Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 1)

Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 1)
info gambar utama

Pulau Bawean, merupakan pulau di seberang kota Gresik yang memiliki keindahan pantai yang luar biasa. Jika kita mengenal Karimun Jawa, Gili Trawangan dan pantai-pantai yang ada di Bali. Pantai-pantai di Bawean pun sama indahnya. Ada beberapa pantai yang terkenal terkenal seperti Pantai Selayar, Pantai Jherat Lanjheng, Pantai pasir Putih, Pantai Mayangkara, Pantai Labuan, Pantai Beto Elong, pantai Ga’an, Pantai Ria dan Pantai Cina.

Di antara pantai-pantai tersebut, Pantai Selayar merupakan spot yang cocok untuk pasangan yang sedang dimabuk cinta karena spotnya yang romantis ketika melihat sunset. Pantai Noko Gili atau Pantai Pasir Putih yang membentang memanjakan mata sungguh membuat kami takjub ketika mengitari pantai tersebut. Pantainya tidak terlalu luas dan spot yang indah ini sangat menjanjikan untuk berfoto keren maupun bermain air. Keindahan pulau Bawean juga dapat dilihat di video dari Airwaves Channel seperti berikut ini:

Selayang Pandang Tentang Negeri Para Petualang

Tahun 2017 adalah waktu di mana saya dan Thomas Benmetan menginjakan kaki di Bawean dan hal yang pertama terlintas ketika kami menginjakkan kaki di Pulau ini adalah mengorek cerita selengkap – lengkapnya mengenai pulau ini. Riset – riset awal melalui internet, buku, dan sumber – sumber lainnya tidak cukup memberikan informasi, apabila tidak didengar langsung dari orang asli Bawean itu sendiri. Dengan bantuan supir mobil yang merangkap guide, kami dipertemukan dengan Cuk Sugrito, sejarawan Bawean yang juga merupakan seorang guru di sebuah sekolah.

Kami baru bisa bertemu dengan Pak Cuk, demikian ia akrab disapa, pada hari kedua kunjungan di Bawean. Kesibukan beliau sebagai seorang tenaga pendidik cukup banyak menyita waktu. Malam itu, selepas ba’da isya, kami mendatangi kediamannya yang tidak begitu jauh dari alun – alun Kecamatan Sangkapura. Disambut di kediamannya yang penuh dengan buku – buku, kami diperkenalkan mengenai asal muasal Bawean.

“Bawean itu menarik. Kenapa? Karena letaknya di Gresik, bahasanya Madura, tapi budayanya Melayu,” Pak Cuk pun mengawali ceritanya.

Mengenai nama “Bawean” itu sendiri, terdapat banyak versi cerita. Kitab Negarakertagama pernah menyebutkan bahwa ada sebuah pulau di utara Laut Jawa yang bernama Buwun yang pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk. Sementara itu, Serat Praniti Wakya Jangka Jaya Baya, juga mengisahkan bahwa sebuah pulau bernama Bawean mulai dihuni sejak tahun 8 Saka. Kata Bawean sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti matahari.

Pak Cuk (sumber: Dokumen GNFI)
info gambar

Pak Cuk pun punya ceritanya sendiri. Menurutnya, asal nama Bawean itu adalah dari seorang Raja yang pernah menguasai pulai ini, yaitu Babileono. Raja ini menguasai Pulau Bawean jauh sebelum agama Islam masuk. Pusat kekuasaannya berada di daerah Lebak. “Dari kata Babileono itu menjadi Babhian, akhirnya menjadi Phebien, yang akhirnya diindonesiakan menjadi Bawean,” terang Pak Cuk.

Pak Cuk kembali berkisah bahwa asal muasal Bawean sendiri sangat beragam. Banyak orang memiliki versi mengenai bagaimana mulanya pulau ini terbentuk, hingga siapa penghuni pertama pulau ini. Hal tersebut juga kami akui, sebab berbagai data pustaka yang kami temukan juga memberikan gambaran yang berbeda mengenai sejarah Bawean itu sendiri.

Sejauh ini, salah satu cerita yang paling kuat adalah bahwa Pulau Bawean terbentuk dari sisa – sisa gunung berapi. Hal tersebut ditulis oleh Hoogerwerf (1979) dalam penelitian sejarah yang ia lakukan. Banyaknya gunung yang ada di Bawean bisa membuktikan fakta tersebut, juga sisa – sisa gunung berapi yang bisa ditelusuri dengan keberadaan beberapa pemandian air panas alami serta Danau Kastoba yang terbentuk dari kawah purba sebuah gunung.

Pak Cuk sendiri lebih tertarik untuk membahas mengenai awal mula orang – orang menghuni Pulau Bawean. Bawean dulunya adalah pulau transit yang sering menjadi tempat mengaso para pelaut dari berbagai daerah sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Sering menjadi tempat transit, pulai ini pun mulai ditempati orang.

“Penduduk – penduduk awal di Bawean adalah pedagang dari Kalimantan. Mereka itu sebelum turun ke Jawa pasti istirahat di Bawean. Lama kelamaan, tinggallah mereka di sini,” jelas Pak Cuk.

Kami manggut – manggut tanda setuju. Ya, cerita ini sesuai dengan apa yang kami telusuri pula bahwa selain ada desa yang masyarakatnya masih memiliki kemiripan dengan orang – orang Banjar baik fisik maupun dialek bahasa, sebuah cerita dari sumber yang lain juga menyatakan bahwa hubungan dagang masyarakat Bawean mula – mula adalah dengan daerah Kalimantan.

Melepas kepergian (sumber: Dokumen GNFI)
info gambar

Rupanya, karena asal muasal nenek moyang mereka adalah pendatang, masyarakat Bawean pun memiliki hobi bertualang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat Bawean dikenal sebagai perantau-perantau ulung. Pak Cuk bahkan mengaminkan itu, ditengarai cerita bahwa ia seringkali mendapat undangan untuk melakukan pentas di negara–negara dimana terdapat banyak sekali masyarakat Bawean seperti Singapura dan Malaysia.

Rasa penasaran kami akan asal mula Pulau Bawean akhirnya terselesaikan berkat cerita Pak Cuk. Namun, masih ada kisah – kisah yang mengganjal rasa keingintahuan kami. Salah satunya adalah tentang asal mula aksara Jawa yang konon katanya, berasal dari tanah Bawean.

Malam masih panjang, Pak Cuk pun masih berkenan untuk berbagi.

Sumber Tulisan:

*GNFI

*Adli dan Thomas Benmetan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini