Sandalwood Pony, Kuda Pacu Sumba yang Melegenda

Sandalwood Pony, Kuda Pacu Sumba yang Melegenda
info gambar utama

Kawan GNFI, jika pernah mengunjungi Pulau Sumba tentu kawan akan melihat kawanan kuda yang dilepasliarkan di sana. Warga setempat menyebut mereka dengan nama kuda Sandel, atau biasa disebut Sandalwood Pony.

Secara genetika, kuda Sandalwood Pony merupakan kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Konon, kuda ini merupakan perpaduan genetika dari keturunan kuda Arab yang disilangkan dengan kuda poni lokal untuk memperbaiki penampilan dan staminanya.

Nama Sandalwood, awalnya dikaitkan dengan kayu cendana (sandalwood tree) yang dulunya tumbuh subur di Pulau Sumba, dan merupakan komoditas ekspor ke pulau-pulau lain di Nusa Tenggara.

Jadi, boleh dibilang Sandalwood Pony merupakan kuda endemik Pulau Sumba, dan menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang yang berwisata ke kawasan tersebut. Sandalwood Pony pun lazim kawan temui di beberapa perbukitan sabana yang bertebaran di Sumba.

Pada masa lampau, Sandalwood Pony awalnya hanya digunakan sebagai alat transportasi. Namun seiring waktu, kuda akhirnya dipakai juga sebagai mahar (belis), sebagai cendera mata untuk urusan adat, seperti perdamaian perang antar suku dan untuk bawaan saat menghadiri upacara penguburan.

Keyakinan lainnya dari masyarakat Sumba adalah, Sandalwood Pony merupakan satu dari empat kuda Sumba yang diyakini sebagai kendaraan para leluhur.

Dalam catatan lain seperti yang ditulis J. de Roo pada 1890 yang termuat dalam laman Kompas.com, kuda ini telah menjadi komoditas perdagangan bangsawan Sumba ke daerah lain di Nusantara sejak 1840 melalui Waingapu (ibu kota Sumba Timur).

Saat ini, perbaikan mutu spesies kuda ini telah menjadi program nasional melalui program murni persilangan terhadap kuda jenis Thoroughbred, untuk meningkatkan kecepatan dan stamina Sandalwood Pony.

Tak besar, tapi tangguh

Kuda Sandalwood Pony
info gambar

Jika bicara soal fisik, Sandalwood Pony memiliki postur pendek ketimbang kuda-kuda ras Australia atau Amerika. Tinggi punggung kuda antara 130-142 cm, dengan sepasang telinga kecil dan mata tajam nan ekspresif.

Karena posturnya itu, kuda ini juga digunakan sebagai kuda tarik, kuda tunggang, dan kuda pacu. Soal lomba pacuan Sandalwood Pony, masih bisa dinikmati di berbagai daerah di Sumba saat upacara Pasola. Pasola adalah upacara perang tradisional yang dilangsungkan saban tahun di pulau eksotis itu.

Ada juga yang menyebut bahwa keistimewaan lain kuda ini terletak pada lehernya yang proporsional dan berotot, surai yang tegas, dada dalam dengan bahu miring, punggung memanjang, serta kaki dan kuku yang kuat.

Selain memiliki stamina dan daya tahan yang istimewa, secara tampilan Sandalwood Pony juga memiliki warna yang bervariasi, yakni hitam, putih, merah, dragem, hitam maid (brownish black), bopong (krem), abu-abu (dawuk), atau juga belang (plongko).

Sandalwood Pony dan daya tarik wisata

Seperti disebutkan di atas, bahwa salah satu para pelancong menyambangi Pulau Sumba adalah ingin melihat kekuatan dan pesona dari durabilitas Sandalwood Pony. Tak heran memang jika kemudian kuda ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Pulau Sumba.

Guna lebih memperkenalkan fauna endemik pulau Sumba, pada Juli 2017 diselenggarakan parade 1001 kuda Sandalwood. Bahkan National Geographic Indonesia menulis bahwa pada itu adalah kali pertama yang diselenggarakan di Sumba, untuk mengetahui keandalan para joki dan kelincahan kudanya. Parade ini juga akan dipadukan dengan Festival Tenun Ikat Sumba.

Bahkan saat mengunjungi parade itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diberi hadiah dua ekor Sandalwood Pony oleh warga Kabupaten Sumba Barat Daya. Jika dirupiahkan, dua kuda itu bisa berbanderol sekira Rp70 juta.

Lazimnya, parade-parade di Pulau Sumba diadakan pada pertengahan tahun, yang waktunya ditentukan oleh tetua adat atas munculnya "naalbukolo" atau bulan purnama.

Gimana, kawan? Tertarik menunggang Sandalwood Pony di tanah Sumba?

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini