Memetik Pelajaran dari sang 'Banana Republic'

Memetik Pelajaran dari sang 'Banana Republic'
info gambar utama

*Penulis senior GNFI.

Negara Amerika Serikat yang umur demokrasinya lebih dari 200 tahun sejak lama menjadi referensi praktek demokrasi di dunia. Negara – negara lain selalu mengambil pendapat para ahli, gurubesar dari berbagai perguruan tinggi di Amerika berikut para tokoh-tokoh negara dan politisi negara itu sebagai acuan pelaksanaan demokrasi yang baik. Kebebasan berpendapat, berserikat, menentukan agama, menentukan aspirasi politik lewat pemilihan umum dan sebagainya adalah simbol demokrasi Amerika Serikat yang “patut” ditiru.

Namun, dunia terkejut ketika tanggal 6 Januari 2021 ribuan kelompok ekstremis, kelompok White Supremacy (warga kulit putih), organisasi paramiliter, kelompok anti masker (dalam menghadapi pandemi corona), veteran tentara yang semuanya adalah pendukung fanatik presiden Trump dari berbagai negara bagian 'menyerbu' gedung Capitol Hill atau sering disebut ‘The Hill”. Mereka marah salah satunya karena hasutan presiden Trump yang menolak hasil Pilpres tanggal 3 Nopember 2020. Amerika kemudian di kritik banyak negara telah menjadi “Banana Republic” atau negara miskin/berkembang yang sistim pemerintahannya otoriter dan kondisi negaranya yang kacau balau.

Tuduhan Trump bahwa pilpres AS tidak jujur, banyak tipuannya, melanggar demokrasi – sama dengan tuduhan-tuduhan yang terjadi di negara-negara miskin dan otoriter itu, misalkan orang yang sudah mati namanya masih dipakai sebagai pemilih, KTP pemilih dari wilayah lain dipakai memilih di berbagai kota lain, anak yang masih belum akil balig namanya dicatut menjadi pemilih, kotak suara dicuri dan diisi dengan kartu suara yang memilih calon lain. Pengadilan telah memutuskan bahwa tuduhan itu tidak syah.

Kejadian itu menjadikan presiden Trump dimakzulkan oleh keputusan parlemen, dan menjadikannya sebagai presiden Amerika Serikat dalam sejarah yang dimakzulkan dua kali. Pemakzulan ini berdasarkan pada bukti-bukti bahwa presiden Trump memprovokasi pendukungnya untuk menyerbu gedung parlemen yang akan mensyahkan hasil pilpres yang memenangkan Joe Biden dan Kamala Haris dari partai Demokrat. Para anggota parlemen yang setuju melengserkan Trump sebelum pelantikan presiden terpilih tanggal 20 Januari 2021, dan bahkan presiden terpilih Joe Biden berpendapat bahwa penyerbuan gedung Capitol Hill itu bukan bentuk protes, tapi insurrection atau pemberontakan terhadap demokrasi.

Dari depan ke belakang: Lincoln Memorial - Washington Monument - Capitol Hill | Sumber : Loc.gov
info gambar

Ya, gedung Capitol Hill sebagai tempat anggota DPR dan Senator menjadi tempat yang sakral, karena itu kejadian penyerbuan itu menjadi berita utama berhari-hari baik di AS maupun seluruh dunia. George Washington presiden pertama AS memilih daerah dimana gedung parlemen AS itu berada sebagi pusat demokrasi. Dia menunjuk seorang insinyur keturunan perancis Pierre Charles L’Enfant untuk merancang wlayah District of Columbia ini pada tahun 1790. Insinyur ini terinpirasi kemegahan Gardens of Versailles di Perancis. Kota Washington DC dirancang dalam bentuk blok dan gedung Capitol menjadi pusatnya. Berdasarkan peraturan yang ada tingginya gedung Capitol itu harus mendominasi area sekitarnya, artinya tidak boleh ada gedung tinggi yang melebihi gedung Capitol di Washington. Termasuk penomoran jalan – misakan Fith, Sixth Avenue dan seterusnya itu dimulai dari titik dimana gedung Capitol berada. Insinyur L’Enfant merancang gedung parlemen capitol ini sebagai simbol Pusat Demokrasi Amerika Serikat. Maka layak penyerbuan ke gedung Capitol itu sangat mengejutkan warga AS.

Pasca kejadian penyerbuan atau pemberontakan itu, pihak Penyelidik Federal atau FBI melakukan penyelidikan, dan hasilnya ada 200 orang lebih yang ditangkap, ditemukan ada dua bom pipa di sekitar gedung Capitol Hill, dan ada dugaan bahwa penyerbuan itu memang sudah dirancang dengan baik, karena para aktor pemberontakan itu menggunakan sandi-sandi militer untuk berkomunikasi diantara mereka. FBI juga menyelidik apakah ada pihak keamanan dan bahkan anggota parlemen yang terlibat, karena berdasarkan video kelihatan begitu mudahnya ribuan orang itu masuk ke gedung Capitol Hill. Yang jelas kejadian itu menyebabkan lima orang meninggal dunia. Terakhir pihak FBI memberi warning bahwa akan ada kerusuhan diberbagai kota besar di AS termasuk Washington DC untuk menggagalkan pelantikan presiden terpilih Joe Biden. Akibatnya sekarang bisa kita saksikan ibu kota AS Washington dan gedung Capitol ini dipenuhi tentara AS dengan pakaian dan senjata tempur. Seperti akan ada pertempuran.

Masyarakat AS dihantui dengan adanya perang saudara lagi (sebelum kemerdekaan, AS dilanda perang saudara yang brutal) karena terbelahnya masyarakat berdasarkan SARA dan ideologi (Trump dan pendukungnya dari Partai Republik menuduh Partai Demokrat itu liberal dan berideologi sosialis kiri).

Karena itu sahabat saya, dengan bercanda berpendapat bahwa mengalahkan Amerika Serikat dengan cara militer atau ekonomi- sangat sulit. Amerika Serikat bisa mudah dikalahkan dengan cara sebarkan isu SARA, sektarian berdasarkan suku, golongan dan agama disemua kalangan rakyatnya, nanti Amerika Serikat akan tumbang dengan sendirinya.

Bangsa Indonesia perlu, mengaca pada kejadian akhir-akhir ini di Amerika Serikat itu agar terhindar dari perpecahan.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini