Tradisi Ngerampek Padi Kian Terkikis Zaman

Tradisi Ngerampek Padi Kian Terkikis Zaman
info gambar utama

Tradisi ngerampek atau berampek biasa dilakukan oleh masyarakat pedesaan, seperti di daerah Lombok dan Kediri. Tradisi ngerampek padi telah dikenal sejak zaman nenek moyang dan masih diwariskan hingga kini. Namun, seiring perputaran zaman dan waktu, tradisi ini seolah tersingkirkan dan tak sebanyak di masa lalu karena hadirnya mesin perontok bulir padi.

Dalam bahasa sasak, ngerampek berarti sebuah proses memanen padi secara tradisional, memisahkan bulir padi dari batangnya dengan bantuan alat, berupa papan kayu atau kayu kelapa berbentuk segitiga yang dipadukan dengan bambu. Para amaq (bapak) dan inaq (ibu) perampek atau tukang panen akan memukulkan batang padi dengan peralatan tradisional tersebut. Prosesnya dimulai dari memotong, memilah, dan memukul padi hingga butiran gabahnya terlepas dan menjadi beras bersih.

Bukan hanya pemilik sawah yang menunggu musim panen tiba, tetapi juga para masyarakat lokal yang menjadi perampek. Pemilik sawah akan memberikan lapangan pekerjaan musiman kepada masyarakat sekitar. Selain itu, tercipta makna kebersamaan antara pemilik sawah dengan para perampek.

Ngerampek secara berkelompok | Foto: Murdiah Lombok
info gambar

Umumnya, kegiatan ngerampek dilakukan bersama secara berkelompok. Dalam satu kelompok, terdiri dari empat sampai enam orang. Kelompok tersebut akan melakukan pekerjaan berpindah-pindah sesuai permintaan pemilik sawah selama satu bulan. Kini, kondisi mereka seakan tergantikan oleh teknologi kecepatan mesin.

Pemilik sawah akan memberi upah beras kepada para perampek tergantung jumlah hasil panen ngerampek. Misalnya, kelompok perampek akan mendapat 12 kg dalam setiap 1 kwintal. Kemudian, 12 kilogram beras tersebut akan dibagi rata ke semua anggota kelompok. Hasilnya cukup untuk menjadi simpanan bekal hingga beberapa bulan ke depan.

Biasanya, setiap lahan sawah akan membutuhkan waktu ngerampek selama 2 hari. Ketika hasil panen melimpah, maka upah yang didapatkan akan lebih banyak. Sebaliknya, bila hasil panen berkurang, maka upah yang didapatkan juga sedikit. Bila musim panen tiba, para perampek akan senang karena dapat upah beras yang diterima lebih banyak.

Mesin perontok padi | Foto: Antara
info gambar

Petani yang setia dengan tradisi ngerampek hanya dapat dijumpai di beberapa tempat. Meski peralatan mesin modern membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja daripada ngerampek, tetapi biayanya tidak jauh berbeda.

Meski sekarang tradisinya sudah mulai terkikis, setidaknya tradisi ngerampek pernah sangat terkenal dan dilakukan oleh para petani di masa lalu. Memang, tradisi ngerampek begitu terasa manfaatnya bagi banyak orang. (RIF)

Referensi: Dowe Lombok | Diskominfo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini