Museum Karo Lingga, Cermin Kecil Budaya Karo

Museum Karo Lingga, Cermin Kecil Budaya Karo
info gambar utama

Brastagi mungkin cukup akrab bagi sebagian masyarakat baik di Sumatra Utara, maupun nusantara. Bisa dibilang bahwa Brastagi adalah “Puncak-nya” Sumatra Utara. Akhir pekan menjadi momen di mana banyak orang kota (Medan) “merangkak naik”, untuk sekadar menghabiskan waktu di bawah naungan Gunung Sinabung ini. Berkunjung ke Sumatra Utara serasa kurang lengkap tanpa menyempatkan diri menginjakkan kaki di Brastagi.

Namun tahukah Kawan? Bicara tentang Brastagi tak melulu bicara soal hawa sejuk, pemandangan alam yang indah, ataupun erupsi Gunung Sinabungnya saja. Sebagai wilayah budaya etnis Karo, daerah seputaran Brastagi juga kental dengan budaya setempat.

Museum Karo Lingga

Museum akan menjadi salah satu tujuan yang menarik jika ingin lebih jauh mengenal tentang budaya Karo. Museum Karo Lingga yang telah berdiri sejak 6 Juni 1989, menjadi salah satu alternatif untuk lebih mengenal tradisi Karo.

Menariknya, Museum Karo Lingga berlokasi tak jauh dari desa wisata Lingga di mana beberapa bangunan tradisional Karo masih berdiri. Tercatat masih terdapat dua buah rumah adat Karo yang tersisa di sini dan seringkali menjadi spot foto bagi para wisatawan yang datang. Tanpa menarik bayaran sepersen pun dari pengunjung, desa wisata Lingga hanya menempatkan kotak amal yang boleh diisi dengan sumbangan sukarela dari pelancong. Hal yang sama juga berlaku di Museum Karo Lingga.

Berjarak lebih kurang 1 km sebelum memasuki desa wisata Lingga, museum Karo Lingga yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Karo Lingga ini menempati sebuah bangunan bernuansa Karo yang didirikan oleh G.H. Mantik, Pangkowilham Kodam II Bukit Barisan pada tahun 1977. Berbagai benda etnik Karo dan foto-foto bersejarah ada di dalamnya.

Museum Karo Lingga
info gambar

Koleksi-koleksi tersebut sebagian merupakan barang yang diperoleh dari lingkungan Desa Lingga sendiri baik berupa sumbangan ataupun titipan. Namun, sebagian juga diperoleh dari proses jual beli. Di antaranya patung pangulubalang berbahan batu yang menurut informasi dari Anita Karolina Br. Ginting yang bertugas menjaga museum ini dibeli dari seseorang yang mengantarnya secara langsung ke museum.

Patung pangulubalang (kanan) berjajar dengan patung-patung lainnya.
info gambar

Benda-benda koleksi lainnya seluruhnya menggambarkan keseharian orang Karo di masa lalu dengan berbagai peralatan hidup yang masih relatif sederhana. Sebagian besar dibuat dari bahan bambu ataupun kayu, dan juga kuningan serta tanah liat. Di antaranya gerobak pengangkut barang atau hasil panen yang dihela oleh sapi ataupun kuda, serta bajak dan alat-alat pertanian lain yang masih tradisional. Juga alat musik, perlengkapan dapur, senjata, kalender, dan media kesenian tradisional lainnya.

Peralatan rumah tangga
info gambar

Kesenian rakyat Karo, yang dahulunya bersifat mistis, kini medianya juga tersimpan di museum ini, yaitu topeng-topeng besar yang digunakan dalam pertunjukan gundala-gundala. Ada tiga topeng besar yang menggambarkan sosok raja, putri, dan panglima yang terangkai dalam sebuah cerita yang melibatkan wujud burung enggang atau gurda gurdi.

Pertunjukan semacam ini kini mulai langka dipertontonkan kepada masyarakat. Maka dari itu, walaupun topeng-topeng tersebut terpampang di salah satu sudut Museum Karo Lingga ini, tak banyak orang yang mengetahui fungsi dari topeng-topeng tersebut.

Topeng gundala-gundala
info gambar

Duta Budaya Karo

Museum ini sudah cukup lama berdiri. Dari awal pendirian hingga kini, museum ini juga belum banyak mengalami perubahan, baik dari segi bangunan maupun koleksi-koleksinya. Agaknya kondisi seperti ini disebabkan oleh keterbatasan dari aspek finansial karena seluruhnya dikelola secara mandiri.

Walaupun demikian di tengah keterbatasannya sesungguhnya Museum Karo Lingga diharapkan mampu menjadi duta budaya bagi etnis Karo. Bukan hanya mengenalkan kebudayaan Karo kepada orang lain, tetapi lebih penting lagi adalah kepada generasi muda Karo yang mulai melupakan budayanya sendiri karena di masa kini telah bergelimang dengan modernisasi yang berbau teknologi.

Museum ini sesungguhnya telah memiliki pemandu yang cukup handal, yang mampu menjelaskan dengan lancar baik mengenai kesejarahan museum maupun benda-benda koleksinya. Bahkan mungkin juga tentang keberadaan desa wisata Lingga itu sendiri.

Untuk menjadikan Museum Karo Lingga sebagai duta budaya Karo, tentunya butuh sedikit usaha. Konsep yang mungkin bisa ditawarkan adalah menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk melakukan kunjungan rutin ke museum dalam program pembelajaran.

Tentunya, merangkul sanggar-sanggar seni dan budaya setempat sehingga daya tarik kunjungan ke museum dapat mengalami peningkatan. Bagaimanapun museum tanpa pengunjung adalah ibarat gudang yang terkunci. Koleksi museum tak boleh berdiam diri. Koleksi museum harus terus bersuara untuk membuka wawasan masyarakat tentang hal-hal yang mungkin luput dari perhatiannya.

Museum Karo Lingga ibarat sebuah cermin kecil, yang diharapkan mampu menggambarkan bagaimana orang Karo menjalani kehidupannya dalam tradisinya yang kental.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini