Hukuman Bagi Koruptor di Pikiran Anak-anak Tahun 1950-an

Hukuman Bagi Koruptor di Pikiran Anak-anak Tahun 1950-an
info gambar utama

*Penulis senior GNFI

Dalam perbincangan diantara anak-anak teman kampung saya dulu tahun 50-an tentang hukuman bagi penjahat yang melakukan tindakan kriminal berat, kami – mungkin berdasarkan cerita orang-orang yang lebih dewasa berpendapat bahwa bentuk hukuman yang layak adalah penjahat yang bersangkutan diikat di pohon besar ditengah-tengah Alon-Alon, dan setiap warga yang melintas akan menguliti daging penjahat dan “dikecruti” (dilumuri) jeruk nipis agar lebih sakit. Sadis memang pembicaraan kami itu, tapi pikiran itu muncul karena saking kesalnya terhadap “bajingan tengik”.

Dalam kehidupan nyata, kita menyaksikan beberapa negara menerapkan hukuman mati terhadap penjahat yang melakukan tindakan sangat jahat misalkan melakukan pembunuhan berkali-kali. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat hukuman mati dilakukan dengan menyuntikkan ketubuh terpidana cairan yang membuatnya mati, atau dengan mendudukkan terpidana dikursi yang ada muatan ribuan watt listrik yang disetrumkan keseluruh tubuhnya agar cepat mati.

Selain tindakan pembunuhan yang berencana atau berkali-kali, ada tindakan yang juga memerlukan hukuman yang juga mematikan, yaitu korupsi. Publik sudah lama mendengar kalau di negeri Cina seorang koruptor itu ditembak mati ditengah lapangan. Bahkan dinegeri kita Menteri Polhukam pernah mengatakan bahwa orang yang mengkorupsi dana untuk pemberantasan covid-19 harus dihukum mati karena telah merugikan rakyat.

Saya kebetulan ikut grup WA Ikatan Alumni Universitas Airlangga dan pada musim pandemic Covid-19 ini, kami sering menerima berita para dokter alumni Unair (ada yang junior dan senior saya) gugur dimedan laga dunia kesehatan karena merawat banyak pasien yang terpapar virus mematikan. Ada seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair yang dikenal masyarakat gugur bersama istrinya juga karena covid-19. Berita tentang puluhan dokter yang gugur itu bukan hanya di kalangan Unair, tapi juga alumni berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini. Mereka gugur karena berada di forefront atau garis terdepan pertempuran melawan covid-19 dalam upayanya menyelamatkan masyarakat. Tidak hanya dokter, banyak perawat Rumah Sakit yang juga gugur karena terkena virus covid ini.

Selain kisah para pahlawan dunia kesehatan yang gugur itu, saya juga sering mendapat kabar beberapa sahabat yang terpapar covid-19 dan ada yang meninggal dunia. Kisah mereka juga sangat menyedihkan, bagaimana kronologis nya mereka terkena virus, bagaimana menderitanya ketika mereka di ruang ICU, bagaimana sulitnya mendapatkan ruangan dan ventilator, bagaimana menderitanya istri dan anak-anak nya. Selain itu kabar yang kita terima setiap hari juga menginformasikan bahwa beberapa propinsi/kota/kabupaten sudah menjadi zona merah karena jumlah orang yang terpapar covid terus bertambah.

Sehubungan dengan itu, kita menggeleng-gelengkan kepala ketika ada berita seorang menteri sosial (dan beberapa orang di kementrian sosial) ditangkap KPK karena mengkorupsi dana Bantuan Sosial untuk pemberantasan covid-19. Dalam hal ini KPK menyita uang suap yang jumlahnya milyaran ditempatkan di 7 koper. Tentu kita harus menerapkan prinsip Praduga Tak Bersalah atau Presumption of Innocence terhadap yang bersangkutan. Akan tetapi kalau dugaan itu benar, maka kita bertanya-tanya kok tega-teganya ya seorang menteri yang memiliki beberapa perusahaan, rumah dinas mewah, mobil dinas, sopir dinas, telpun listrik dibayar dinas, kalau tugas kadang dikawal polisi dsb masih mau mengambil dana untuk pemberantasan covid-19. Ketika mencuri uang negara untuk covid-19 itu apa para koruptor itu tidak ada rasa empati pada para dokter yang gugur demi menyelamatkan nyawa orang lain dari covid, apa tidak terenyuh dengan ribuan orang yang terpapar covid-19.

Kalau, kejahatan mengambil uang rakyat untuk pemberantasan corona itu terjadi di masa-masa kecil saya, maka mungkin pembicaraan kami tentang hukuman yang layak bagi koruptor seperti itu ya “diikat dipohon besar ditengah Alon-Alon, dikuliti tubuhnya dan di kecruti/dilumuri jeruk nipis” – Ah, tapi itu bertentangan dengan Pancasila.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini