Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 2)

Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 2)
info gambar utama

Cerita dari Pulau Seribu Wali

Pulau Bwean memiliki julukan “Pulau Makan Seribu Wali.” Hal ini dikarenakan masyarakatnya yang dikenal sebagai orang-orang penganut agama islam yang taat. Selain itu, beragam cerita, legenda, mitos, hingga tradisi islam mengakar cukup kuat dalam diri masyarakat Bawean. Bahkan, terasimilasi dalam adat istiadat serta budaya setempat.

Hal ini tentu akan sangat menarik untuk dikupas lebih jauh. Semangat kami makin membara, ditengarai Pak Cuk yang makin mantap bercerita.

Berdasarkan referensi sebuah buku serta konfirmasi cerita dari Pak Cuk inilah, kami menyimpulkan bahwa setidaknya ada tiga petunjuk mengenai awal mula penyebaran Islam di Pulau Bawean. Pertama, sebuah petilasan kuno berangka 1267 di Desa Pekalongan, Kecamatan Tambak yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Jawa. Yang kedua adalah kisah tentang Rombongan keluarga dari negeri Champa yang melakukan perjalanan ke Majapahit dan memulai dakwah islam di tanah Jawa. Dalam cerita ini, Bawean sempat menjadi tempat persinggahan mereka.

Makam penyiar Islam pertama di Bawean (sumber: GNFI)
info gambar

Dua orang dari rombongan tersebut yakni Dewi Candradiwulan (ibu Sunan Ampel) dan pamannya, Sayyid Rafi’uddi meninggal dunia di pulau tersebut. Makam mereka berada di Desa Kumalasa yang kini dikenal dengan nama makam EmbehPotre dan makam JujukChampa.

Sementara itu, kisah yang ketiga adalah bahwa Pulau Bawean pernah menjadi tempat berkumpulnya para Wali untuk melakukan musyawarah. Tepatnya adalah di daerah Beto Kasur. Dalam musyawarah tersebut, salah satu wali, yaitu Sunan Bonang, meninggal dunia.

“Berdasarkan mufakat para wali waktu itu, Sunan Bonang akan dimakamkan di Bawean. Namun, santri – santrinya tidak menyetujui hal tersebut,” tutur Pak Cuk. Mereka berkeinginan untuk membawa jasad Sunan Bonang kembali ke Tuban, tempat beliau melakukan dakwah.

Perbedaan pendapat itu lalu berujung pada satu keputusan: jasad Sunan Bonang tetap dimakamkan di Bawean, sedangkan satu lapis kain kafannya akan diberikan pada para santri untuk dibawa pulang dan dikuburkan di Tuban. “Itulah mengapa hingga sekarang makam di sana (Tuban) lah yang lebih ramai dikunjung. Masyarakat Bawean sendiri percaya bahwa makam beliau (Sunan Bonang) ada di sini,” terang Pak Cuk. Makam tersebut, yang dipercaya merupakan Makam Sunan Bonang berada di daerah Pundakit, yang disebut sebagai Makam Jujuk Tampo.

Dua dasawarsa kemudian, muncullah sosok yang kemudian dikenal sebagai penyebar Islam pertama di tanah Bawean. Ia adalah Sayyid Maulana Umar Mas’ud, cucu dari Sunan Drajat di daerah Paciran, Lamongan. Ayahnya adalah Susunan Mojo Agung. Nama kecilnya adalah Pangeran Parigi, dan ia memiliki seorang saudara bernama Pangeran Sekara.

Sejak kecil, Pangeran Parigi dan Pangeran Sekara telah disekolahkan di Pesantren untuk belajar agama Islam. “Setelah lulus, mereka melakukan dakwah di daerah Madura,” kata Pak Cuk. Di tanah Madura, Pangeran Sekara mendirikan sebuah pesantren di daerah Arosbaya, lalu menikah dan hidup di sana. Sementara itu, Pangeran Farigi melanjutkan jalan dakwahnya ke daerah Bawean. “Dari Madura, Pangeran Farigi ini berangkat ke Bawean lewat laut. Dia naik Lumba – lumba, katanya,” ujar Pak Cuk.

Pada waktu itu, Bawean masih dikuasai oleh Raja Babilalono yang merupakan seorang yang tak beragama. Demi melancarkan penyebaran agam Islam, Pangeran Farigi menantang Raja Babilalono untuk adu kekuatan. “Mereka beradu kekuatan di sebuah jembatan. Di sana, Raja Babilaliono kalah dan akhirnya tewas jatuh ke sungai,” tutur Pak Cuk panjang lebar.

Setelah menguasai Bawean, Pangeran Farigi kemudian medirikan kerajaan Islam yang berpusat di kawasan Desa Sawah Mulya, Sangkapura. Ia kemudian bergelar Sayyid Mualana Umar Mas’ud. Kerajaan Islam di Bawean berkembang semakin pesat hingga Sayyid Maulana Umar Mas’ud wafat pada tahun 1630, lalu dilanjutkan oleh keturunannya yang bernama Raden Ahmad Ilyas.

Kemudian, Kerajaan islam di Bawean mendapat pengaruh dari kekuasaan keraaan Madura, dan berlanjut pada keturunan Umar Mas’ud yang berikutnya yaitu Tjokrokusumo (ke-5), Purbonegoro (ke-8), Sulaiman (ke-9) hingga Ali Mashar yang merupakan keturunan ke-11 dari Sayyid Maulana Umar Mas’ud.

Makam dari tokoh – tokoh tersebut hingga kini masih bisa kita temui di Bawean. Kami sempat mengunjungi dan mendokumentasikan beberapa makam yang ada, pula makam seorang tokoh Islam perempuan yaitu Waliyah Zainab yang dipercaya merupakan salah satu orang terdekat Sunan Giri. Beliau melakukan dakwah di daerah Ponggoh. Salah satu warisannya adalah masyarakat di daerah ini berbicara dalam Bahasa Jawa, tidak seperti daerah – daerah lain yang mayoritas mendapat pengaruh Bahasa Madura.

Sumber:

*Liputan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini