Kuburan-Kuburan yang Berkisah, Penanda Sejarah dan Budaya Kepulauan Batu

Kuburan-Kuburan yang Berkisah, Penanda Sejarah dan Budaya Kepulauan Batu
info gambar utama

Jika kuburan selalu dimaknai sebagai hal yang mengerikan, sudah pasti informasi akan berhenti sampai di situ saja. Sesungguhnya, banyak hal yang dapat dipelajari dari penampakan sebuah kuburan yang seringkali terlihat seram dan mistis. Ya, tentunya setiap kuburan memiliki latar belakang sejarah dan budaya masing-masing.

Secara fisik, kuburan dapat menggambarkan status sosial seseorang, dari penganut budaya mana ia berasal, di masa apa ia hidup, dan aspek lainnya. Serba-serbi tentang kuburan ternyata juga bisa dilihat di sebuah wilayah kepulauan di ujung barat Sumatra. Bayangkan, sebuah gugusan pulau yang sedikit terisolir karena keterbatasan akses ternyata memiliki kekayaan budaya. Salah satunya ditunjukkan melalui keberadaan kuburan-kuburan yang beraneka ragam.

Kepulauan Batu, Nias Selatan tak hanya dikenal sebagai salah satu surga bagi para peselancar saja, sebagai sebuah wilayah yang dihuni oleh berbagai etnis, sudah pasti akan ada banyak bentuk yang berbeda dari produk-produk budaya. Hal-hal keramat masih sangat mudah dipercayai di sini.

Masih Adanya Kuburan Keramat

Dengan kisah yang terkadang simpang siur karena sudah dikabarkan secara turun-temurun, beberapa kuburan membuktikan bahwa masyarakat Kepulauan Batu masih tetap setia dengan cerita yang dituturkan antargenerasi. Itulah sebabnya hingga kini masih terjaga lokasi-lokasi kuburan lama, yang bahkan masyarakat sendiri pun tidak begitu yakin sejak kapan objek itu ada.

Salah satunya adalah kuburan Telimomi di Pulau Tanahbala yang diyakini kebal senjata dan andal di tengah lautan. Kuburan ini, seperti kuburan-kuburan keramat lainnya hanyalah berupa sepetak kecil gundukan berpasir, yang bahkan terkadang tanpa batu nisan.

Walaupun demikian, legenda yang berkembang di tengah masyarakat menyebabkan tak seorang pun ingin mengusik keberadaan kuburan, hingga akhirnya objek itu tetap aman di tempatnya. Bahkan terkadang, masih mendapatkan kunjungan peziarah yang hendak melepaskan nazar.

Kuburan yang dikeramatkan di Kepulauan Batu terbilang masih cukup banyak. Di antaranya adalah kuburan Rianaya Finoa’a di Pulau Sigata yang diyakini merupakan ibu kandung dari tokoh Telimomi, dan memiliki keahlian mengobati orang, bahkan dari jarak jauh sekalipun.

Selain itu, ada juga kuburan Panglima Batu dan Panglima Bugis di Desa Wawa Pulau Tanahmasa yang dikaitkan dengan kegagalan serangan orang-orang Mentawai di kepulauan ini. Konon katanya, kuburan ini tidak pernah kotor oleh sehelai daun sekalipun meski tak ada yang membersihkannya.

Kubur panglima Batu di Wawa, Pulau Tanahmasa (dok. Balar Sumut)
info gambar

Jejak sejarah kehadiran orang-orang Bugis di kepulauan ini juga sangat penting. Bukti keberadaan orang-orang Bugis di masa lalu bisa diketahui dari adanya lokasi pemakaman Bugis. Menempati sebuah areal di punggungan bukit di Pulau Tello. Kompleks makam Bugis ini dicirikan dengan batu-batu nisan yang dibentuk secara sederhana dari bahan batuan setempat, tetapi tanpa ornamen atau tulisan apapun.

Makam Bugis di Pulau Tello (Dok. Balar Sumut)
info gambar

Ada beberapa variasi bentuk dasar nisan yang teridentifikasi di sini. Namun, semuanya masih dalam kategori sederhana. Walaupun dengan ketiadaan inskripsi tersebut, tetap tidak bisa memastikan kronologi waktu secara tepat. Setidaknya, bisa memperkuat pemahaman mengenai eksistensi orang Bugis di Kepulauan Batu ini.

Mereka sebagai “Raja Lautan” mampu berlayar dan berlabuh menuju pulau-pulau yang jauh dari tempat asalnya, lalu membangun koloni barunya di sini. Hingga saat ini, orang-orang Bugis menjadi salah satu yang sangat disegani di Kepulauan Batu. Kehadiran orang-orang Bugis juga terabadikan melalui beberapa nama pulau di kepulauan ini yang berasal dari bahasa Bugis, di antaranya Tello yang bermakna lautan teduh.

Kuburan Berbagai Etnis

Pada etnis suku Minang,ddi Pulau Tello, terdapat sebuah kuburan yang pada cungkup makamnya tertulis nama Syekh Ismail yang wafat pada 14 Oktober 1931. Walaupun tak banyak cerita tentang tokoh yang dimaksud, karena makam ini terdapat di halaman masjid di Desa Sinauru dengan notabene penduduknya dominan muslim, hampir dapat dipastikan bahwa Syekh Ismail adalah seorang ulama. Sesuai dengan gelar “Syekh” yang diterakan di makamnya.

Makam Syekh Ismail di Sinauru, Pulau Tello (Dok. Balar Sumut)
info gambar

Beralih ke etnis Nias, kuburan-kuburan yang berlatar belakang budaya Nias di Kepulauan Batu ini sangatlah unik. Dilatari oleh kepercayaan lokal sebelum mereka mantap memeluk agama Kristen, orang-orang Nias di Kepulauan Batu memiliki beberapa model kuburan yang berbeda di masa lalu.

Salah satunya adalah cara menangani jenazah dengan meletakkannya dalam keranda kayu, yang dibuat menyerupai wujud suatu makhluk mitologi. Makhluk mitologi Nias itu bernama lasara dan berwujud menyerupai binatang. Keranda berisi jenazah tersebut kemudian diletakkan di tebing-tebing yang curam, di atas susunan batu karang yang tinggi di dalam gua, ataupun di pulau-pulau karang tanpa proses pengebumian.

Secara keseluruhan, keranda kayu berada di atas permukaan tanah. Adakalanya dalam prosesi juga disertakan beberapa benda sebagai bekal kuburnya, seperti perhiasan ataupun keramik-keramik Cina. Cara penguburan seperti ini mengingatkan pada hal serupa di Tanah Toraja.

Di Kepulauan Batu, penguburan menggunakan keranda kayu ini masih cukup banyak terlihat jejaknya di beberapa pulau. Antara lain di Pulau Tello, Biang, Memong, Marit, Hayo, dan Nujakali. Menariknya, selain sisa-sisa keranda kayu, masih dapat dijumpai tengkorak dan tulang-belulang manusia di lokasi kuburan.

kubur keranda kayu (dok. balar sumut)
info gambar

Selain cara di atas, di sebuah desa tua Nias bernama Baruyu Lasara di Pulau Tello, masih dapat ditemukan keberadaan sebuah peti kubur batu atau sarkofagus, yang bentuknya juga mirip dengan keranda kayu yang biasa digunakan. Walaupun hanya ditemukan sebanyak satu buah, tetapi keberadaannya cukup mewakili pemahaman mengenai cara-cara penguburan yang dianut oleh orang-orang Nias di masa lalu.

Sarkofagus, sebelumnya dilengkapi dengan kepala lasara berbahan kayu yang dipasangkan di bagian depannya. Menurut informasi, kepala lasara merupakan bagian dari ornamen rumah adat bergaya Nias Selatan yang dahulu pernah berdiri di Desa Baruyu Lasara.

Sarkofagus di Baruyu Lasara (Dok. Balar Sumut)
info gambar

Di Pulau Balogia, berdiri sebuah objek menyerupai dolmen yang dipercayai sebagai kuburan orang penting di masa lalu. Dolmen adalah jenis bangunan megalitik berupa susunan batu besar yang terdiri dari kaki dan badan, berfungsi sebagai objek pemujaan ataupun kuburan. Masyarakat Pulau Balogia yang seluruhnya adalah orang Nias mengaku hampir tidak pernah mendatangi lokasi dolmen ini, karena menganggapnya angker.

Padahal, lokasinya masih berdekatan dengan permukiman penduduk, tepatnya di puncak sebuah bukit kecil yang berada di tepi laut. Mereka juga tidak banyak mengetahui sejarah keberadaan batu ini selain pemahaman bahwa lokasi ini merupakan sebuah kuburan tua. Walaupun demikian, informasi minim tersebut cukup masuk akal.

Beberapa situs megalitik di Pulau Nias juga menunjukkan adanya tradisi meletakkan tengkorak kepala raja di atas piring keramik asing, kemudian menyisipkannya di bawah bangunan megalitik tertentu. Sebagai masyarakat yang bermigrasi dari Pulau Nias ke Kepulauan Batu, orang-orang Nias di Balogia tentu masih membawa tradisi budaya dari tempat asalnya ke tempat mereka yang baru.

Kubur dolmen di Balogia (Dok. Balar Sumut)
info gambar

Kuburan lainnya yang sangat penting dalam sejarah Kepulauan Batu adalah kuburan Raja Sitipu yang terletak di Desa Koto, Pulau Tanahmasa. Raja Sitipu merupakan raja Pulau Batu di masa pemerintahan kolonial Belanda. Oleh sebab itu Raja Sitipu merupakan tokoh lokal Kepulauan Batu yang cukup dikenal oleh masyarakat.

Pada makamnya, terdapat prasasti yang menjelaskan identitas orang yang dikuburkan dan juga tanggal wafatnya. Pada makam bercat kuning itu tertera nama Raja Sitipu yang merupakan Raja Hulo Batu (Pulau Batu) dan wafat pada 7 januari 1902.

Kuburan Raja Sitipu di Koto, Pulau Tanahmasa
info gambar

Memaknai sebuah kuburan bukan hanya dari mistisnya, tetapi bagaimana kehadirannya mampu berkisah. Narasi di atas menjelaskan dengan gamblang bagaimana kuburan-kuburan di Kepulauan Batu berfungsi sebagai penanda sejarah dan budaya

Tak hanya itu, kuburan di Kepulauan Batu juga dapat memberikan gambaran penting akan tumbuh kembang wilayah ini sejak masa-masa awal hingga masa kini, dan tentunya di masa datang.*

Referensi: Laporan Penelitian Arkeologi di Pulau-pulau Terluar Bagian Barat Sumatera Utara tahun 2013-2016

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini