Penjelasan Tentang Makhluk Mitologi Indonesia yang Sebenarnya Adalah Cryptids

Penjelasan Tentang Makhluk Mitologi Indonesia yang Sebenarnya Adalah Cryptids
info gambar utama

Kekentalan budaya dan unsur magis yang terjadi dan tersebar di Indonesia tak hanya menciptakan sebuah nilai budaya. Di beberapa daerah, unsur tersebut juga turut ‘’menciptakan’’ makhluk mitologi yang bisa jadi sampai sekarang masih ada yang mempercayai akan keberadaannya.

Dalam bahasa Indonesia, perlu dibedakan antara mitos dan mitologi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mitos diartikan sebagai cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang memiliki tafsir dan makna tentang kejadian asal-usul manusia. Atau bisa juga mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Sedangkan mitologi diartikan sebagai ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan. Arti lainnya, mitologi juga diartikan sebagai ilmu yang menjelaskan hal-hal mitos tersebut.

Atau bisa dijabarkan sebagai ilmu tentang keberadaan dewa-dewa dan pahlawan di masa lalu yang memiliki tafsir dan makna tentang kejadian asal-usul manusia.

Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan ilmu sains dan teknologi, beberapa hewan mitologi Indonesia itu bahkan benar-benar dapat dibuktikan keberadaannya alias bukan lagi makhluk mitologi, melainkan makhluk cryptid.

Mari kita bahas soal makhluk cryptid dan ilmu yang mempelajari makhluk tersebut yang disebut cryptozoology atau dalam bahasa Indonesia kriptozoologi.

Penjelasan Tentang Kriptozoologi

Kriptozoologi
info gambar

Kawan GNFI mungkin tahu kisah dan penelitian tentang Bigfoot, Yeti, dan Nessie yang sempat menghebohkan dan menjadi perhatian dunia. Sebagian orang masih tidak mempercayai keberadaan mereka, namun sebagian yang lain berjuang melakukan penelitian tentang keberadaannya bermodalkan saksi mata dan bukti-bukti yang mereka anggap bisa dikaji secara ilmiah.

Hasilnya, di Portland, Amerika Serikat terdapat Cryptozoology Museum yang memamerkan rupa Bigfoot dari hasil penelitian.

Seorang penulis Jeff Glorfeld dari Cosmos Magazine pernah membuat kajian tentang pengertian kriptozoologi dengan judul The Weird World of Cryptozoology. Glorfeld melakukan kurasi tentang pengertian kriptozoologi dari berbagai sumber. Glorfeld menulis ini karena ketertarikannya akan makhluk-makhluk mitos yang semakin ke sini semakin bisa dibuktikan keadaannya secara ilmiah.

Pertama dia mengutip dari National Geographic yang menyebutkan bahwa kriptozoologi adalah studi tentang kehidupan hewan yang tersembunyi. Makhluk atau hewan itu dipercaya ada dalam kehidupan melalui cerita rakyat.

Kedua, Glorfeld mengutip dari laman Livescience yang menjelaskan bahwa kriptozoologi adalah studi tentang cryptid atau istilahnya ‘’hewan yang diduga memang ada’’ seperti Bigfoot dan Nessie. Keberadaan mereka inilah, kata Glorfeld, selalu menggoda keingintahuan dan petualangan bagi siapapun yang ingin menemukan makhluk crytid itu.

Ketiga, pada salah satu serial televisi Animal Planet Discovery Channel juga pernah membahas soal kriptozoologi ini. Glorfeld mengutip pengertiannya bahwa ini adalah ilmu yang sejalan dengan kemajuan sains dan teknologi sehingga tidak semua mahkluk cryptid hanya berada di ranah desas-desus. Yang artinya mereka bisa saja benar adanya.

Museum Kriptoologi
info gambar

Pada 2013, National Geographic pernah mengulas buku tentang kriptozoologi berjudul Abominable Science! Origins of the Yeti, Nessi, and Other Famous Cryptids. Mereka mengulasnya bersama ahli paleontologi bernama Donald Prothero untuk menganalisis sejarah serta petunjuk keberadaan para makhluk yang kerap diartikan sebagai binatang mistis itu.

Dalam ulasannya, Prothero akhirnya menyimpulkan bahwa cryptid adalah, ‘’Hewan apapun yang belum pernah dijelaskan oleh sains dan sesuatu yang melampaui batas dari apa yang masuk akal dijelaskan secara ilmiah.

Tak berselang lama, pada tahun 2015 The Washington Post melaporkan persoalan debat panjang dan kontroversial para ilmuwan. Mereka memperdebatkan soal realitas kehadiran platipus di Australia. Sejak akhir abad ke-18, platipus tidak bisa dipercaya kehadirannya karena mereka hanya ada dalam dongeng rakyat.

Mahkluk yang memiliki paruh besar mirip bebek, namun tubuh, ekor, dan bulunya seperti berang-berang itu tadinya diragukan keberadaannya. Namun pada akhirnya kini seluruh dunia mengakui keberadaannya.

Meski begitu kemisteriusan hewan ini masih terjadi hingga sekarang. The Guardian pernah menulis laporan bahwa studi pemantauan jangka panjang hewan ini masih sangat sedikit sehingga sulit mengukur penurunan populasi. Yayasan Konservasi Australia, World Wide Fund (WWF) Australia, dan Humane Society International Australia akhirnya menominasikan platipus sebagai hewan ‘’antik’’ yang terancam punah.

Bahkan komodo juga pernah dianggap makhluk cryptid. Salah satu hewan purba ini pernah tidak dipercaya keberadaannya hingga akhirnya beberapa penelitian membuktikan bahwa komodo adalah hewan yang bisa diidentifikasi dan dijelaskan secara ilmiah alias makhluk nyata.

Kriptozoologi di Indonesia

Mahkluk Cryptid di Indonesia
info gambar

Di Indonesia sendiri, kriptozoologi belum banyak atau bisa dibilang belum ada ilmuwan yang memberi perhatian secara khusus tentang ilmu ini. Namun muncul seorang bernama Dally Sandradiputra yang menobatkan dirinya sebagai cryptozoologist.

Melalui blog pribadinya dallynfriends-adventure.com Dally membagikan kisah petualangannya ‘’meneliti’’ hutan-hutan di Sumatra untuk membuktikan keberadaan makhluk-makhluk misterius yang selama ini diragukan keberadaannya. Bagi Dally, kesaksikan masyarakat lokal akan keberadaan mahkluk-mahkluk tersebut merupakan modal awal yang tidak bisa diabaikan. Dia mengabdikan dirinya untuk meneliti keberadaan mereka.

Sebut saja mahkluk Orang Gadang—yang juga terkenal sebagai Sumatran Bigfoots—dan Orang Pendek yang pernah mengangkat nama Dally. Salah satu yang terkenal adalah video ekspedisi sekelompok pengendara sepeda motor trail di sebuah wilayah Aceh. Kala itu para pemotor tersebut menangkap gambar sosok makhluk pendek bungkuk mirip manusia yang sedang berjalan memegang tombak.

Keberadaannya mengagetkan kelompoknya karena sosok tersebut dikenal sebagai Orang Pendek atau belakangan terkenal juga sebagai Suku Mante. Video viral tersebut seolah memperkuat hipotesis Dally dkk dengan keberadaan Orang Pendek di tanah Sumatra.

Kepada Vice Indonesia, Dally mengaku bahwa ekspedisi-ekspedisi yang dia lakukan adalah sebuah usaha mendokumentasikan dongeng kriptozoologi asli Sumatra. Dia memang terobsesi membuktikan bahwa laporan tentang penampakan Orang Pendek bukan sekadar dongeng.

Jika Kawan GNFI ingin membaca hasil wawancaranya, bisa klik di sini.

Tak hanya dua makhluk itu. Dari Flores, ada mahkluk legenda yang dikenal sebagai Ebu Gogo. National Geographic Indonesia pernah mengkategorikan bahwa Ebu Gogo adalah makhluk cryptids. Ternyata pernyataan tersebut berdasar atas salah satu penemuan bersejarah.

Yaitu dengan ditemukannya fosil manusia kerdil di Liang Bua, Flores, yang diberi nama Homo floresiensis. Banyak dugaan bahwa Ebu Gogo dan Homo floresiensis adalah makhluk yang sama. Namun, belum ada bukti ilmiah lanjutan yang bisa menjelaskan itu.

GNFI pernah membahas soal ini, Kawan GNFI bisa membacanya pada artikel Menelisik Dugaan Legenda Ebu Gogo yang Merupakan Wujud Homo Floresiensis.

Lalu bagaimana dengan Ahool yang berada di Gunung Salak? Cindaku dari Jambi? Orang Bati dari Pulau Seram? Kawuk dari Nusakambangan? Jika Ebu Gogo saja sudah nyaris dipercaya keberadaannya berkat penemuan Homo floresiensis, maka tidak menutup kemungkinan makhluk-makhluk ini tidak sepenuhnya mahkluk mitologi. Melainkan makhluk cryptids.

Kawan GNFI pernah dengar kisah langsung dari seseorang yang pernah lihat makhluk-makhluk itu?

Ralat: Video yang menunjukkan keberadaan Orang Pendek di Aceh bukan penemuan dan hasil ekspedisi Dally dkk.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini