Berembus Kabar Lagi, Traveloka Berpeluang Jadi Startup Pertama yang Melantai di Bursa

Berembus Kabar Lagi, Traveloka Berpeluang Jadi Startup Pertama yang Melantai di Bursa
info gambar utama

Setelah penantian penuh harap Tokopedia untuk segera melantai di bursa, kini pasar modal Indonesia kembali diembuskan kabar bahwa salah satu perusahaan rintisan online travel agency (OTA) Indonesia, Traveloka, akan segera melantai di bursa pada tahun 2021 mendatang.

Kabar ini kembali terdengar setelah kabar pertamanya pada April 2019 silam yang disebutkan Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa Traveloka bisa jadi salah satu unicorn pertama Indonesia yang melantai di bursa. Bahkan pembahasan soal melantai di bursa sudah menjadi perbincangan Traveloka sejak tahun 2018.

‘’Kami masih mengeksplorasi, tetapi dalam jangka pendek tidak ada program atau rencana untuk segera merilis saham kami ke publik,’’ ungkap Public Relation Director Traveloka, Sufintri Rahayu, dalam keterangan resminya dilansir KrAsia (16/4/2019).

Namun, kala itu Traveloka cenderung memperlihatkan sikap hati-hati dalam mengungkapkan rencana tersebut ke publik. Lalu, apakah kabar yang beredar pada tahun 2020 ini memang menunjukkan arah positif Traveloka untuk melantai di bursa?

Traveloka Punya Dua Opsi Untuk Go Public

Startup Indonesia IPO
info gambar

Diwartakan oleh Reuters, salah satu startup OTA terbesar di Asia Tenggara itu sedang mengkaji beberapa pilihan untuk mencatatkan saham di bursa. Salah satunya adalah dengan menggunakan opsi dengan perusahaan Special Purpose Acquisition Company (SPAC). Cara ini merupakan jalan yang sama seperti yang ditempuh oleh Tokopedia.

Baca: Menanti Penuh Harap, Menelusuri Kembali Perjalanan Tokopedia Menuju IPO

Untuk diketahui, SPAC memang identik dengan perusahaan ‘’cangkang’’ yang menggunakan dana hasil melantai di bursa untuk mencaplok—atau merger—perusahaan lain. Perusahaan ‘’cangkang’’ tersebut memang kerap menargetkan perusahaan rintisan di sektor dengan pertumbuhan tinggi.

Selain itu, opsi SPAC juga dinilai dapat melakukan tawar menawar antar dua perusahaan dengan proses yang lebih cepat. Bagi perusahaan rintisan yang akan bergabung juga menilai bahwa opsi SPAC memakan biaya lebih rendah ke pasar modal dibandingkan dengan cara initial public offering (IPO).

‘’SPAC adalah salah satu opsi yang kami evaluasi karena kami telah didekati oleh beberapa pihak,’’ kata Presiden Traveloka, Henry Hendrawan, dikutip Reuters (21/12/2020).

Opsi lain selain melalui SPAC, tentu saja jalan IPO. Apapun jalan yang akan ditempuh oleh Traveloka, diketahui bahwa unicorn asli Indonesia ini mengincar valuasi hingga 5-6 miliar dolar AS. Meski begitu, belum ada keterangan resmi terkait incaran valuasi ini. Pihak Traveloka, diwartakan Reuters, menolak berkomentar.

‘’Meskipun kami tidak dapat memberi informasi terperinci terkait dengan rencana kami untuk go public, kami masih berharap dapat mencapai break even point (BEP dan berpotensi menjadi profitable pada 2021,’’ ungkap Henry dikutip Bisnis.com (22/12/2020).

Henry pun menyampaikan optimisnya bahwa perusahaannya ini akan mencapai BEP dalam jangka waktu dekat ini. Paling cepat bisa terjadi di awal 2021 nanti. Itu pun jika industri pariwisata dan perjalanan bisa kembali pulih setidaknya 50 persen dibandingkan saat pandemi Covid-19 melanda.

Baca: Mencoba Bangkit dari Pandemi, Traveloka Berhasil Kumpulkan Dana 250 Juta Dolar AS

Jika IPO yang diambil, maka sebenarnya Henry sendiri pernah mengatakan tentang hal ini pada 2019 lalu. Dia mengatakan Traveloka berencana menjalankan dual listing atau mencatatkan saham di dua bursa saham. Pertama di Jakarta. Kedua bursa di negara lain dan yang paling potensial adalah di Amerika Serikat.

Guna mendorong para unicorn untuk IPO, BEI sebenarnya sudah melakukan upaya untuk melonggarkan Peraturan I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat. Beleid ini bahkan sudah direvisi sejak akhir tahun 2018 silam.

Beberapa poin yang sudah direvisi dalam aturan tersebut, antara lain syarat net tangible asset (NTA) dengan minimal Rp5 miliar di papan pengembangan, laba usaha minimal Rp1 miliar, dan nilai kapitalisasi pasar minimal Rp100 miliar.

Agresifnya Sepak Terjang Traveloka di Asia Tenggara

Traveloka Terbesar di Asia Tenggara
info gambar

Ya, perjalanan Traveloka sebagai perusahaan OTA terbesar di Asia Tenggara pernah dibilang agresif. Hal ini tercatut pada hasil riset Google dan Temasek bertajuk e-Conomy SouthEast Asia 2018. Dalam laporan riset tersebut, Traveloka disebut memiliki kontribusi yang besar terhadap nilai pasar travel daring di Indonesia, Thailand dan Vietnam.

‘’Traveloka memiliki peranan penting dalam bisnis travel online domestik lantaran membuat nilai pasar travel online di Indonesia tumbuh paling kencang ketimbang tetangganya, yakni tumbuh 20 persen,’’ sebut riset tersebut dalam laporannya.

Google dan Temasek juga melihat bahwa memang bisnis travel daring akan menjadi bisnis terbesar dan paling mapan dalam ekonomi digital di Asia Tenggara. Meski begitu, bukan berarti Traveloka tidak punya penantang.

Pemain bisnis OTA sesama dalam negeri seperti Tiket.com, lalu pemain-pemain besar yang sudah ekspansi seperti Agoda dan Expedia dari Amerika Serikat, tentu tak akan tinggal diam untuk merambah pasar di Asia Tenggara.

Meski begitu, hingga tahun 2019, Traveloka masih menjadi perusahaan bisnis travel online yang memegang peranan penting dalam mengembangkan ekosistem travel online di Asia Tenggara. Apalagi pasar domestik yang dirambah oleh Traveloka juga—baik itu di Indonesia maupun negara-negara ekspansinya—yang membuat Traveloka jauh lebih unggul.

--

Sumber: e-Conomy SouthEast Asia 2018, Google dan Temasek | Reuters.com | KrAsia | WartaEkonomi.co.id | CNBCIndonesia.com | Bisnis.com | CNNIndonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini