Kisah Petani Teh Hitam Terbaik Dunia yang Dibuat ‘’Betah’’ Oleh Belanda

Kisah Petani Teh Hitam Terbaik Dunia yang Dibuat ‘’Betah’’ Oleh Belanda
info gambar utama

Bukan hanya kopi, Indonesia juga punya salah satu komoditas pertanian yang kualitasnya sangat diakuit oleh dunia. Kawan GNFI dari Jambi pasti akan dengan bangga menyebut bahwa Teh Hitam Kayu Aro adalah salah satu teh hitam dari Indonesia yang terkenal akan kualitasnya.

Tak hanya memiliki kualitas teh hitam terbaik dunia, tahukah Kawan GNFI kalau perkebunan teh yang berada di kaki Gunung Kerinci, Sumatra Barat itu merupakan salah satu perkebunan terluas di Indonesia dan tertinggi di dunia.

Berada di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas lebih dari 2.500 hektar, membuat perkebunan teh Kayu Aro berada di peringkat kedua sebagai perkebunan teh tertinggi di dunia setelah Darjeeling Tea Plantation di India, tepatnya di kaki Gunung Himalaya.

Walaupun perkebunan Teh Kayu Aro termasuk Provinsi Jambi, namun jarak tempuhnya akan lebih dekat dari Padang. Dari Jambi ke perkebunan ini perlu waktu sekitar 10 jam dengan perjalanan darat. Salah satu pewarta Kompas.com, Chris Pudjiastuti, pernah membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Kayu Aro.

Sepanjang perjalanan dari Padang menuju Kayu Aro, kita akan melewati beberapa obyek wisata alam. Seperti Danau Kembar dengan gradasi biru kehijauan dengan air yang tenang. Perpaduan pemandangan di sekitar Danau Kembar yang terletak di kaki Gunung Talang itu pun berbeda-beda. Perpaduan kebun sayur-mayur dan pohon-pohon cemara yang menjulang menambah kesan sejuk nan asri.

Tersohornya Teh Hitam Kayu Aro ini sudah dikenal dunia sejak lama. Bahkan dibandingkan di Indonesia sendiri, Teh Hitam Kayu Aro lebih dikenal di Benua Biru. Aromanya yang kuat dan khas membuat Teh Kayu Aro ini sangat digemari para bangsawan dan keluarga kerajaan di Eropa. Salah satunya Ratu Elizabeth dari Inggris, Ratu Wilhemina, Ratu Juliana, hingga Ratu Beatrix dari Belanda dikabarkan sangat menyukai Teh Hitam Kayu Aro.

Dibangun Pertama Kali Oleh Belanda

Perkebunan Teh Pertama Indonesia
info gambar

GNFI pernah menuliskan bahwa berdasarkan catatan PT Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Kayu Aro, perkebunan teh ini sudah dibangun dan dibentuk pada tahun 1920 dan dikelola olah NV Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam.

Awalnya kawasan ini dulunya hanya huta biasa, namun Belanda menyulapnya menjadi hamparan kebun teh. Sudah menjadi kisah lama kalau bangsawan Eropa memang sangat menyukai teh. Sehingga Belanda memanfaatkan lahan ini untuk memperoleh teh berkualitas yang nantinya akan dikirim ke Eropa.

Penanaman teh di Kayu Aro mulai dilakukan pada tahun 1923 dan produksi melalui pabrik sudah dimulai pada tahun 1925. Lalu baru pada tahun 1959, perkebunan Teh Kayu Aro ini bisa dinasionalisasikan dan sepenuhnya dikelola oleh Indonesia.

Hingga kini, bangunan-bangunan pabrik seperti rumah adminstratur dan staf, bangunan klub, sampai rumah sakit peninggalan masa Belanda itu masih ada dan masih difungsikan untuk mengelola setiap kegiatan menanam, panen, klasterisasi kualitas teh, pengemasan, sampai ke penjualan.

Kisah Kelam yang Dibuat Belanda Agar Petani ‘’Betah’’

Saat kunjungannya ke perkebunan Teh Kayu Aro, Chris bertemu dengan Soemardi salah satu petani perkebunan yang meningjakkan kaki pertama kali pada tahun 1950-an. Lelaki asal Jombang, Jawa Timur, itu masih mengingat jelas bagaimana pengalamannya menjadi petani hingga akhirnya malah justru menetap di Jambi.

‘’Saya masih remaja [saat itu]. Di sini bekerja membersihkan tanaman yang mengganggu kebun teh. Saya tinggal di barak dan digaji Rp10, lalu naik Rp25,’’ kenang Soemardi kepada Chris (18/04/2016) yang kini tinggal di Desa Sungai Asam. Lokasinya masih di sekitar perkebunan Teh Kayu Aro.

Lebih lanjut Soemardi menceritakan pada Chris bahwa setiap habis gajian, sang administrator Belanda menganjurkan para karyawan berjudi. Alih-alih ingin melipatgandakan uangnya, yang ada malah gaji mereka ludes di meja judi.

‘’Karena enggak punya uang, kami diberi pinjaman. Begitu terus-menerus, kami harus bekerja karena punya utang. Kami tak pernah punya uang sampai tak lagi punya pikiran mau kembali ke Jawa,’’ kenangnya.

Petani Perkebunan Teh Kayu Aro
info gambar

Saat naik pangkat menjadi mandor, Soedirman pun mengaku bahwa dia harus memukul karyawan-karyawan di bawahnya jika ada pemetik daun teh yang melakukan kesalahan. Tentu saja ini adalah himbauan dari Belanda.

Meski begitu, selain mendapat gaji dan diberi fasilitas berutang karena menurut untuk berjudi, Soemardi juga mengaku dia dan para karyawan lainnya kerap diberi jatah beras, gula, ikan asin, minyak untuk lampu, minyak goring, susu, kacang hijau, kain, dan teh dari pabrik Kayu Aro. Tentu saja bukan teh yang memiliki kualitas yang sama dengan yang akan dikirim ke Belanda.

Di sisi lain, orang Belanda yang dikenang Soemardi memang pintar untuk membuat para karyawannya itu betah di sana. ‘’Kalau mau Lebaran, ada pertunjukan wayang kulit atau wayang orang yang pemainnya. Ya, [mereka] karyawan Kayu Aro.’’

Seiring berjalannya waktu, hingga kepemilikan perkebunan menjadi punya Indonesia, layar tancap masih sering diputar sebagai hiburan bagi karyawan. ‘’Film-film Indonesia yang diputar seperti Ratapan Anak Tiri [diputar] di sini. Banyak juga film penyuluhan pertanian,’’ ungkap Soemardi yang sudah pensiun tahun 1980 itu.

Kini, masa-masa kelam itu sudah terlewati. Kenikmatan Teh Hitam Kayu Aro masih menjadi primadona di Benua Biru. Bahkan teh hitam khas Jambi inilah konon menjadi teh hitam terbaik dunia. Salah satu rahasinya adalah proses pengelolaan daun tehnya yang masih mempertahankan cara konvensional. Serbuk-serbuk tehnya tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan pewarna sediit pun.

Bahkan untuk lebih menjaga kualitas tehnya, pekerja dilarang menggunakan kosmetik ketika mengelola tehnya.

Kawan GNFI ada yang sudah pernah coba Teh Hitam Kayu Aro?

--

Sumber: Good News From Indonesia | Kompas.com | Detik.com | NationalGeographic.grid.id

Catatan: Redaksi telah merevisi keterangan terkait ''perkebunan tertua'' di Indonesia menjadi ''salah satu perkebunan terluas di Indonesia''.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini