LG Sudah Teken MoU, China Sudah Komitmen, Tesla Berpotensi ‘’Ditikung’’ Thailand

LG Sudah Teken MoU, China Sudah Komitmen, Tesla Berpotensi ‘’Ditikung’’ Thailand
info gambar utama

Indonesia memang sedang digandrungi perusahaan-perusahaan besar ‘’pencipta’’ mobil listrik dunia. Apalagi salah satu bahan baku penting dari bagian mobil listrik, yaitu electric vehicle (EV) yang menjadi bahan baterainya, sudah ada di Indonesia, yaitu nikel.

Apalagi nikel Indonesia pernah disebut yang terbaik oleh Elon Musk, Bos Tesla.

Beberapa perusahaan sudah membuat ‘’rumor’’ akan berinvestasi di Indonesia. Apalagi setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia juga sudah memberlakukan pelarangan ekspor komoditas bijih nikel mulai 1 Januari 2020 silam. Ini dilakukan untuk menjaga cadangan dan mempertimbangkan banyaknya smelter nikel yang sudah mulai beroperasi di Indonesia.

Akibatnya, siapapun yang butuh nikel Indonesia untuk keperluan mobil listriknya, maka harus bangun pabrik di Indonesia.

LG Duluan yang Teken Kontrak

LG Chem
info gambar

Dari beberapa perusahaan yang mengincar Indonesia, rupanya LG Energy Solution, anak usaha LG Chem, Korea Selatan, yang menjadi perusahaan pertama yang telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan pemerintah Indonesia. Ini terjadi pada 18 Desember 2020.

MoU ini menyangkut rencana investasi pengembangan baterai kendaraan listrik atau EV. Dilansir Korea Times, pihak LG Energy Solution menyebutkan bahwa MoU ini merupakan perjanjian investasi yang bersifat tidak mengikat.

Dari sumber yang dikutip Korea Times, saat ini LG Energy Solution juga sedang membangun usaha patungan dengan Hyundai Motor. Untuk diketahui, Hyundai Motor memang sedang membangun pabrik kendaraan yang mampu memproduksi hingga 250.000 kendaraan. Termasuk EV di Indonesia dengan rencana komersial pada akhir tahun 2021 mendatang.

LG Energy Solution juga dikabarkan akan membentuk konsorsium dengan empat perusahaan pelat merah yang tergabung dalam Indonesia Battery Holding (IBH). Mereka adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambak Tbk (ANTM), PT Pertamina, dan PT perusahaan Listrik Negara (PLN).

Proyek baterai dengan periode proyek lima tahun ini diperkirakan menelan biaya hingga 10 triliun won atau setara dengan Rp130 triliun. Serangkaian fasilitas bersama memang nantikna akan dibangun untuk menangani proses penambangan nikel, peleburan, pemurnia, precursor bahan elektroda positif, dan produksi sel.

Perusahaan China Sudah Duluan Bentuk Komitmen Investasi

Mobil Listrik China
info gambar

Selain LG Energy Solution, China Contemporary Amperex Technology (CATL) juga akan investasi dengan membangun pabrik baterai di Indonesia. Hanya saja CATL baru menandatangani komitmen investasi senilai 4,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 67,8 triliun untuk pengembangan listrik di Indonesia.

Untuk selanjutnya produsen baterai litium-ion untuk kendaraan listrik asal China tersebut juga akan berinvestasi bersama Huayou Cobalt Co. Ltd. pada proyek bateraik listrik di Indonesia senilai 20 miliar dolar AS.

Sama seperti LG Chem, CATL juga akan berinvestasi pada seluruh proyek baterai listrik dari hulu ke hilir. Mulai dari tambang bijih nikel, proyek smelter, proyek prekursor, proyek sel, modul, stasiun pengisian daya listri, sampai daur ulang. CATL juga kini tengah mendiskusikan terkait dengan kebutuhan insentif dengan kementerian terkait.

Diam-Diam Thailand Bidik Tesla

Tesla
info gambar

Setelah LG Chem dari Korea Selatan, lalu China Contemporary Amperex Technology (CATL) yang tinggal tandata tangan Nota Kesepahaman, kini Indonesia juga sedang menanti kedatangan Tesla, salah satu perusahaan mobil listrik terbesar di dunia. Wacana investasi perusahaan milik Elon Musk itu sebenarnya sudah dirumorkan sejak Oktober 2020 lalu.

Rumor itu bahkan bisa jadi berubah menjadi kenyataan setelah Presiden Joko Widodo yang didampingi Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan, melakukan pembicaraan melalui telepon bersama CEO Tesla, Elon Musk, pada 11 Desember 2020 lalu.

Menyoal tawaran lanjutan Jokowi terkait investasi pabrik baterai dengan bahan utama nikel yang dimiliki Indonesia, Elon Musk semakin ke arah yang positif. Setelah melalui pembicaraan melalui telepon itu, Elon Musk berencana akan mengirimkan timnya ke Indonesia pada Januari 2021 mendatang untuk menjajaki semua peluang kerjasama tersebut.

Sambil menunggu kedatangan tim khusus Elon Musk, rupanya diam-diam Thailand juga membidik Tesla untuk membangun pabrik mobil listrik di negaranya. Hal ini memang cukup mengejutkan di tengah potensi besar Tesla memilih Indonesia sebagai tempat investasi menjanjikan.

Dilaporkan Bangkok Post berjudul EV Trade-in Scheme Being Considered, mengungkapkan bahwa Menteri Perindustrian Thailand, Suriya Jungrungreangkit, menyampaikan bahwa Tesla berencana akan segera bertemu dengan pihaknya untuk membahas investasi kendaraan listrik dan teknologi kendaraan listrik hibrida plug-in di Thailand.

Diketahui Thailand memang memiliki paket kebijakan baru untuk menggaet investasi kendaraan listrik yang selama ini memang menjadi potensi negara-negara di Asia. Salah satu paket kebijakan yang Thailand tawarkan adalah pembebasan pajak selama tiga tahun untuk produsen kendaraan hybrid plug-in dan pembebasan pajak penghasilan maksimum delapan tahun unuk pembuat bahan baku baterai mobil listrik (electric vehicle/EV).

Semua itu bisa didapatkan dengan hak istimewa tambahan jika para mereka erinvestasi dalam Riset dan Pengembangan. Kabarnya, paket kebijakan itu yang ingin Tesla ketahui lebih lanjut selain juga ingin melihat iklim investasi di Thailand.

Itu artinya, Indonesia sudah harus mempersiapkan ‘’rayuan’’ paling maut selanjutnya. Meski memang, bahan baku baterai mobil listrik, yaitu nikel, pernah disebutkan Elon Musk bahwa yang terbaik di dunia ini ada di Indonesia.

Namun, jika sampai tertikung oleh Thailand, maka akan sangat disayangkan bagi Indonesia.

--

Sumber: CNBC Indonesia | Nikel.co.id | Korea Times | Bangkok Post | Bisnis.com |

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini