibangun di Danau Mahoni Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (FT UI) dan diresmikan pada 25 Februari 2020 lalu. PLTS terapung bifacial pertama di Indonesia tersebut mampu menghasilkan listrik 10.000-13.000 Wp.

Selain itu, Indonesia juga telah memiliki ladang panel surya terbesar di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Ada sebanyak 64.620 hamparan panel surya yang berjejer rapih di kawasan ladang seluas 29 hektar. Beroperasi sejak Sepetember 2019, PLTS Likupang setiap harinya mampu menyalurkan listrik sebesar 15 MW

Indonesia rupanya sudah perlahan-lahan fokus kepada pengembangan energi terbarukan. Indonesia telah menetapkan target ambisius 23 persen energi terbarukan pada tahun 2025 dan sampai tahun 2019 Indonesia telah mencapai 8 persen dari target yang ditetapkan.

Tak hanya sampai di situ, Indonesia juga memperdalam kerja sama dengan International Energy Agency (IEA) untuk membina pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Semua gerakan ini memberikan peluang bagi investor baik lokal maupun global karena sumber daya surya Indonesia bisa menjadi pasar potensial untuk investasi.

Sumber: Thediplomat.com | Ebtke.esdm.go.id | CNBC Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini