Arnold Mononutu, Mengubur Jiwa Kolonial dengan Menjadi Nasionalis Tulen

Arnold Mononutu, Mengubur Jiwa Kolonial dengan Menjadi Nasionalis Tulen
info gambar utama

Tepat pada Hari Pahlawan tahun 2020, Presiden Joko Widodo memilih enam sosok untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Salah satu yang terpilih ialah Profesor Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu atau akrab dengan nama Arnold Mononutu.

Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 4 Desember 1896, Arnold Mononutu pernah menjabat posisi penting di pemerintahan Indonesia masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, dan pernah pula menduduki kursi rektor Universitas Hasanuddin, Makassar.

Presiden Jokowi memandangi potret Arnold Mononutu pada hari acara penganugerahan pahlawan nasional tahun 2020.
info gambar

Jika boleh berandai, Mononutu mungkin tidak akan menjadi orang penting di Indonesia jika mentalnya tidak berubah. Maklum, sebelum mengenal pergerakan para pemuda Indonesia di tempatnya menimba ilmu, ia memiliki jiwa kolonial yang kuat.

Jiwa Kolonial Tumbuh dari Keluarga

Arnold Mononutu yang lahir dari pasangan Karel Charles Wilson Mononutu dan ibunya bernama Agustina van der Slot mempunyai hidup yang nyaman, aman bin terjamin. Pasalnya ayah dan kakeknya adalah tokoh terkemuka pada masanya. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri (ambtenaar) Hindia Belanda. Sementara kakeknya yang juga bernama Arnold Mononutu adalah orang Minahasa pertama yang menyelesaikan studi di sekolah untuk pelatihan dokter pribumi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA di Batavia.

Ketika Mononutu berusia dua tahun, ayahnya ditugaskan ke Gorontalo. Empat adiknya lahir di Gorontalo, tetapi sayangnya keempatnya meninggal dalam usia antara lima dan enam bulan. Pada 1903, Mononutu mengikuti sekolah dasar bahasa Belanda Europeesche Lagere School (ELS) di Gorontalo. Ia melanjutkan studinya di tingkat sekolah yang sama di Manado setelah ayahnya dipindahtugaskan ke Manado. Setelah lulus, pada 1913, Mononutu belajar di sekolah menengah Belanda Hogere burgerschool (HBS) di Batavia di mana ia bertemu dan berteman dengan Alex Maramis yang juga dari Minahasa dan Achmad Subarjo.

Arnold Mononutu berfoto bersama orangtuanya, Karel Charles Mononutu dan Augustina van der Slot, di Ternate pada 1920.
info gambar

Dikenal memiliki jiwa nasionalis yang tinggi pada masa kemerdekaan, awalnya Mononutu bermental kolonial seratus persen. Pengaruh keluarga jelas menjadi alasan pribadinya terbentuk seperti itu. "Hal itu diakui Om No (panggilan Arnold Mononutu pada usia senja) terus terang 'Tulis, tulis di situ, pada biografiku, bahwa aku betul-betul bermental kolonial,' katanya serius," ujar kerabatnya, Suroso M.T., dalam Arnold Mononutu: Ayam Jantan dari Indonesia Timur yang dihimpun Yayasan Idayu. Namun, beruntunglah ia bergaul dengan sesama mahasiswa pergerakan. Jiwa kolonialnya luntur dan menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi ke arah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari Wilson Jadi Mononutu

Pada 1920, Mononutu berangkat ke Eropa untuk memulai studinya di Belanda. Setelah beberapa tahun mengambil kursus persiapan untuk mendaftar di universitas, ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Hukum Internasional Den Haag (Académie de droit internasional de La Haye di Den Haag).

Pada awalnya, Mononutu tidak memiliki jiwa nasionalisme, ia bangga menjadi seorang peranakan Eropa dan Indonesia alias orang Indo. Sebelum tiba di Belanda, ia lebih senang hanya memakai nama Arnold Wilson. Namun, setelah menghadiri pertemuan dengan anggota Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) macam Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, dan Nazir Pamuntjak, membuat nama Mononutu yang merupakan salah satu marga di Minahasa akhirnya dipakai olehnya. Seingat Arnold, itu terjadi sekitar tahun 1923.

Rasa nasionalisme untuk Indonesia pun mulai bertumbuh dalam Mononutu. Ia menjadi lebih terlibat dalam organisasi tersebut dan terpilih sebagai wakil ketua pada periode yang sama di mana Mohammad Hatta terpilih sebagai bendahara.

Ketika Soekiman Wirjosandjojo menjadi ketua Perhimpunan Indonesia, Mononutu diminta untuk mewakili organisasi ini di antara organisasi-organisasi mahasiswa di Paris. Selama berada di Paris, unsur-unsur dari Dinas Intelijen Politik Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst) menjadi curiga terhadap kegiatan-kegiatan Mononutu.

Pemerintah kolonial di Indonesia menyebarkan desas-desus palsu kepada ayahnya bahwa dia bersimpati kepada gerakan komunis. Ayahnya diancam akan dipindahkan dari posisinya jika ia terus mengirimkan uang kepada anaknya.

Ketika ayahnya berhenti membiayainya, Mononutu menjadi bergantung pada teman-temannya. Ia kembali ke Belanda dari Prancis dan tinggal bersama Ali Sastroamijoyo dan keluarganya. Setelah diam-diam menerima uang dari ayahnya melalui pamannya yang datang ke Belanda, Mononutu dapat membayar semua hutangnya dan ia kembali ke Indonesia pada bulan September 1927.

Kembali ke Indonesia

Setelah kembali ke Indonesia, Mononutu segera terlibat dalam upaya nasionalisme. Ia menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang baru dibentuk. Ia juga bertemu dengan pendirinya, Sukarno, untuk pertama kalinya.

Mononutu menyewa sebuah kamar di rumah yang sama dengan Suwiryo dan Sugondo Joyopuspito yang keduanya adalah pemimpin Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Organisasi ini adalah bagian dari Kongres Pemuda Indonesia Kedua yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada 1928.

Pada mulanya, Mononutu bekerja untuk sebuah perusahaan eksplorasi minyak Jepang bernama Mitsui Buissan Kaisha, tetapi kemudian memutuskan untuk bekerja di Perguruan Rakyat yang baru didirikan walaupun dengan gaji lebih rendah. Ia mengelola dan mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Perguruan Rakyat.

Arnold infografik
info gambar

Guru-guru lain termasuk Mohammad Yamin dan Gunawan Mangunkusumo (saudara Cipto Mangunkusumo). Sekolah-sekolah tersebut memiliki total sekitar 300 siswa yang terdaftar. Pada 1930, Mononutu harus meninggalkan posisinya di Perguruan Rakyat dan kembali ke Manado, karena ia menerima kabar bahwa ibunya sakit.

Mengabdi di Tanah Kelahiran Sampai Kedatangan Jepang

Mononutu tinggal di Manado selama 12 tahun dari 1930 hingga 1942. Selama waktu ini, ia menjadi direktur koperasi kopra. Koperasi ini memiliki sekitar 500 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow.

Mononutu berhasil mendapatkan kredit dari Bank Kredit Umum Rakyat (Algemene Volkscredietbank) yang sekarang menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk membayar hutang-hutang para petani kopra. Ini memungkinkan para petani untuk menjual kopra mereka ke koperasi, yang menawarkan harga lebih stabil dan sesuai dengan standar. Kopra itu kemudian diekspor melalui Nationale Handelsbank yakni sebuah bank yang didirikan Belanda untuk membiayai perdagangan antara Belanda dan Hindia Belanda.

Pada awal pendudukan Jepang pada 1942, Mononutu dicari oleh Jepang karena sikap nasionalisnya dan hubungannya dengan organisasi-organisasi nasionalis. Dengan bantuan seorang Jepang bernama Yamanishi, Mononutu melarikan diri ke pulau Ternate di Kepulauan Maluku dan menetap di sana sampai akhir pendudukan Jepang.

Keterlibatan dalam Negara Indonesia Timur

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Mononutu memfokuskan usahanya membantu rakyat Maluku Utara untuk menentukan respon mereka yang terbaik. Dia adalah salah seorang yang mendirikan organisasi politik bernama Persatuan Indonesia. Sebuah koran bernama Menara Merdeka diterbitkan untuk mempromosikan cita-cita Persatuan Indonesia. Koran ini memberikan pesan-pesan pro-republik dan mengkritik upaya-upaya Belanda untuk membentuk sebuah negara yang terpisah dari Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Upaya Belanda untuk menemukan solusi federalis untuk Indonesia termasuk diantaranya pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) pada 1946. Mononutu menjadi anggota parlemen NIT dan memimpin kelompok anggota parlemen yang pro-republik. Ia memfokuskan usahanya untuk membujuk anggota parlemen lain untuk mendukung gagasan menyatukan NIT dengan Republik Indonesia.

Setelah Agresi Militer Belanda I pada 1947, Mononutu mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini berusaha menyoroti tindakan Belanda yang berupaya untuk kembali menjajah Indonesia. Pada bulan Februari 1948, ia memimpin sebuah delegasi NIT untuk mengunjungi dan bertemu dengan para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta. Pada 1949, NIT menjadi konstituen dari Republik Indonesia Serikat (RIS), yang kemudian dibubarkan pada 17 Agustus 1950 dan digantikan oleh Republik Indonesia yang bersatu.

Menjadi Menteri Penerangan dan Rektor Universitas Hasanuddin

Selama tiga kali di kabinet yang berbeda, Mononutu menjadi Menteri Penerangan dalam pemerintahan Indonesia, yakni:

  • Di Kabinet Republik Indonesia Serikat mulai 20 Desember 1949 hingga 6 September 1950
  • Di Kabinet Sukiman-Suwirjo dari 27 April 1951 hingga April 1952
  • Di Kabinet Wilopo dari 3 April 1952 hingga 30 Juli 1953

Selama menjabat sebagai menteri penerangan, beberapa daerah di Indonesia diguncang oleh pemberontakan-pemberontakan termasuk di Jawa Barat (Angkatan Perang Ratu Adil), Sulawesi Selatan (oleh Andi Azis), dan Maluku (oleh Chris Soumokil). Mononutu bersama dengan Sukarno mengunjungi daerah-daerah ini dan dalam rapat-rapat terbuka mempromosikan cita-cita sebuah bangsa yang bersatu.

Menteri Penerangan RIS, Arnold Mononutu (1945-1850) menyampaikan ucapan selamat dgn Moh. Roem dlm pelantikannya di Istana Gambir (skrg Istana Merdeka) sbg perwakilan RIS di Komisaris Tinggi Belanda (Januari-Agustus 1950), 22 Januari 1950.
info gambar

Sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, yang menghasilkan kesepakatan pembentukan RIS, dalam suatu tim kerja dengan kolega terdekatnya sesama diplomat, Mr. Sudibyo Wirjowerdojo (yang kemudian mendampinginya selaku charge d'affaires/Wakil Duta Besar di Republik Rakyat Tiongkok tahun 1953–1955), Mononutu merupakan yang pertama kali mengumumkan nama Batavia menjadi Jakarta. Sedangkan Mr. Sudijo Wiryowerdoyo ditugaskan menerangkan pengumuman itu di negeri Belanda.

Arnold Mononutu menyambut duta besar Amerika Serikat Indonesia, Hugh S. Cummings Jr, di Bandara Kemayoran, Jakarta, pada 1956. Sumber: De Nieuwsgier, 13 Desember 1956
info gambar

Setelah menjadi dubes untuk Tiongkok, pada 1960, Mononutu diminta oleh Sukarno untuk menjadi rektor Universitas Hasanuddin di Makassar. Dalam lima tahun jabatannya sebagai rektor, jumlah mahasiswa bertumbuh dari 4.000 mahasiswa menjadi 8.000 mahasiswa.

Pada awal jabatannya, universitas ini hanya memiliki tiga fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas kedokteran. Selama masa jabatannya, enam fakultas baru didirikan yakni Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Sastra, Fakultas Sosial Politik, dan Fakultas Teknik.

Presiden RI kedua, Suharto, melayat Arnold Mononutu di kediamannya di daerah Tebet, Jakarta Selatan, pada 5 September 1983.
info gambar

Mononutu dianugerahi Bintang Mahaputra Utama yaitu penghargaan tertinggi yang diberikan kepada seorang warga sipil oleh pemerintah Indonesia pada 15 Februari 1961.

Pada usia senjanya, Mononutu minta dikuburkan di samping ayah dan ibunya. Namun, keinginan itu diurungkan di mana ia ingin dimakaman di Taman Maklam Pahlawan. Patut dimaklumi, karena membujang hingga akhir hayat, Mononutu mengaku takut pusaranya kelak tidak ada yang merawat.

Mononutu sendiri tutup usia di Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta, pada 5 September 1983. Sebelum kembali ke pangkuan Ilahi, Mononutu pernah berpesan agar perjuangan para tokoh bangsa bisa terus dikenang. "Banyak teman dekat saya sudah tinggal tulang dan tulang. Kami semua bakal menjadi tulang. Tetapi pesan saya ialah berilah makna pada tulang kami,'' ujar Mononutu.

---

Referensi: R. Nalenan, "Arnold Mononutu: Potret Seorang Patriot. Jakarta: Gunung Agung" | Yayasan Idayu, " Arnold Mononutu: Ayam Jantan dari Indonesia Timur"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini