Bu Risma..

Bu Risma..
info gambar utama

Dipenghujung tahun 2020 Presiden Jokowi melakukan reshufel kabinetnya, beberapa menteri baru ditunjuk, ada yang ditunjuk mengganti dua menteri yang terkena kasus korupsi dan sudah ditahan KPK, salah satunya Bu Risma mantan walikota Surabaya yang menjadi Menteri Sosial mengganti Menteri sebelumnya yang terena kasus korupssi itu. Presiden Jokowi dengan hak prerogatifnya tentu mengetahui kinerja para menteri barunya dan diharapkan membawa angin segar perubahan di kabinetnya. Bu Risma misalnya sudah lama digadang-gadang untuk menjadi menteri dan Pak Jokowi pun sudah faham akan kinerja Bu Risma selama menjadi walikota Surabaya.

Memang publik mengetahui bagaimana kinerja Bu Risma yang berhasil mentranformasi kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan hijau, sehingga berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri diraih Bu Risma, sekaligus diminta berbicara diberbagai forum internasional untuk menceritakan bagaimana kiat-kiatnya bisa merubah kota Surabaya menjadi kota berstandar internasional dan bagaimana memberdayakan masyarakatnya di bidang sosial dan ekonomi.

Bu Risma, memiliki karakter yang kuat sebagai pekerja/pejabat yang ulet sehingga berhasil membangun kota terbesar kedua di Indonesia ini. Kebiasaannya yang memulai kerja di pagi hari ketika para karyawannya belum datang dan pulang lebih akhir menjadi ikonnya Bu Risma. Bagi yang tidak terbiasa dengan pola kerjanya Bu Risma akan “keteteran” mengikutinya. Bu Risma yang berlatang belakang insinyur ini bekerja berdasarkan data, mengerti IT bahkan ikut merancang sistim managemen IT Kotamadya Surabaya, sehingga sulit bagi bawahannya yang merekayasa pekerjaan yang tidak sesuai dengan sistim yang sudah dibangun, karena Bu Risma akan mengetahuinya dengan cepat dan dia tahu detail pekerjaan. Tidak semua pejabat di negeri ini yang faham secara detai akan sistem teknologi informasi yang modern. Belum lagi kebiasaannya yang sering blusukan karena tidak mau berkerja dibelakang meja hanya menerima laporan bawahan, dia langsung terjun kebawah untuk mengecek sendiri permasalahan yang ada di lapangan.

Kebiasaanya berkerja seperti itu diuangkapkan didepan para pejabat dan karyawan Kementerian Sosial pada acara perkenalannya sebagai Menteri Sosial yang baru. Tentu pidato tentang kebiasaannya berkerja itu membuat banyak ASN di Kemensos yang deg-degan dengan gaya kepemimpinan dan kerja Bu Risma. Pak Presiden tahu betul karakter dan kebiasaannya Bu Risma ini karena itulah dipiih menjadi Menteri Sosial.

Namun kebiasaan-kebiasaan cara kerjanya itu agak tidak “pas” manakala Bu Risma saat ini menjadi seorang Menteri. Diawal kerjanya di Kemensos Bu Risma sudah langsung blusukan kedaerah bantaran sungai di Jakarta untuk bertemu dengan warga yang rentan kondisi ekonominya. Apakah blusukannya itu salah? Tentu tidak; tapi perlu diingat dia itu bukan walikota sebuah kota lagi. Ada baiknya para sahabatnya, para penasihatnya, para think-tank-nya—whatsoever, apapun itu namanya, perlu memberi masukan (untuk mengganti kata “menasihati” atau “memperingatkan”) bahwa seorang Menteri itu pekerjaannya bersifat “macro-strategic management” karena dia sekarang membawahi kementerian yang tugasnyanya berskala nasional. Tentu akan sulit bagi Bu Risma untuk blusukan diseluruh nusantara ini yang jumlah Kabupatennya lebih dari 400. Kalau Bu Risma hanya blusukan di Jakarta maka akan ada kesan bahwa sebenarnya Bu Risma ini nanti “ingin maju” sebagai Gubernur DKI Jakarta, atau ada kesan dia itu seorang Menteri tapi cita rasa Walikota, atau upaya pencitraan untuk “menyenangkan” Presiden.

Apakah seorang yang pintar seperti Bu Risma masih perlu masukan?.Tentu perlu, karena tidak semua orang itu sempurna (hanya Allah Yang Maha Sempurna). Jangankan orang pintar atau cerdas, seorang ulama pun perlu masukan dari orang lain.

Malahan sayang kalau Bu Risma tidak mendapatkan masukan, sebab tanpa masukan yang membangun bisa-bisa dia menjadi “One Woman Show” – tanpa disadari; dan hal ini Counter Productive bagi Kementrian Sosial.

Wallahualam.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini