Inilah 5 Fakta Sejarah Tan Ek Tjoan, Roti Jadul Rasa Autentik

Inilah 5 Fakta Sejarah Tan Ek Tjoan, Roti Jadul Rasa Autentik
info gambar utama

Tan Ek Tjoan termasuk merek roti tertua di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1921. Produsen roti legendaris ini terkenal karena resep-resep rotinya nan autentik zaman Hindia-Belanda. Tan Ek Tjoan, pendiri yang namanya dijadikan merek produk, adalah seorang pemuda keturunan Tionghoa.

Berikut 5 fakta sejarah produsen roti jadul rasa autentik, Tan Ek Tjoan yang mungkin belum banyak diketahui.

1. Merintis Usaha di Daerah Surya Kencana, Bogor, Jawa Barat

Broodbakkerij Tan Ek Tjoan © Vifamedia.com
info gambar

Tan Ek Tjoan bersama istrinya, Phoa Lin Nio, merintis usaha roti di rumahnya yang sederhana tetapi cukup luas di Jalan Perniagaan (Sekarang Jalan Suryakencana) Bogor. Kepandaian Lin Nio membuat roti dan kepandaian Ek Tjoan berbisnis menjadikan pasangan suami-istri ini kombinasi sempurna.

Sejak usahanya berkembang cepat dan populer, pada tahun 1953 usaha roti ini membuka kedai di daerah Tamansari. Lalu, pada tahun 1955 berpindah ke Jalan Cikini Raya hingga membuatnya terkenal sebagai kedai roti legendaris di Cikini Jakarta. Kini kedai di Cikini terpaksa harus tutup sejak 2015 dan pindah ke daerah Ciputat dan BSD, sedangkan kedai di Bogor masih tetap di tempat lama.

2. Mencairkan Ketegangan Sosial Antara WNI dan Belanda

Gerobak dorong roti Tan Ek Tjoan © Instagram matlekarj
info gambar

Dahulu, Ek Tjoan hanya menentukan target pasar orang Belanda karena banyaknya orang-orang Belanda bermukim di Bogor. Sebelumnya, tersekat batas ras, sosial, dan ekonomi antara masyarakat Indonesia, Belanda, dan Tionghoa, tetapi semakin membaur berkat roti Tan Ek Tjoan.

Tercipta interaksi dan simbiosis mutualisme antara warga pribumi yang menjajakan roti di atas gerobak dorong dan warga Belanda maupun Tionghoa yang mengonsumsinya. Roti Tan Ek Tjoan tak hanya populer di kalangan Belanda, tetapi juga di kalangan orang Indonesia yang kebarat-baratan, terutama orang Tionghoa. Kini, usaha roti ini pun memperbanyak varian produk supaya bisa dinikmati oleh semua kalangan.

3. Penerapan Filososofi Yin-Yang dalam Kerasnya Roti Gambang dan Lembutnya Roti Bimbam

Roti gambang © Instagram: rotilegend
info gambar

Awalnya, Tan Ek Tjoan hanya memproduksi roti gambang untuk makanan pokok sehar-hari masyarakat Belanda di Bogor. Nama roti ini terinspirasi dari bilah-bilah gambang kromong yang merupakan kesenian perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa. Roti gambang bertekstur keras, tetapi lembut di dalam.

Namun, banyaknya permintaan roti bertekstur lembut membuat Tan Ek Tjoan membawa terobosan varian baru, roti bimbam berteksur lembut. Kehadiran roti bimbam terinspirasi dari penerapan filosofi yin-yang, yakni adanya keseimbangan antara kerasnya roti gambang dengan lembutnya roti bimbam. Kedua roti ini pun menjadi kesukaan masyarakat.

4. Pencetus Kepopuleran Roti Buaya Isi Cokelat

Roti buaya Tan Ek Tjoan © Instagram: rotilegend
info gambar

Roti buaya merupakan tradisi masyarakat Betawi yang kerap hadir pada saat acara atau upacara pernikahan Betawi. Dahulu, roti buaya homemade dan tidak beli jadi dari toko dan dibuat sekeras mungkin, semakin keras roti, maka semakin baik kualitas. Roti ini melambangkan kesetiaan, jadi sebenarnya tidak boleh dimakan sama sekali.

Tan Ek Tjoan kemudian mencoba menabrak tradisi Betawi tersebut dengan memproduksi roti buaya bertekstur lembut isi cokelat. Roti ini pun menjadi terkenal, bahkan di kalangan masyarakat Betawi. Walaupun demikian, Tan Ek Tjoan masih melayani pemesanan roti buaya tradisional berteksutr keras tanpa tambahan rasa.

5. Bisnis Keluarga Turun-Temurun

Tan Ek Tjoan dan istri, Phoa Kie Nio © Vifamedia.com
info gambar

Seperti yang telah diketahui, Tan Ek Tjoan merupakan bisnis roti milik pasangan Tan Ek Tjoan dan Phoa Lin Nio. Sejak Ek Tjoan wafat pada 1950-an, sang istri masih meneruskan roda usaha dan melebarkan sayap bisnisnya. Lin Nio memilih kawasan elite Cikini yang banyak dihuni masyarakat Belanda sebagai lokasi kedai roti pertamanya di Jakarta.

Phoa Lin wafat pada 1958 dan mewariskan bisnis keluarga ke kedua anaknya, Tan Bok Nio dan Tan Kim Thay. Bok Nio memegang kedai di Bogor, dan Kim Thay memegang kedai di Jakarta.

Mengikuti jejak sang ayah, Kim Thay tak punya kemampuan membuat roti, tetapi ia seorang pebisnis ulung. Terlebih, ia sempat mengenyam pendidikan Ilmu Ekonomi di Belanda. Seolah berada di tangan yang tepat, Kim Thay berhasil mengelola bisnis roti Tan Ek Tjoen menjadi semakin maju.

Semula luas toko kira-kira hanya seperempat dari luas saat ini, hanya usaha rumahan, dan belum memiliki pabrik. Berkat keuletan Kim Thay, bisnis roti ini dapat membeli tanah di sekitarnya dan memiliki toko luas. Kedai di Bogor pun pindah ke daerah Siliwangi karena daerah Surya Kencana kian sepi semenjak adanya Tol Gadog.

Lydia, penerus usaha Tan Ek Tjoan generasi ketiga © vifamedia.com
info gambar

Kim Thay mulai mempercayakan jasa para pedagang gerobak untuk menjajakan roti. Para pedagang menjual roti kepada orang-orang Belanda yang berada di sekitar Cikini. Pemasarannya pun meluas ke daerah-daerah lain, seperti Ciputat, Tangerang, Cinere, dan Bekasi.

Kim Thay pun menikah dengan gadis Belanda dan memperoleh dua keturunan, Robert dan Alexandra. Kedua anak Kim Thay tak menyatu dengan bisnis roti keluarga karena tumbuh kembang di Belanda. Alexandra sempat mencoba untuk mengelola, tetapi tidak bertahan lama. Akhirnya, pada tahun 2010, ia meminta teman masa kecilnya, Josey dan Kennedy untuk melanjutkan perusahaan roti Tan Ek Tjoan.

Sementara, Tan Bok Nio mewarisi usaha ke putri bungsunya, Lydia C. Pada tahun 1985, Tan Bok Nio dan suami meminta Lydia meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja untuk melanjutkan usaha roti Tan Ek Tjoan Bogor. Sama seperti Kim Thay, kedai di Bogor ini memperluas pasar dengan bantuan pedagang gerobak.

Meski zaman silih berganti, produsen roti legendaris seperti Tan Ek Tjoan masih setia menyajikan roti legendaris rasa autentik. Walau kini memakai sistem produksi modern, dalam hal resep tetap mengacu pada resep dasar turun temurun dari Phoa Kie Nio. Dalam prosesnya, roti Tan Ek Tjoan pun memilih bahan baku tradisional alami tanpa pengawet. (RIF)

Referensi:Historia | IDN Times | Vifa Media

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini