Melindungi Bali dari Sampah Plastik

Melindungi Bali dari Sampah Plastik
info gambar utama

Nama Bali masuk dalam siklus berita global di awal tahun 2021, ketika beredar foto-foto pantai yang penuh dengan sampah plastik. Meskipun dijelaskan bahwa sampah yang terbawa laut ini adalah bagian dari fenomena alam, TETAPI gambar sampah plastik yang menyerbu pantai favorit kita, memberikan pertanyaan untuk Bali dan Indonesia, "Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampai plastik di Bali?"

Dalam salah satu presentasi Systemiq, sebuah organisasi yang mengadakan penelitian mengenai sampah plastik di Indonesia, dijelaskan bahwa tingkat pengumpulan sampah di kota-kota besar Indonesia sebenarnya sudah cukup baik. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pengumpulan sampah di tingkat desa dan kecamatan.

Masalahnya sederhana, tidak ada perangkat organisasi yang bertanggung jawab mengurusi sampah, seperti pada dinas kebersihan di tingkat kotamadya. Polutan utamanya juga berbeda dengan di kota besar, yaitu didominasi oleh plastik kemasan sachet. Produk kemasan sachet ini menjadi andalan warga di pedesaan, karena harga yang lebih murah. Namun, kebiasaan ini menjadi bencana bagi lingkungan, karena plastik sachet yang rata-rata dimetalisasi (tidak tembus pandang), tidak bisa didaur ulang.

Sampah di Kuta Bali, gambar dari AFP
info gambar

Untuk daerah wisata seperti Bali, problemanya berbeda lagi. Kemasan air minum menjadi masalah besar karena setiap hotel selalu menyediakan botol di dalam kamar untuk diminum. Di kawasan pariwisata Nusa Dua misalnya, terdapat sekitar 3685 kamar hotel, yang minimum menyediakan 2 botol air mineral setiap hari di setiap kamarnya. Bisa dibayangkan, berapa kemasan plastik dari botol air minum yang akan menjadi sampah setelah dikonsumsi, belum lagi jika dihitung kemasan minuman lainnya. Gawat, bukan?

Tetapi, Bali sebenarnya sudah mulai sadar akan masalah ini. Setelah pelarangan kantong plastik berlangsung ketat dan sukses di seluruh Pulau Bali, kini langkah berikutnya adalah kembali ke kemasan botol kaca untuk keperluan pariwisata. Dulu memang Indonesia mengenal beberapa minuman yang dikemas dengan botol kaca, tetapi untuk ritel masalahnya adalah sulitnya mengembalikan botol kaca ke produsen untuk diisi ulang.

Secara umum, karena mahalnya harga botol kaca, produsen baru akan untung ketika botol diisi ulang minimum sebanyak lima kali. Pecahnya kemasan sebelum mencapai pengisian kelima, akan membawa kerugian bagi produsen. Itulah sebabnya industri minuman ritel di Indonesia langsung beralih ke plastik dengan gesit selama satu dekade terakhir.

Namun, masalah di ritel ini tidak separah di sektor pariwisata. Hotel dan restoran misalnya, yang menyajikan minuman dalam botol kaca di kamar atau di meja, bisa dengan mudah mengumpulkan kembali botol kosongnya untuk kemudian dikembalikan ke produsen dan diisi kembali. Satu-satunya industri minuman yang masih bertahan dengan botol kaca yakni bir, berhasil mempertahankan model ini karena mengandalkan sektor pariwisata.

Tentu saja, untuk air minum yang volumenya jauh lebih besar, kembali ke botol kaca adalah sebuah langkah positif untuk mengurangi sampah plastik di Bali. Salah satu contohnya adalah PT Tirta Investama Mambal, Tabanan, dengan produknya Aqua Danone, baru meluncurkan lagi kemasan botol kaca ukuran 350 ml yang bisa diisi ulang. Dengan bekerja sama dengan hotel dan restoran dan mengelola pengisian ulangnya, perusahaan ini sudah berkontribusi untuk mengurangi sampah plastik dari kemasan air minum di Bali.

Botol kaca baru dari Aqua Danone
info gambar

Selain botol kaca, ada satu langkah yang tidak begitu terlihat tetapi sudah dilakukan oleh PT Tirta Investama, yakni dengan mengganti bahan kemasan galon. Kemasan yang populer untuk penyediaan air minum di rumah tangga ini mulai diubah dari bahan Polikarbonat (PC, kode 7) ke Polietilen Tereftalat (PET, kode 1).

Sejak lama PC menjadi favorit untuk kemasan botol galon yang sering diisi ulang, karena ketahanannya yang tinggi. Namun dengan makin maraknya isu sampah plastik, banyak produsen mulai beralih ke PET yang lebih mudah didaur ulang karena bisa dijadikan serat untuk baju dan terpal (Polyester). Bali, sebagai wilayah yang sangat peduli lingkungan, menjadi lokasi pertama konversi dari PC ke PET yang sudah dimulai sejak tahun 2020. Sebuah langkah yang baik untuk menjaga lingkungan Bali.

Botol PET (kanan) baru dan PC (kiri) lama
info gambar

Walaupun momentum sadar sampah plastik sudah dimulai, namun kita tetap perlu menjaga semangat ini agar jangan tenggelam karena isu ekonomi akibat pandemi. Dibutuhkan komitmen kuat dari pemerintah daerah untuk terus menjaga dan memperketat aturan yang ada, sehingga kemasan-kemasan yang tidak ramah lingkungan pelan-pelan disingkirkan dari tanah Bali.

Insentif juga diperlukan, karena investasi produsen untuk beralih ke bahan yang ramah lingkungan tidaklah sedikit, dengan imbalan yang belum pasti. Minimal kita sebagai konsumen perlu lebih bijak untuk memilih kemasan yang lebih ramah lingkungan, meskipun harganya mungkin lebih mahal sedikit. Jika harga itu adalah untuk langgengnya keindahan pantai di Bali, mengapa tidak?

Mari, kita dukung dan lanjutkan gerakan mengurangi sampah plastik di Bali!*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini