Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 3)

Menyingkap Beragam Hikayat dan Sejarah di Pulau Bawean (Bagian 3)
info gambar utama

Kisah Ajisaka dan Asal Mula Aksara Jawa

Pada hari pertama berada di Bawean, Makam Panjang, yang terletak diantara dua pantai ini menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi. Menyusuri makam panjang dengan dua buah pantai di masing – masing sisinya merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Sangat tepat, sebab kami mengunjunginya ketika matahari menjelang turun ke peraduan.

Namun, bukan hanya sore hari di pantai yang menjadi ketertarikan kami belaka. Sebab di balik keindahan tersebut, ada kisah sejarah yang cukup menarik untuk diketahui. Siapa yang menyangka, bahwa di pulau inilah aksara Bahasa Jawa berasal? Beruntungnya kami, Pak Cuk sedia untuk membagi cerita.

“Semua ini bermula dari kedatangan Ajisaka, seorang pangeran dari Kerajaan Asoka, India. Dia datang untuk menyebarkan agama Hindu di Tanah Jawa,” tutur Pak Cuk. Bawean, yang kala itu bernama Pulau Majedhi menjadi tempat pertama ia memijakkan kaki, sebab Pulau Jawa masih dikuasai oleh Dewata Cengkar. Di Pulau Bawean, Ajisaka bersama dua abdinya, yakni Dhoro dan Sembhada menyusun strategi untuk menguasai tanah Jawa.

Setelah dirasa cukup waktunya, Ajisaka pun bersiap untuk berangkat ke Jawa. Namun, ia hanya membawa Sembhada, sementara Dhoro ditugaskannya untuk tinggal di Bawean dan menjaga pusaka – pusaka milik Ajisaka yang ditinggalkan. “Pesannya, Dhoro jangan memberikan kepada siapapun kecuali diminta oleh Ajisaka,” kata Pak Cuk.

Di Jawa, Pertarungan antara Ajisaka dan Dewata Cengkar berakhir dengan kematian Dewata Cengkar di Laut Selatan. Ajisaka pun menguasai Pulau Jawa.

Pak Cuk menceritakan kisah Ajisaka kepada kami
info gambar

Pertarungan Dhoro dan Sembhada ini cukup sengit, dan berakhir dengan kematian mereka berdua. Segera, Ajisaka pun teringat dengan perintah yang pernah ia sampaikan pada Dhoro tersebut. Bergegas, ia pun kembali ke Bawean.

Di sana, kedua jenazah abdi Ajisaka pun kemudian dimakamkan. Dhoro yang mati dalam keadaan bersimbah darah akhirnya dimakamkan di tempat pertarungan, sementara Sembhada dimakamkan di Gunung Tenggen, cukup jauh dari makam Dhoro. “Kata orang – orang, kalau dimakamkan berdekatan, nanti jiwanya bisa bertengkar,” jelas Pak Cuk.

Lalu, bagaimana munculnya aksara Jawa tersebut? Usut punya usut, Ajisaka ternyata membuat sebuah prasasti berisi huruf

Ha Na Ca Ra Ka

Da Ta Sa Wa La

Pa Dha Ja Ya Nya

Ma Ga Ba Tha Nga.

Prasasti tersebut ia buat untuk mengenang kematian kedua abdinya itu. Selepas membuat prasasti, Ajisaka pun kembali ke tanah asalnya.

Sayang, keberadaan prasasti tersebut sudah tidak bisa ditelusuri lagi. “Pernah ada seorang lurah yang merobohkan prasasti itu dari tempatnya lalu dijadikan bahan dasar untuk membuat pondasi jembatan,” kata Pak Cuk. Mendengar hal tersebut, ada rasa sesal yang selintas muncul. Sebuah bukti sejarah telah hilang keberadaannya, pula dengan kisah – kisah mengenai jejak Ajisaka di tanah Bawean sebagai tempat pertama dan terakhir kali Ajisaka berada di Jawa.

Yang tersisa sekarang hanyalah kedua makam tersebut, makam Dhoro yang disebut dengan nama Jherat Lanjheng dan makam Sembhada di ketinggian Gunung Tenggen. Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat mengunjungi makam Dhoro. Kata Dhoro sendiri berasal dari kata Dhera yang artinya “panjang.” Itulah mengapa makamnya berukuran panjang, sebab ia tewas dengan meninggalkan tetesan pertumparan darah yang cukup panjang.

Makam Panjang yang berada di Bawean
info gambar

Sore itu ketika kami berada di Makam Panjang, Pak Haris, supir kami menawarkan kami untuk mencoba menghitung jumlah langkah kaki untuk mengukur panjang makam ini dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya. Penasaran, kami pun melakukan hal tersebut. Alhasil, jumlah langkah kaki dari satu sisi ke sisi yang lain tidaklah sama bila dihitung sebaliknya. Kami pun kaget, padahal langkah kaki kami telah diusahakan persis seperti langkah sebelumnya.

Ternyata, disitulah letak keunikan makam panjang ini. Selain pemandangan sore hari yang sangat indah, di makam ini juga terdapat pohon tua yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Konon, pohon inilah yang menjadi penjaga makam tersebut.

Keingintahuan kami mengenai jejak Ajisaka dan Aksara Jawa berakhir lewat cerita Pak Cuk. Tidak ada lagi yang bisa kami telusuri selain makam para abdi, sebab bukti fisik dari prasasti tersebut sudahlah lenyap.

--------------------------

Artikel ini kami dedikasikan kepada Pak Cuk yang pada tahun 2017 telah menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Dalam sesi wawancara, beliau sempat bertutur tentang dalam kondisi bagaimana beliau ingin meninggal, yakni di atas meja tempatnya mengajar. Beberapa bulan setelah liputan kami tentang Bawean selesai dan kami kembali ke aktivitas kami biasanya, secara mengejutkan sebuah pesan masuk ke handphone dari guide kami yang isinya adalah berita bahwa Pak Cuk telah meninggal dengan damai di meja tempat beliau mengajar. Persis seperti yang beliau inginkan.

Ada pesan mendalam bagi kami ketika menjalani liputan ini, karena sejarawan atau saksi sejarah seperti Pak Cuk sulit ditemukan. Terimakasih atas kepada semua pihak yang telah membantu dalam liputan ini, terutama Pak Haris yang selalu antusias mengantar kami bertemu dengan saksi sejarah.

*Penulis: Thomas Benmetan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini