Tentang Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia, Jakarta Tertinggi dan Siapa Terendah?

Tentang Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia, Jakarta Tertinggi dan Siapa Terendah?
info gambar utama

Sebagai negara berkembang, salah satu sektor yang menjadi salah satu sorotan bagi negeri ini adalah terkait Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusianya. Dalam hal ini masyarakat atau penduduk negeri tersebut.

IPM pertama kali diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). IPM nantinya akan memperlihatkan bagaimana penduduk suatu negara dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Bagi Indonesia sendiri, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU). Dengan begitu, indeks ini juga nantinya akan menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah maupun negara.

Dalam skala wilayah, yang bertugas untuk menghitung IPM adalah Badan Pusat Statistik (BPS) yang dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Lalu bagaimana IPM wilayah-wilayah di Indonesia? Wilayah mana yang mendapatkan angka indeks tertinggi dan terbaik? Bagaimana pula posisi Indonesia di mata dunia tentang pembangunan manusianya?

GNFI telah merangkumnya berdasarkan data BPS tahun 2020 dan laporan HDR tahun 2020.

Jakarta Jadi Kota dengan Indeks Tertinggi

Secara nasional, Indonesia berhasil meraih angka IPM 71,94 yang termasuk dalam kategori tinggi. Meski begitu, ada satu wilayah yang mendapatkan angka IPM melampaui angka IPM secara nasional. Yaitu Provinsi DKI Jakarta yang mampu meraih angka IPM 80,77 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi.

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2020
info gambar

Di tengah pandemi Covid-19 yang hampir melumpuhkan seluruh kegiatan masyarakat, apalagi sebagai jantung perekonomian nasional, DKI Jakarta dinilai masih mampu untuk terus mengusahakan melakukan pembenahan atas visi dan kebijakan pembangunan yang pernah disampaikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2017-2022.

‘’Pertama, kami lakukan perencanaan ruang berbasis neighbourhood (lingkungan terdekat, sekitar) di mana semua kebutuhan warga harus bisa terpenuhi tanpa perlu menempuh jarak jauh. Kemudian menyiapkan fasilitas dan layanan dasar kota yang berketahanan. Yang ketiga, peningkatan infrastruktur digital sebagai backbone (tulang punggung) dari tata kelola pemerintahan modern yang berbasis data.’’

Beriktunya adalah integrasi data kependudukan untuk menghasilkan intervensi sosial yang tepat. Serta reformasi ekonomi dengan mendorong industri berbasis pengalaman dan nilai tambah,’’ jelas Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam keterangan tertulisnya dikutip BeritaJakarta.id (28/12/2020).

Diketahui DKI Jakarta adalah satu-satunya wilayah yang mampu masuk kategori sangat tinggi dalam IPM. Setelah DKI Jakarta, di posisi kedua diduduki oleh DI Jakarta dengan angka indeks 79,97, lalu Kalimantan TImur dengan angka indeks 76,24.

Posisi keempat dan kelima berturut-turut diduduki oleh Kepulauan Riau dengan angka indeks 75,59 dan Bali dengan angka indeks 75,50. Empat wilayah setelah DKI Jakarta ini masih masuk dalam kategori ‘’tinggi’’.

Tidak Ada Wilayah dengan Indeks Kategori Rendah di Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia 2020
info gambar

Dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, diketahui bahwa Provinsi Papua mendapatkan angka IPM terendah di Indonesia dengan perolehan 60,44. Meski begitu Papua masih masuk dalam kategori ‘’sedang’’. Dan tidak ada wilayah yang masuk dalam kategori ‘’rendah’’ di Indonesia.

Selain Papua, terdapat 10 wilayah atau provinsi lain yang masih memiliki angka IPM yang dikategorikan ‘’sedang’’. Jika diurutkan dari yang paling rendah, setelah Papua, ada Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, Gorontalo, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Lampung.

Bagaimana Posisi IPM Indonesia di Mata Dunia dan Asia Tenggara?

Dari perolehan angka indeks IPM 71,94 secara nasional, Indonesia sebenarnya hanya mengalami kenaikan yang sangat tipis, yaitu hanya nai 0,02 poin dari perolehan angka indeks tahun 2019 yang berada di 70,92. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan akibat pandemi Covid-19.

Diketahui pengeluaran per kapita Indonesia turun dari Rp11,30 juta pada tahun 2019 menjadi Rp11,01 juta pada tahun 2020. Meski begitu, kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat Indonesia disebut BPS mengalami peningkatan.

Selama satu dekade terakhir, tren angka IPM Indonesia terus mengalami peningkatan dan sejak tahun 2016 angka IPM yang diperoleh oleh Indonesia sudah masuk dalam kategori ‘’tinggi’’.

Pada tahun 2020 ini, sesuai dengan laporan United Nation Development Programme (UNDP), dengan menggunakan indikator penilaian yang sama seperti BPS, hasilnya Indonesia menduduki peringkat ke 107 dari 189 negara yang negaranya dianalisis oleh UNDP. Angka indeks yang diperoleh Indonesia adalah 0.718.

Sedangkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat kelima. Urutan pertama diduduki oleh Singapura dengan angka indeks 0.938 (peringkat ke-11 dunia), lalu Brunei Darussalam dengan angka indeks 0.838 (peringkat ke-47 dunia), Malaysia dengan angka indeks 0.810 (peringkat ke-62 dunia), dan Thailand dengan angka indeks 0.777 (peringkat ke-79 dunia).

Baca: Indikator Baru Human Develompent Report Untuk Selamatkan Planet. Di Mana Posisi Indonesia?

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini