Sejarah Hari Ini (16 Januari 1904) - Dewi Sartika Dirikan Sekolah Keutamaan Istri

Sejarah Hari Ini (16 Januari 1904) - Dewi Sartika Dirikan Sekolah Keutamaan Istri
info gambar utama

Di sekolah yang didirikan "Kartini van West Java" itu, para siswi diajarkan keterampilan urusan rumah tangga, pelajaran agama, hingga kecakapan berbahasa Belanda.

Raden Dewi Sartika merupakan putri dari Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas.

Ayahnya adalah seorang patih di Bandung yang sangat nasionalis sehingga terlibat perlawanan terhadap Belanda.

Setelah ayahnya dibuang, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (disebut "ua" dalam bahasa Sunda) yang berkedudukan sebagai Patih Aria di Cicalengka.

Karena sang paman condong setia pada Belanda, Dewi Sartika tidak diperlakukan dengan layaknya anggota keluarga.

Dalam situasi itu ia melihat kaum wanita sekitar yang kurang berpendidikan dan minim keterampilan.

Maka dari itu pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan "Sakola Istri".

Sekolah yang disponsori oleh Bupati Martanegara ini merupakan sekolah pertama yang menerima khusus untuk anak-anak gadis.

Adapun bangunan yang digunakan untuk sekolah tersebut yaitu salah satu ruangan di kompleks Kabupaten Bandung ialah ruangan paseban.

Ketika baru berdiri, murid Sekolah Keutamaan Istri berjumlah 60 orang, dengan 3 guru yakni Ibu Purma, Ibu Uwit, dan Dewi Sartika sendiri.

Sakola Istri Dewi Sartika.

Jumlah murid bertambah membuat ruang belajar kurang mencukupi. Keputusannya pada 1905, Dewi Sartika memilih memindahkan Sakola Istri ke Jalan Ciguriang-Kebon Cau.

Dari sebuah lahan yang dibeli sendiri oleh Dewi Sartika dengan uang tabungannya sendiri didirikan bangunan sekolah yang kemudian lebih dikenal dengan nama "Sakola Kaoetaman Istri (Sekolah Keutamaan Istri)" pada 1910.

Setelah menempati lokasi yang baru, Sekolah Keutamaan Istri pun semakin berkembang. Jumlah muridnya meningkat pesat.

Kebanyakan dari para murid sekolah adalah anak-anak perempuan dari kalangan masyarakat biasa di Bandung.

Besarnya minat anak perempuan untuk bersekolah menggambarkan betapa kuat keinginan orang Indonesia untuk maju.

Kaum perempuan Indonesia ingin menjadi pintar dan berpengetahuan sebagaimana kaum perempuan bangsa-bangsa lain.

Kurikulum yang diberikan di sekolah pimpinan Raden Dewi Sartika itu disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Kelas Dua (Tweede Klasse Inlandsche School) milik pemerintah.

Namun, ada sejumlah mata pelajaran keterampilan seperti memasak, mencuci, menyetrika, membatik, menjahit, menisik, merenda dan menyulam, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kepentingan rumah tangga.

"...diajarkan keterampilan berumah tangga, di mana siswi senior sedang belajar mencuci, menyeterika, dan memasak," begitulah sebagian dari laporan De Nieuwe Courant mengenai kesibukan di Sekolah Keutamaan Istri pada September 1911.

Selain itu diajarkan pula pelajaran agama, kesehatan, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak hanya diberikan secara teori, tetapi diberikan juga dalam bentuk praktik.

Pada ulang tahun ke-25 sekolah, pemerintah Hindia Belanda memberikan sumbangan sebuah sekolah baru dan Dewi Sartika diganjar tanda jasa berupa "Bintang Perak".

Pada 1940, Dewi Sartika kembali mendapat tanda jasa, tetapi kali ini dari Kerajaan Belanda berupa Ridder in de Orde in de Orde van Nassau untuk pengabdiannya sebagai pendidik pertama anak-anak gadis.

Meskipun Sekolah Keutamaan Istri sudah tidak, nama Dewi Sartika tetap abadi di bangunan sekolah tersebut. Kini sekolah itu menjadi Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Dewi Sartika yang terletak Jalan. Kautamaan Istri No. 12, Balonggede, Regol, Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.

---

Referensi: De Nieuwe Courant | Disdik.Jabarprov.go.id | Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, "Sejarah Daerah Jawa Barat"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini