Berencana Pelesir Akhir Tahun? Jangan Lupa Tes Antigen

Berencana Pelesir Akhir Tahun? Jangan Lupa Tes Antigen
info gambar utama

Kawan GNFI, salah satu perencanaan bagi sebagian orang atau mungkin kalian saat ini adalah soal kemana rencana liburan akhir tahun 2020. Tentunya, perencanaan itu harus juga melihat standar protokol kesehatan (prokes) yang dianjurkan pemerintah. Karena jika tidak, bukan tak mungkin pelesiran kita bakal bubar di tengah jalan.

Saat ini, pemerintah berencana mewajibkan para pelesir yang akan ke luar kota saat libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) harus melakukan tes cepat antigen sebagai syarat perjalanan. Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan aturan ini untuk pelancong yang menuju Bali.

Pengguna jalur darat harus tes antigen H-2 sebelum berangkat ke Bali, sementara pengguna pesawat wajib menyertakan hasil tes PCR. Aturan ini baku per 18 Desember 2020 sampai 4 Januari 2021.

Tapi kawan, akibat penerapan aturan ini bakal ada dampak pada bisnis sektor wisata Bali, yang menurut laporan IDN Times bakal berpotensi kehilangan pendapatan Rp967 miliar, termasuk pengembalian tiket penerbangan yang batal (refund Rp317 miliar).

Keharusan tes antigen untuk pelancong ini dilakukan untuk menekan penularan virus Corona yang umumnya melonjak bersamaan libur panjang. Rencana ini sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Pemerintah akan menetapkan syarat perjalanan tes cepat antigen maksimal H-2 keberangkatan bagi warga yang bepergian menggunakan pesawat terbang dan kereta api jarak jauh pada Libur Nataru.

Apa itu tes cepat antigen?

Tes cepat antigen adalah metode pemeriksaan virus Corona dengan mengambil sampel lendir, baik dari dalam hidung dan belakang tenggorokan seperti pada tes usap PCR (Polymerase Chain Reaction).

Tes ini juga diklaim lebih akurat ketimbang antibodi, karena tes antibodi hanya memeriksa antibodi atau respons tubuh terhadap keberadaan virus. Padahal, antibodi tubuh bisa saja baru terbentuk dalam waktu 7-10 hari pasca seseorang terinfeksi.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Adita Irawati menyatakan, rencana soal syarat tes cepat antigen ini tengah dibahas pemerintah dalam rapat koordinasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, dalam Tempo.co mengatakan pemberlakuan tes cepat antigen di daerah lain tengah dipertimbangkan pemerintah. Ia bilang, rencana tersebut sudah dibahas bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Tapi keputusannya belum bisa diambil, karena karena pemerintah masih mempertimbangkan harga tes cepat antigen.

Menurut Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengatakan pada Lokadata bahwa rencana pemerintah menerapkan tes cepat antigen sebagai syarat perjalanan di tengah pandemi Covid-19 patut diapresiasi. Dia juga menyebut jika alat tes tersebut memiliki akurasi yang baik.

Berapa biayanya?

Jika rapid test antibodi dibanderol antara Rp80.000-150.000 ribu, tes cepat antigen bisa 2-4 kali lebih mahal. Dalam Kompas.com disebut sejumlah rumah sakit mematok harga untuk tes ini antara Rp277 ribu hingga Rp700.000. Itu pun tergantung rumah sakit dan lamanya waktu hasil tes keluar.

Di Rumah Sakit Siloam misalnya, tarifnya mencapai:

  • Rp499 ribu, untuk mendapatkan rapid test antigen dan surat hasilnya.
  • Rp699 ribu, untuk mendapatkan rapid test antibodi, konsultasi dokter, dan vitamin.

Lalu di Rumah Sakit Cendana di Kedoya Raya, Jakarta Barat:

  • Rp277 ribu, dengan hasil yang keluar pada H+2.
  • Rp350 ribu, dengan hasil yang keluar pada H+1, dan
  • Rp500 ribu, dengan hasil yang lear langsung pada hari yang sama.

Sementara Omni Hospital Pulomas, Jakarta Timur, mematok biaya rapid test antigen sebesar:

  • Rp575 ribu, yang mencakup tes yang hasilnya keluar pada 1-2 hari kerja,
  • Rp700 ribu, sama dengan layanan di atas plus layanan serologi.

Calon pasien yang ingin melakukan tes tadi, setidaknya berkewajiban membuat janji satu hari sebelum tes.

Nah kawan, dari paparan di atas ada baiknya sebelum merencanakan pelesiran, juga lakukan tes yang tentunya harus mempersiapkan bujet tambahan untuk melakukannnya. Jika dirasa mahal, ada baiknya liburan akhir tahun ini di rumah saja dengan keluarga dan pasangan tercinta.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini