Menguak Lukisan Purba di Pulau Tak Berpenghuni di Maluku

Menguak Lukisan Purba di Pulau Tak Berpenghuni di Maluku
info gambar utama

Kawan GNFI, periset dari Australian National University (ANU) Canberra, Australia dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta telah menemukan sebuah pulau kecil tak berpenghuni bernama Kisar di Kepulauan Maluku, sekitar 30 km utara Timor Leste. Pulau itu yang nyatanya belum pernah dieksplorasi oleh para arkeolog itu ternyata sangat kaya akan lukisan gua kuno yang ditaksir berusia 2.500 tahun.

Dalam laman Phys.org, disebutkan bahwa mereka menemukan 28 situs seni batu kapur di Kisar, sebuah pulau yang memiliki luas hanya 81 kilometer persegi itu. Penemuan tak sengaja itu dilakukan pada dua ekspedisi ke Kisar pada tahun 2014 dan 2015, guna mencari tanda-tanda pendudukan manusia awal.

Pada tahun 2015 arkeolog dari ANU dan UGM melakukan survey di pulau tersebut yang kemudian dibuat takjub melihat kekayaan seni lukisan batu prasejarah yang tak sengaja mereka temukan.

Pulau Kisar
info gambar

Lukisan-lukisan yang memanfaatkan pigmen warna merah itu menggambarkan perahu, anjing, kuda, dan orang-orang yang memegang senjata, seperti kapak dan perisai. Pada lukisan lain tampak orang bermain drum yang menunjukkan sebuah prosesi upacara ritual.

Ada juga situs yang menggambarkan cap telapak tangan yang diduga memiliki umur lebih tua dari lukisan figur lain. Mirip seperti yang ditemukan di Misool, Raja Ampat.

Lukisan-lukisan batu itu ditemukan di dinding dan langit-langit batu kapur yang menjulang di pulau yang dekat jaraknya dengan garis pantai. Di sana mereka juga menemukan tanda-tanda bekas kehidupan manusia purba di bawah beberapa batu yang menggantung. Mereka memprediksi, tempat itu dijadikan tempat perlindungan di masa prasejarah.

''Secara arkeologi, belum pernah ada yang menjelajahi pulau kecil ini sebelumnya," kata arkeolog Sue O'Connor, Profesor di ANU, dalam Live Science (26/12/2017). Ia juga menyebut bahwa pulau-pulau di Indonesia merupakan jantung dari perdagangan rempah-rempah sejak ribuan tahun lalu.

O'Connor juga bilang bahwa lukisan-lukisan purba itu sangat mirip dengan mural kuno yang ditemukan di Pulau Timor, yang menunjukkan bahwa ada keterkaitan di antara keduanya.

''Ciri khas seni di kedua pulau ini adalah ukuran manusia dan hewan yang sangat kecil, kebanyakan berukuran kurang dari 10 cm," tambahnya. Secara eksplisit ia menilai, meski ukuran lukisan purba itu kecil, namun tampak sangat dinamis dan mencolok.

Lukisan Purba di Maluku
info gambar

Lukisan, perdagangan, dan budaya

Lukisan batu di lima situs yang ditemukan itu kemudian makalahnya diterbitkan dalam Cambridge Journal of Archaeology. Lukisan-lukisan ini sejatinya membantu para arkeolog untuk menguak kisah sejarah perdagangan dan budaya di kawasan tersebut.

Hubungan antara pulau Kisar dan Timor Lorosa'e boleh jadi bermula pada periode Neolitik 3.500 tahun yang lalu. Periode masuknya pemukim Austronesia (Malaysia, Filipina, Polynesia, dan Fiji) yang memperkenalkan hewan piaraan, seperti anjing, dan mungkin tanaman sereal. Demikian ungkap O'Connor.

Ia percaya bahwa gaya seni mungkin menunjukkan kemunculan elit sosial yang mendapatkan kekayaan dari perdagangan barang-barang mewah, seperti drum perunggu kuno. Drum yang masih dianggap benda berharga sebagai pusaka oleh orang-orang di wilayah itu.

Drum Son Dong
info gambar

Drum perunggu kuno yang dikenal dengan nama drum Son Dong (drum purba asal Vietnam) memang pada zaman lampau diperdagangkan di seluruh Asia Tenggara selama Zaman Perunggu. Secara fisik, permukaan drum Son Dong cukup mencolok dan dihiasi dengan pola Matahari. Pola serupa yangi umum ditemukan pada seni lukis batu di Kisar dan Timor.

Mereka mungkin menunjukkan Matahari sebagai pola pada drum tertentu, yang menandakan identitas kelompok atau suku yang berbeda.

O'connor juga mengatakan bahwa barang-barang mewah zaman perunggu, seperti drum Son Dong, mungkin telah diperdagangkan sebagai alat pertukaran dengan rempah-rempah langka, seperti pala dan cengkeh, yang sebelumnya hanya ditemukan pada pulau-pulau di Indonesia.

''Drum akan menjadi contoh benda logam mewah yang mungkin telah dipertukarkan dengan pemimpin setempat untuk mengamankan hubungan perdagangan.''

Hingga pada akhirnya O'connor mengambil kesimpulan bahwa pada beberapa pulau seperti Timor-Leste dan Kei (dua dari banyak pulau tempat ditemukannya drum Son Dong), menjadi sebuah wilayah yang pada masa purba digunakan dalam upacara-upacara adat nan sakral.

Nah, kawan. Dari paparan di atas jelas selain indah dan memesona, Indonesia memiliki histori sejarah dan peradaban di masa lampau yang tentunya masih banyak yang belum terungkap hingga kini.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini