Kisah Padang Mangateh, ‘’Savana New Zealand’’ yang Jadi Basis Pertahanan PRRI

Kisah Padang Mangateh, ‘’Savana New Zealand’’ yang Jadi Basis Pertahanan PRRI
info gambar utama

Padang Savana yang terletak di Matamata, North Island-New Zealand itu memang sudah tidak asing di telinga kita. Hamparan padang rumput yang indah dengan berbagai hewan ternak yang dilepas liarkan menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan.

Sebenarnya tak perlu jauh ke New Zealand, Indonesia juga punya hamparan padang rumput layaknya Savana. Tepatnya berada di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Masyarakat setempat kerap menyebutnya dengan Padang Mangateh dan beberapa wisatawan mengenalnya juga dengan Padang Mengatas.

Masa liburan akhir tahun 2020 sudah hampir tiba, Padang Mangateh bisa jadi salah satu alternative Kawan GNFI untuk berlibur sejenak mencuci mata dan bersantai di tempat yang sejuk. Salah satu kawasan yang menjadi bagian dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mangatas ini memang memperbolehkan wisatawan untuk berkunjung.

Padang Mangateh berlokasi di salah satu sudut kaki Pegunungan Sago dan berada di ketinggian 700-900 meter di atas permukaan laut. Inilah yang membuat suhu di Padang Mangateh sangat sejuk. Suhu di Padang Mangateh berkisar antara 18-28 derajat Celcius. Suhu yang tepat untuk hanya sekadar bersantai melepas penat karena lokasinya yang sepi dan jauh dari hiruk piku perkotaan.

Di balik keindahan dan keasrian padang rumput seluas 280 hektar yang menjadi ‘’kandang’’ alami hewan-hewan ternak ini, ternyata ada kisah panjang perjuangan melestarikan Padang Mangateh hingga dijuluki Savana-New-Zealand-nya Indonesia. Padang Mangateh termasuk salah satu padang rumput tertua dan terluas di Indonesia.

Bahkan pemerintah Sumatra Barat pernah mengatakan bahwa Padang Mangateh termasuk warisan terbesar pemerintah kolonial Belanda. Tak hanya itu, Padang Mangateh juga pernah menyandang sebagai padang rumput terbesar se-Asia Tenggara pada masanya dan menjadi perebutan negara-negara di Eropa sebagai tempat kajian penelitian.

Pada perjalanannya, ternyata Padang Mangateh melewati jalan kisah yang tidak mulus. Padang rumput yang luas ini pernah berkali-kali hancur dan berkali-kali pula nyari mati. Begini kisahnya.

Sejarah Padang Mangateh

Usia Padang Mangateh diketahui sudah lebih dari satu abad. Kala itu pemerintah kolonial Belanda yang memulai untuk membangun balai pembibitan ternak di tempat ini, tepatnya pada tahun 1916-an. Jenis hewan ternak yang pertama kali dikembangbiakan adalah kuda. Baru pada tahun 1935, didatangkan sapi-sapi langsung dari Benggala, India.

Pada fase awal kemerdekaan, antara tahun 1945-1949, pengelolaan pengembangbiakan hewan ternak di Padang Mangateh sempat terhenti. Ini karena Belanda yang sudah pergi dari Indonesia dan kondisi negeri ini saat itu juga belum efektif dan sedang berbenah pasca kemerdekaan.

Baru pada tahun 1950 akhirnya oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, lokasi ini kembali dibuka. Mulai tahun 1951, Padang Mangateh menjadi Stasiun Peternakan utama pemerintah dengan nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mangateh. Jenis hewan ternak yang dikembangbiakan pun diperbanyak. Selain sapi dan kuda, ada pula kambing dan ayam.

Itulah sebabnya pada tahun 1955 Padang Mangateh pernah dinobatkan sebagai stasiun peternakan terbesar di Asia Tenggara dan menarik perhatian bangsa Eropa. ‘’Perebutan’’ yang terjadi pada negara-negara Eropa kala itu akhirnya ‘’dimenangkan’’ oleh pemerintah Jerman.

Sayangnya, pengembangan stasiun peternangan di Padang Mangateh itu harus terhenti. Lokasi ITT Padang Mangateh hancur dan rusak berat pada tahun 1958-1961. Kala itu terjadi pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan menggunakan Padang Mangateh sebagai basis pertahanan.

Kala itu terjadi perang antara pemerintah pusat dengan tokoh-tokoh PRRI sehingga merusak Padang Mangateh. Hamparan hijau di lahan ratusan hektar itu hancur. Hewan-hewan ternak tak lagi ditemukan di sini.

Tak mau terpuruk terlalu lama, pada fase tahun 1973-1974, pemerintah Jerman melakukan penelitian di sini. Hingga akhirnya sampai tahun 1978 terbentuk sebuah kesapakatan untuk kerjasama pembangunan stasiun peternakan ini antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jerman. Kala itu proyek yang dilakukan oleh dua negara bernama Agriculture Development Project (ADP).

Tahun 1978 Proyek ADP berakhir dan diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan dibiayai oleh Pemerintah Sumatra Barat dan Pemerintah Pusat. Barulah pada tahun 1985 seluruh pembiayaan diambil alih oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Pertanian Republik Indonesia.

HIngga kini, Padang Mangateh akan tetap dilestarikan. Saking dilindunginya, wisatawan yang ingin berkunjung juga dibatasi kecuali rombongan yang datang untuk penelitian. Itu pun harus memenuhi segala persyaratan yang ada.

Bagi Kawan GNFI yang ingin berkunjung ke Padang Mangateh, kawan harus mendaftarkan diri via laman khusus sebelumnya. Pendaftaran bisa dilakukan melalui https://bptupadangmengatas.com/kunjungan. Jika sudah dan mendapatkan tiket online, maka Kawan GNFI harus mencetak bukti daftar tersebut untuk bisa mengunjungi Padang Mangateh.

Selamat menikmati lautan hijau, Kawan!

--

Sumber: BPTUPadangMangatas.com | NativeIndonesia.com | Indoflashlight.org

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini