Raden Mattaher, Garangnya Singo Kumpeh dalam Mengusir Belanda dari Jambi

Raden Mattaher, Garangnya Singo Kumpeh dalam Mengusir Belanda dari Jambi
info gambar utama

Pemerintah kolonial Belanda menghadapi ujian berat ketika mencoba berkuasa di daerah Jambi pada abad ke-19. Yang paling tersohor adalah ketika bentrok dengan tokoh setempat, Sultan Thaha Syaifuddin.

Sikap keras dan tegas tokoh kelahiran Kraton Tanah itu lantas menjadi tembok penghalang bagi Belanda. Setelah sang sultan wafat pada 1903, Belanda rupanya masih belum mendapakan kesempatan menguasai Jambi.

Alasan Belanda belum bisa menguasai Jambi ialah panglima Sultan Thaha, Raden Mattaher. Tokoh pemimpin itu tetap bergerak meneruskan perjuangan sang pendahulu. Bersama pengikutnya, Raden Mattaher sanggup menjadi batu sandungan di sejumlah pertempuran termasuk ketika berhadapan dengan Marsose atau pasukan anti gerilya Belanda yang tidak kenal ampun pada "pemberontak".

Sejak Kecil Terampil di Banyak Bidang

Raden Muhammad Tahir biasa disebut Pangeran/Raden Mattahir (beberapa sumber Belanda menuliskannya: Mat Tahir) lahir di dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, pada 1871. Ia terlahir dari pasangan Pangeran Kusin dan ibunya yang bernama Ratumas Esa (Ratumas Tija) kelahiran Mentawak Air Hitam Pauh, dahulunya adalah daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato.

Raden Mattaher dalam silsilahnya adalah Raden Mattaher bin Raden Kusin gelar Pangeran Jayoninggrat bin Pangeran Adi bin Raden Mochamad gelar Sultan Mochammad Fachruddin. Raden Mattaher sendiri adalah cucu dari Sultan Thaha Syaifuddin yang merupakan salah satu Pahlawan Nasional. Hubungannya kakek dari Raden Mattaher yang bernama Pangeran Adi adalah saudara kandung dari Sultan Thaha Syaifuddin.

Sejak kecil, Raden Mattaher memilih banyak keahlian dan kegemaran yang membentuk kepribadiannya. Ia dibekali dengan ilmu pencak silat dan ilmu tentang militer yang kelak menjadi bekal penting ketika menjadi panglima perang. Sebagaimana kita ketahui, pada masa itu acap kali orang-orang tertentu memiliki kesaktian. Raden Mattaher kecil pun juga mendalami itu lewat gurunya, yaitu Panglima Rio Depati Tabir, Sampena Gelar Panglima Layang-Layang Mandi Mentawak, dan Panglima Tedung Sungai Tenang Merangin. Saat belajar kesaktian ia tak sendiri melainkan berdua dengan Pangeran Maaji Gelar Pangeran Karto.

Mattaher juga cakap dalam berkesenian. "Beliau aktif berkesenian, mahir menggunakan biola, kecapi dan seruling," ungkap pemerhati sejarah, Ujang Hariadi, dalam film dokumenter sang tokoh yang diproduksi Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau pada 2019. Kepiawaiannya memainkan alat musik biola ini kemudian membuatnya masuk dalam anggota grup orkes Melayu Jambi.

Mengutip dari situs Kemendikbud, sewaktu terjun dalam bergerilya, Raden Mattaher kerap mengajak anak buahnya bernyanyi. Sambil bernyanyi, ia menggesek biola yang dibawanya. Lagu berjudul "Nasib" yang menceritakan tentang nasib mereka hidup dalam hutan belantara jauh dari keluarga pada masa gerilya dinyanyikan bersama untuk memunculkan kegembiraan.

Selain kesenian, Raden Mattaher juga suka olahraga. Ia dikenal jago bermain sepak raga atau sepak takraw, olahraga khas orang Melayu.

Tinggal di kerajaan bercorak Islam, jelas membuat Raden Mattaher mendapatkan pelajaran ilmu agama yang kuat. Ia belajar mengaji pada orang Arab yang tinggal diseberang Pauh dan guru dari Pamenang, Jambi.

Perang yang Melahirkan Singo Kumpeh

Ada berbagai kisah penyerangan terhadap Belanda yang dilakukan pasukan Raden Mattaher, salah satunya ketika menyerang di Sungai Kumpeh.

Perang Kumpeh adalah perang yang berkepanjangan dari tahun 1890-1906. Raden Mattaher terlibat secara langsung dalam perang Kumpeh dengan menyerang Kapal Belanda di tempat tersebut pada 1902.

Pasukan Raden Mattaher dibantu Raden Seman, Raden Pamuk, Raden Perang, kepala kampung yang masih hidup, dari Marosebo Ilir, dan dari Jambi Kecil. Kapal Belanda yang diserang itu adalah kapal perang yang baru datang dari Palembang.

Peristiwa penyerangan kapal itu sukses dengan total tiga lusin orang Belanda tewas dan 3 orang yang selamat yang salah seorangnya bernama Wancik, keluarga Sultan Badaruddin Palembang yang dibuang Belanda ke Ternate. Konon kabarnya Wancik berjasa besar dengan merusak mesin kapal sehingga tidak mampu berjalan. Meskipun tinggal di daerah yang berbeda, Wancik bersimpati dengan perjuangan Jambi. Wancik pun diangkat anak oleh Raden Pamuk. Sementara keberhasilan Raden Mattaher menyerang kapal perang Belanda ini membuatnya diberi gelar sebagai Singo Kumpeh.

Infografik Mattaher.
info gambar

Dari pertempuran Sungai Kumpeh, Raden Mattaher dan Raden Pamuk beserta anak buahnya berangkat ke Muara Bulian demi melakukan penyerangan. Di sana mereka memenggal beberapa orang Belanda, kemudian kepala-kepala mereka itu dilarikan oleh Suku Anak Dalam/Kubu ke dalam hutan.

Malang bagi Raden Pamuk karena ia ditangkap Belanda di daerah Tehok sekarang. Raden Mattaher lantas dianggap Belanda tinggal sendirian saja. Namun, Belanda masih merasa masih tidak sanggup lagi menghadapinya dan justru terus diliputi kekhawatiran. Seperti yang dituliskan dalam Nederlandsch Militair Tijdschrift: "Pangeran Matthir adalah seorang yang keras kepala, tidak mudah ditaklukkan dan seorang lawan yang gesit dan ditakuti."

Tewas di Rumahnya

Dalam literatur lisan secara turun temurun di masyarakat, perjuangan Raden Mattaher berakhir pada 10 September 1907. Ia tewas di rumahnya sendiri di tangan serdadu KNIL kelahiran Passo, Minahasa bernama Kaeng.

Rumah panggung milik Raden Mattaher yang terbuat dari papan dan menjadi tempat gugurnya sang pahlawan, kini masih kokoh berdiri. Tepatnya di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.

Berita mengenai penangkapan Raden Umar di Terusan dan pengepurangan persembunyian pengikut Raden Mattaher. Belanda berhasil menyita senjata serta menahan anak-anak dan wanita.
info gambar
Raden Mattaher memiliki daerah kekuasaan di daerah Maro Sebo dan Pemayong. Pihak Belanda mendengar desas-desus ia akan melarikan diri ke tempat itu. Namun, menurut laporan tentara yang dikirimkan ke sana tidak ada hal yang mencurigakan.
info gambar
Kabar mengenai tewasnya Raden Mattaher dengan saudara laki-lakinya Raden Achmad.
info gambar

Tak jauh dari rumahnya, jejak dari sang pejuang juga ditemukan di sebuah desa di Muaro Jambi. Jari kelingking Raden Mahatter dimakamkan di sana.

Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat saat itu, jari Mahatter putus dalam sebuah pertempuran hebat melawan Belanda di desa tersebut sekitar tahun 1907. Masyarakat dapat mengidentifikasi jari itu adalah milik Singo Kumpeh karena di jarinya terdapat tanda inai atau semacam pemerah kuku.

Lain jarinya, lain pula jasadnya. Setelah wafat, Raden Mattaher dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin, Kota Jambi.

Diganjar Gelar Pahlawan pada 2020

Raden Mattaher sukses membuat repot Belanda yang menjajah Jambi pada awal abad ke-20. Selain penyerangan di Sungai Kumpeh, ia juga bergerak melakukan perlawanan di Sungai Batanghari yang menewakan semua pasukan Belanda, merampas senjata sejumlah karaben dan memporakporandakan bivak Belanda di Pijoan, dan menyerang kilang minyak Belanda di Bayung Lincir yang disusul perampasan 5.000 gulden dan 30.000 ringgit milik perusahaan Belanda.

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah Indonesia menganugerahi Raden Mattaher sebagai pahlawan nasional pada Hari Pahlawan 2020. Sebelum itu, demi mengenang perjuangannya, namanya telah diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi termasuk pula beberapa nama jalan, nama lapangan tembak dan nama yayasan di Kota Jambi.

Presiden Jokowi didampingi Wapres Ma’ruf Amin melihat gambar tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2020, Selasa (10/11), di Istana Negara, Jakarta.
info gambar

Tidak hanya itu, pada momentum tertentu masyarakat juga mengenang Raden Mattaher dengan beragam cara edukasi baik dalam bentuk tulisan, fragmen pementasan maupun film dokumenter. Setiap 10 November yang juga diperingati sebagai Hari Pahlawan, masyarakat dan pemerintah daerah mendatangi makam Raden Mattaher untuk ziarah dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.

---

Referensi: Kemdikbud.go.id | Indonesia.go.id | Het Vaderland | Algemeen Handelsblad

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini