Sejarah Hari Ini (4 Januari 1946) - Hijrah Sukarno ke Yogyakarta dengan KA Luar Biasa

Sejarah Hari Ini (4 Januari 1946) - Hijrah Sukarno ke Yogyakarta dengan KA Luar Biasa
info gambar utama

Kondisi Kota Jakarta mencekam ketika tentara Belanda (NICA) dan Sekutu datang setelah selang beberapa pekan proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

Pemuda revolusi di ibu kota pun terlibat peperangan dengan mereka yang membuat situasi menjadi tidak kondusif pada bulan Oktober, November, dan Desember.

Pada awal tahun 1946, terdengar kabar Belanda mencoba melakukan pembunuhan terhadap pejabat republik.

Maka dari itu, Presiden Sukarno kemudian mengambil langkah memindahkan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.

Langkah berikutnya, Sukarno beserta pejabat lain kemudian naik kereta api luar biasa (KLB) yang dioperasikan secara pelan dan tanpa lampu agar tidak ketahuan pihak lawan.

Beberapa sumber menyebutkan Sukarno menggunakan KLB pada tanggal 3, sementara sumber lainnya menyinggung tanggal 4.

Seperti yang diceritakan kembali oleh pengawal pribadi Sukarno, Mangil Martowijoyo, misalnya.

Ia menjadi saksi langsung tentang pelarian Sukarno dan pejabat republik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lewat belakang rumah presiden di Pegangsaan Timur, tak jauh dari Stasiun Manggarai.

"...pada malam gelap gulita tanggal 4 Januari 1946, rangkaian kereta api tanpa lampu berhenti di belakang sebuah rumah di Pegangsaan Timur No 56. Kereta api tersebut sengaja berhenti di sana, untuk menjemput Presiden, Wakil Presiden beserta keluarganya. Secara diam-diam, mereka naik ke dalam gerbong, setelah menerobos pagar kawat berduri, di belakang rumah Bung Karno. Tidak seorang pun mebawa harta benda, kecuali Bung Karno, membawa sebuah koper kecil berisi bendera pusaka," kenang Mangil yang tertulis dalam Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer karya Julius Pour.

Dikutip juga dari Takhta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX yang dihimpun Mohamad Roem dkk., disebutkan kereta pelarian Sukarno ke Yogyakarta berangkat pukul 7 malam.

Keberangkatan para republikan dengan KLB yang bersifat rahasia itu rupanya diketahui oleh rakyat di luar kota Jakarta.

Sahutan "merdeka!" pun menggema ketika KLB lewat dan bahkan ada yang beberapa mencoba menaikinya.

KLB yang ditumpangi Sukarno akhirnya tiba dengan selamat di Stasiun Tugu, Yogyakarta, pada pukul 10 pagi tanggal 5 Januari. Stasiun Tugu pun ramai dengan orang yang ingin menjemput dan menyambut orang-orang yang penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini.

Jauh setelah peristiwa itu, pada 1965, Sukarno mengaku masih menyimpan rasa haru ketika mengingat kejadian pelariannya dengan KLB.

"Saya merasa terharu jika mengingat kejadian magrib 4 Januari 1946. Saudara tahu Pegangsaan Timur No. 56 itu adalah di tepi jalan kereta api. Saudara Anwir ini magrib-magrib membawa kereta api di belakang rumah saya itu. Pada waktu sudah mulai gelap, saya dimasukkan dalam kereta api itu dan terus diangkut ke Yogyakarta. Dan dari Yogyakartalah revolusi dipimpin terus, revolusi mendapat pimpinan terus. Sampai saudara-saudara mengetahui sejarah Yogyakarta. Kemudian kembali ke Jakarta, sampai sekarang alhamdulillah revolusi selamat... Siapa bilang saya dari Tegal, saya dari Majalengka. Siapa bilang revolusi kita gagal? Sebab kita punya PNKA...," kata Sukarno lewat pidatonya.

KLB di TMII.
info gambar

"Ular besi" KLB yang sudah beroperasi sejak awal abad ke-20 dan berjasa bagi bangsa Indonesia itu kini menjadi peninggalan bersejarah yang dipelihara pemerintah.

Rangkaian KLB ini bisa dilihat langsung di Museum Transportasi yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

---

Referensi: Mohamad Roem, Mochtar Lubis, Kustiniyati Mochtar, S. Maimoen, "Takhta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX" | Pidato Presiden No. 811, 28 September 1965, Arsip Nasional Republik Indonesia | Julius Pour, "Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini