Moorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Fitur Tertinggi Autopilot Mobil Tesla

Moorissa Tjokro, Wanita Indonesia di Balik Fitur Tertinggi Autopilot Mobil Tesla
info gambar utama

Bicara soal mobil listrik, nama Tesla selalu menjadi merek yang paling tersohor di dunia ini. Bukan hanya pionir dalam pengembangan mobil listrik, Tesla juga menjadi pionir dalam mengembangkan mobil dengan mode autopilot, mobil yang bisa mengemudi sendiri.

Akhir-akhir ini hubungan antara Tesla dan Indonesia sedang hangat diperbincangkan. Pasalnya, perusahaan miliki salah satu orang terkaya di dunia, Elon Musk, itu dikabarkan akan membuat pabrik baterai electric vehicle (EV) di Indonesia. Mengingat salah satu bahan mentah pembuatannya, yaitu nikel yang menjadi sumber daya alam Indonesia, pernah dinilai Musk menjadi yang terbaik di dunia.

Pada Januari 2021 ini, kabarnya Musk akan mengirimkan tim khususnya untuk datang dan menjajaki perihal investasi di Indonesia. Ini adalah upaya lanjutan setelah Elon Musk pernah melakukan pembicaraan dengan Presiden Joko Widodo pada November 2020 lalu.

Baca: Pendekatan Elon Musk-Indonesia: Memuji, Bicara dengan Jokowi, Sampai Kirim Tim Khusus

Tapi, tahukah Kawan GNFI kalau ternyata salah satu teknisi (engineer) yang mengembangkan teknologi autopilot mobil Tesla itu ternyata orang Indonesia. Lebih spesialnya lagi, teknisi asal Indonesia ini juga adalah perempuan. Ia bernama Moorissa Tjokro.

Moorissa Kembangkan Fitur Tertinggi Autopilot Tesla

Autopilot Tesla
info gambar

Moorissa Tjokro adalah satu dari enam Autopilot Software Engineer yang bekerja untuk perusahaan Tesla di California. Moorissa adalah satu-satunya perempuan yang mengemban tugas tersebut. Memang betul, profesi seperti ini memang masih jarang ditekuni oleh perempuan.

Meski Tesla sudah berhasil meluncurkan mobil dengan autopilot, namun menurut pengakuat Moorissa kepada VOA Indonesia, Tesla tengah mengembangkan fitur kecerdasan swakemudi penuh atau Full-Self-Driving. Yang sebenarnya kini sudah tersedia, namun masih secara terbatas.

‘’Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu [melihat] dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan gimana kita bisa bergerak atau namanya control and behaviour planning, untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in a certain way,’’ jelas Moorissa kepada VOA Indonesia (03/12/2020).

Untuk diketahui, fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar Tesla yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot. Nantinya dengan fitur ini, pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas.

‘’Karena kita pingin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuman di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,’’ tamba perempuan kelahiran 1994 yang sudah menetap di Amerika Serikat sejak 2011 silam.

Bekerja 70 Jam Sepekan dan Dibekali Mobil Tesla

Moorissa Tjokro, Engineer Indonesia di Tesla
info gambar

Moorissa sudah bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018 silam. Sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa ditunjuk oleh Tesla untuk menjadi Data Scientist, yang juga menangani perangkat lunak mobil.

Kini pekerjaan sehari-harinya adalah bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot. Mulai dari melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, sampai mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya. Karena merupakan fitur autopilot tertinggi, Moorissa pun mengaku bahwa proses pengembangan dan penggarapan fitu ini sangat sulit.

Ia pun mengaku bahwa pekerjaan ini memakan jam kerja yang sangat panjang, khususnya untuk tim autopilot. Jam kerja dia dengan timnya bisa mencapai 70 jam dalam sepekan. Kalau hanya dihitung hari kerja Senin-Jumat, artinya Moorissa harus bekerja 14 jam setiap harinya.

‘’Kita pingin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada very rigorous testing (pengujian yang sangat ketat.red), yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya,’’ jelas perempuan lulusan S2 Data Science di Columbia University, New York, itu.

Meski fitur ini belum bisa digunakan secara penuh, Moorissa mengaku bangga bahwa badan-badan nasional Amerika Serikat dan Eropa sudah memberikan Tesla peringkat dan sertifikat sebagai mobil teraman di dunia.

Untuk mendukung pekerjaannya tersebut, Moorissa pun dibekali mobil Tesla yang bisa ia gunakan sehari-hari. Hal ini tentu saja digunakan untuk sekaligus menguji perangkat lunak mobil.

Bermimpi Membangun Yayasan Pemberantas Kemiskinan di Indonesia

Moorissa Tjokro, Diaspora Indonesia
info gambar

Tampaknya Moorissa dan Tesla sudah ditakdirkan untuk ‘’berjodoh’’. Pasalnya Moorissa tidak pernah benar-benar mengirimkan lamaran ke perusahaan otomotif tersohor di dunia.

‘’Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung di kontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita pulai proses interview,’’ kenangnya.

Moorissa adalah satu dari sebagian kecil perempuan yang menekuni bidang dan terjun langsung di dalam dunia Sains, Teknologi, Teknik/Engineering, dan Matematika (STEM). Dia pun satu dari sedikit wanita yang bekerja sebagai engineer di Tesla.

‘’Di kantor memang nggak banyak perempuan. Di tempat saya cuman 6 dari 110 engineer itu cewek (perempuan). Itu aja dua dari mereka adalah product managers,’’ ungkap wanita yang sudah sangat cinta akan bidang matematika dan aljabar itu.

Meski begitu, Moorissa pun mengatakan bahwa ia tidak pernah mengalami diskriminasi atau perbedaan di dunia kerja yang masih didominasi oleh laki-laki itu. Namun, Moorissa pun tak menafikan bahwa ia pun mengaku kerap kekurangan motivasi terhadap perempuan untuk mencapai posisi eksekutif di dunia teknologi dan otomotif.

Salah satunya karena ia jarang terlihat perempuan yang terjun ke dunia STEM yang bisa menjadi panutan perempuan. Wajar saja, ini juga diakui oleh organisasi American Association of University Women yang mengatakan bahwa jumlah perempuan yang bekerja di bidang STEM, hanya 28 persen.

Namun Moorissa pun tetap optimis, terutama dengan adanya berbagai organisasi yang meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang STEM, seperti Society of Women Engineers. Selain terus berkarir di bidang yang sudah menjadi ‘’kata hati’’, Moorissa pun kelak bercita-cita ingin membangun yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia.

Semoga karir dan cita-citanya tercapai ya, Moorissa. Indonesia bangga!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini