Ekspor Edukasi dari Bali, Mengapa Tidak?

Ekspor Edukasi dari Bali, Mengapa Tidak?
info gambar utama

Desain gedung The Cellardoor yang unik di Jalan Bypass Ngurah Rai, Sanur, Bali, menyambut kami sejak turun dari mobil. Aksen “industrial design” nampak dominan, terlihat dari pintu yang menggunakan pintu kontainer 40 feet dan kursi yang dibentuk dari potongan drum. Penerangan dengan lampu kerucut membuat ruangan terang, meskipun dindingnya abu-abu.

“Great wine requires a mad man grow the vine, a wise man to watch over it, a lucid poet to make it, and a lover to drink it," Tulisan besar dari pelukis Salvador Dali ini terpampang di lobby.

“Selamat datang di Hatten Education Center,” kata Kertawidyawati sambil menyambut kami.

Kertawidyawati di Channel Youtube HEC
info gambar

Selama pandemi, kegiatan Kertawidyawati selaku pemimpin kegiatan Hatten Education Center justru semakin padat.

“Kami banyak membuat konten mengenai edukasi wine, ada di Youtube dan di Podcast,” katanya menjelaskan. Lho, memang ada yang berminat belajar wine?

Tentu saja! Pengetahuan tentang wine alias vinologi, merupakan syarat utama hotel-hotel untuk menjaring wisatawan kelas atas. Di sini, para sommelier alias pramusaji khusus wine, bertugas memilihkan wine yang cocok untuk para tamu, seperti dari segi rasa maupun pairing atau padanan makanannya.

“Itulah sebabnya kami punya kelas food pairing wine dengan makanan Indonesia, untuk membantu memperkenalkan kuliner kita,” kata Widya menjelaskan.

Bukan cuma itu. Hatten Education Center juga bekerja sama dengan WSET (Wine and Spirit Education Trust), sebuah organisasi yang berbasis di London, Inggris. WSET menyelenggarakan pendidikan bersertifikat untuk wine dan spirit, sebuah keahlian yang sangat dibutuhkan pekerja bar, restoran, dan pariwisata.

“Kami banyak mengadakan pelatihan untuk sekolah-sekolah pariwisata, baik di Bali maupun di Indonesia,” kata Widya.

Bali sebagai pusat pendidikan wine dan spirit global, memang jadi ide yang bisa diwujudkan. Pertama, sebagai destinasi wisata kelas dunia, Bali membutuhkan banyak tenaga profesional di bidang ini. Kedua, budaya Bali sudah akrab dengan minuman beralkohol, sehingga secara adat sudah banyak aturan yang mencegah ekses negatifnya.

Set alat destilasi tradisional Bali
info gambar

Saya berjalan di Desa Les, Tejakula, Bali Utara. Jro Mangku Gede Yudi, yang mengantar saya, adalah seorang chef yang juga pemangku adat setempat.

“Begini proses pembuatan arak tradisional Mas,” katanya sambil menunjuk ke sebatang bambu sepanjang kira-kira 10 meter yang dipasang horizontal dengan kemiringan sekitar 20 derajat.

Di sebelah kanan ada panci yang dipanaskan, dan disebelah kiri ada botol kaca yang menampung tetesan cairan bening.

“Cara ini sudah turun temurun, kami mendestilasi tuak dengan bambu menjadi arak. Arak ini yang digunakan untuk upacara,” kata Gede Yudi menjelaskan.

Bali, rupanya sudah siap menjadi pusat edukasi wine dan spirit kelas dunia. Ekspor edukasi, mengapa tidak?*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini