Pandemi dan Abad Asia yang Datang Lebih Cepat

Pandemi dan Abad Asia yang Datang Lebih Cepat
info gambar utama

Sejarah baru akan tercipta tak lama lagi, di mana era dominasi Barat akan berakhir. Kebangkitan Asia dalam urusan dunia dan ekonomi global, yang terjadi sebelum munculnya Covid-19, akan dikokohkan dalam tatanan dunia baru pasca krisis. Penghormatan kepada masyarakat Barat, yang merupakan norma pada abad ke-19 dan ke-20, akan digantikan oleh rasa hormat dan kekaguman yang semakin meningkat terhadap orang-orang Asia Timur. Ungkapan itu telah beredar selama beberapa waktu, tetapi pandemi bisa menandai awal sejati abad Asia.

Pandemi ini menunjukkan kepada kita perbedaan mencolok antara responyang kompeten dari pemerintah negara-negara Asia Timur (terutama China, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan) dan respon dari negara-negara barat (seperti Amerika, Inggris, Prancis dan Spanyol). Hal ini tidak hanya mencerminkan kemampuan medis negara-negara Asia yang kini sangat baik, tetapi juga kualitas tata kelola dan kepercayaan budaya masyarakat mereka.

Saat Inggris kembali digembur Covid19, kali ini varian baru, Amerika belum juga pulih dari luka besar pandemi, negara-negara Asia mulai memberikan contoh bagaimana harus bertindak. Di Korea Selatan, pemerintahnya meluncurkan tempat test Covid19 di gerai-gerai 'walk-in' yang tersebar di seluruh penjuru negeri, juga menggunakan kartu kredit dan data lokasi ponsel untuk melacak pergerakan orang yang terinfeksi, sebuah strategi yang yang gagal dilakukan oleh pemerintah Inggris meski sudah berusaha berbulan-bulan berusaha.

Negara-negara Asia lain seperti Taiwan, Singapura, dan Vietnam dengan gerak cepat melakukan tindakan-tindakan taktis untuk menekan penyebaran virus. Bahkan China yang menjadi ‘awal’ dari pandemic Covid19 sudah berhasil menekan penyebarannya dan mulai membuka kembali ekonominya.

Korsel, kisah sukses mengatasi Covid19 | Al Jazeera
info gambar

Pankaj Mishra, dalam esainya berjudul ‘Flailing States” yang dimuat di London Review of Books menyatakan bahwa “Covid-19 telah membuka mata kita tentang kelemahan negara-negara besar dunia, seperti yang terjadi di AS dan Inggir. Di sisi lain, Mishra juga menulis bahwa pandemi ini juga menunjukkan bahwa negara-negara dengan kapasitas negara (state capacity) yang kuat jauh lebih berhasil dalam membendung penyebaran virus dan terlihat lebih siap untuk mengatasi dampak sosial dan ekonomi (akibat pandemi).”

Edward Luce dari Financial Times dalam tulisannya yang menarik berjudul “The humbling of the Anglo-American world”, menyatakan bahwa kurangnya kapasitas (negara-negara besar dalam menangani pandemi) ini, adalah akibat dari terlalu percaya dirinya mereka dalam menangani sebuah krisis.

Sejak akhir abad ke-20, kita memasuki “Abad Amerika”, dan AS mendapatkan posisi itu setelah melewati berbagai guncangan besar di dunia, termasuk di dalamnya adalah Perang Dunia I dan II. Banyak yang mulai berpikir, bahwa guncangan kali ini (Covid19), menjadi penanda munculnya abad baru, Abad Asia. Hal ini disadari betul oleh para pengambil kebijakan di barat, terutama di AS, yang kemudian melakukan apa saja untuk membuat mereka tetap di atas, dan tidak kehilangan mahkotanya. Hal ini memicu rivalitas dengan China, negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Untungnya, China seolah tak ingin ‘membalas’nya secara frontal. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan bahwa rivalitas seperti ini tak diperlukan oleh siapapun. “Dunia tidak boleh dilihat dalam pemikiran biner, dan perbedaan dalam sistem tidak boleh mengarah pada zero-sum game”. Wang Yi kemudian mengatakan sesuatu yang penting, yang menjadi sikap negerinya “China tidak akan, dan tidak bisa, menjadi Amerika”. “China will not, and cannot, be another U.S.”

Pandemi ini juga akan mempercepat dua tren yang sedang berlangsung: pembentukan tatanan global multipolar, dunia yang tak lagi didominasi oleh AS dan sekutunya.

Jauh sebelum pandemic, tepatnya tahun 2014, Presiden China Xi Jinping, pada pertemuan para pemimpin Asia di Shanghai, mengatakan, “Merupakan tugas rakyat Asia untuk menangani urusan mereka sendiri, untuk menyelesaikan masalah Asia dan memastikan keamanan Asia.” Selama beberapa dekade Asia telah membuat langkah besar dalam menciptakan sistem Asia yang terlepas dari formalisme dan legalisme Barat. Dan Covid19 mempercepat langkah ini.

Perlu kita pahami, bahwa abstraksi teoretis Barat menggambarkan Asia seolah seperti kereta api dengan China sebagai lokomotifnya yang kuat. Bagi barat, China dianggap sebagai satu-satunya ‘kutub’ di Asia. Pada kenyataannya Asia memiliki akar multipolar dan multi-peradaban yang sangat dalam dan tahu bagaimana mengelola "ketidakteraturan". Saat ini, akar-akar ini kembali ke permukaan dan hari ini bercampur dengan unsur-unsur yang diimpor dari Barat: kedaulatan negara dan batas-batas yang cair; indentitas budaya dan agama dengan identitas multi-etnis; konsumerisme dan materialisme dengan ikatan kekerabatan yang kuat, dan lainnya. Khas Asia.

Selama dua abad terakhir, barat selalu beranggapan bahwa negara-negara di Asia takkan bisa akur dengan negara tetangganya. Tanpa disadari banyak orang barat, orang Asia mulai menemukan kembali dan mengenal satu sama lain dengan lebih baik, saling mempelajari dan menyukai budaya-budaya Asia, saling berkunjung untuk berwisata atau sekedar bertemu dengan kenalan di sosial media, dan pertukaran pelajar.

TRT, kekuatan media Asia | TRT World
info gambar

Dengan media regional seperti TRT (Turki), Al Jazeera (Qatar) atau CCTV (China), ataupun Channel NewsAsia (Singapura) anak muda Asia menjadi lebih nyaman dalam hubungan mereka dengan rekan-rekan mereka di wilayah tersebut dan terutama dengan "Asianness" mereka. Musik dan sinema Korea dan showbiz India sekarang menjadi kebanggaan global Asia. Seiring waktu, persepsi akan berubah, kepentingan akan sejalan, kebijakan akan berubah dan koordinasi sistem Asia akan menjadi lebih terstruktur. Orang Asia yang berpandangan jauh ke depan menafsirkan kembalinya mereka ke ruang kendali sejarah sebagai takdir alami, siklus baru, tetapi belum pernah terjadi sebelumnya, dalam tatanan dunia.

Pandemi juga dipercaya akan mempercepat boomingnya perdagangan intra-Asia, yang sebenarnya sudah mulai berlangsung. Menurut The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), pada 2018, perdagangan intra-Asia tumbuh hingga 60 % di hampir semua negara Asia. Hal ini akan mempercepat integrasi ecosystem ekonomi Asia, dan menjadi titik kunci dalam menegaskan kembali dunia yang kini multipolar.

Dengan beradaptasi dengan digitalisasi perdagangan dan logistik dan berinteraksi lebih banyak di tingkat regional, ekonomi Asia masih dapat melakukan lebih baik daripada di seluruh dunia. Dalam perlambatan ekonomi global saat ini, sebagian besar Asia diperkirakan masih akan mencatat tingkat pertumbuhan positif, bahkan pada tahun 2020, yang meskipun secara signifikan lebih rendah daripada perhitungan sebelum COVID, akan jauh lebih tinggi daripada ekonomi negara-negara barat.

IMF memperkirakan bahwa China akan tumbuh sekitar satu persen pada tahun 2020 dan delapan persen pada tahun 2021. Vietnam, yang sangat terintegrasi dengan ekonomi China dan ASEAN, adalah kandidat untuk menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, dengan ambisi besarnya untuk meningkatkan PDB 5% di tahun 2020. Vietnam adalah contoh luar biasa dari dunia yang menanti kita: sebuah dunia dengan derajat dan tingkat integrasi yang berbeda, jauh dari ideologi abad ke-20, dengan peran yang menentukan bagi Asia dan negara-negara ‘aktor’nya.

Tahun 2021 ini, akan ada pergeseran global yang menarik untuk kita nantikan. Selamat tahun baru

===

Referensi:

“Kishore Mahbubani Says This Is the Dawn of the Asian Century.” The Economist, The Economist Newspaper, www.economist.com/the-world-ahead/2020/11/17/kishore-mahbubani-says-this-is-the-dawn-of-the-asian-century.

Luce, Edward. “The Humbling of the Anglo-American World (AFR 12.7.20).” Pearls and Irritations, 15 July 2020, johnmenadue.com/the-humbling-of-the-anglo-american-world-afr-12-7-20/.

Mishra, Pankaj. “Pankaj Mishra · Flailing States: Anglo-America Loses Its Grip · LRB 16 July 2020.” London Review of Books, London Review of Books, 13 Nov. 2020, www.lrb.co.uk/the-paper/v42/n14/pankaj-mishra/flailing-states.

Tharoor, Ishaan. “Analysis | The Pandemic and the Dawn of an 'Asian Century'.” The Washington Post, WP Company, 10 July 2020, www.washingtonpost.com/world/2020/07/10/pandemic-dawn-an-asian-century/.

The Asian Century Is Drawing Ever Closer, www.eni.com/en-IT/global-energy-scenarios/asian-century-drawing-closer.html.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini