Berkat Porang, Petani Ini Diutus Magang ke Jepang

Berkat Porang, Petani Ini Diutus Magang ke Jepang
info gambar utama

Agustinus Adil, petani asal pedalaman Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengenal porang sebagai tumbuhan bernilai ekonomi, sejak 2010. Sebelumnya, ia dan sejumlah petani lain di kampungnya menganggap porang sebagai gulma. Tak jarang, mereka berusaha membasmi porang yang tumbuh liar di kebun-kebun.

Sejak umbi porang dicari oleh pedagang, Agus mulai menanam porang dengan teratur di kebunnya. Awalnya, ia menanam 30 pohon. Kemudian, ia terus meningkatkan jumlah pohon porang yang ia tanam setiap tahunnya. Kini, Agus sudah menanam 1,2 juta porang.

Warga Kampung Lendo, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menuturkan hingga tahun 2015 warga masih enggan membudidayakan tanaman itu karena haraga rendah. Meski demikian, ia tetap fokus dan tekun membudidayakan porang. Bahkan selama lima tahun ia rela menetap di kebun, hanya untuk menanam dan merawat porang. Ia juga tidak putus asa mengajak petani lain di kampungnya untuk menanam porang.

Seiring waktu, harga umbi porang terus meroket. Pada tahun lalu, satu kilogram umbi porang basah dihargai Rp10.000, sedangkan umbi kering dibeli dengan harga lebih dari Rp100.000 per kilogram. Maka dari itu, para petani di kampungnya mulai ramai-ramai membudidayakan porang.

Di tahun yang sama, Agus diutus oleh Pastor Paroki Mbata, Romo Bernadus Palus, Pr - pastor yang dikenal luas karena perhatiannya terhadap dunia pertanian untuk belajar pertanian di Jepang.

"Awalnya saya ragu mau ke Jepang karena saya ini putus SD (Sekolah Dasar). Saya tidak tahu Bahasa Inggris," kata Agus.

Kekhawatiran Agus sirna karena Romo Bernadus terus mendorongnya dan meminta salah satu kerabat yang bisa berbahasa Inggris untuk mengajari Agus. Pada Maret 2020, Agus pun berangkat ke Jepang.

"Saya merasa ini mujizat Tuhan. Pada waktu itu, corona mulai masuk Indonesia. Tetapi perjalanan saya ke Jepang tidak ada hambatan. Dan, setelah tiga bulan di Jepang, saya sudah lancar berbahasa Inggris," tutur Agus.

Di Jepang, ia belajar tentang cara budidaya sampai pengolahan umbi porang jadi bahan makan, minuman dan lainnya. Selain itu, ia belajar pembuatan pupuk dan pestisida organik.

"Banyak hal tentang pertanian saya pelajari di sana. Saya mau terapkan semuanya di sini," ungkapnya.

Tanaman porang yang dibudidaya petani di Manggarai Timur
info gambar

Agus menjalani magang pertanian di negeri sakura itu selama sembilan bulan. Ia kembali ke Indonesia dan tiba di kampungnya pada 20 Desember 2020. Kepulangan Agus disambut meriah oleh keluarga dan warga sekampungnya.

Dari Mbata, Pusat Paroki Mbata, Agus diantar oleh Romo Bernadus bersama Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, angota DPRD Tarsan Talus dan Kepala Dinas Pertanian Jhon Sentis. Di sela-sela kegiatan penyambutan Agus itu, Romo Bernadus mengisahkan bahwa dirinya mengenal pria 49 tahun tersebut di pusat paroki, di mana Agus selalu menceritakan tentang porang.

"Saat saya pelayanan pastoral di Kampung Lendo, saya mengunjungi kebunnya. Banyak sekali tanaman porang," cerita Romo Bernadus.

Selain menanam porang, katanya, Agus juga menanam kayu seperti Sengon, Ara dan Meni'i. Kayu-kayu itu, kini sudah besar dan menghasilkan mata air. Masyarakat sekampung Agus turut menikmati air itu untuk kebutuhan rumah tangga mereka seperti memasak dan mencuci.

Pastor Bernadus menjelaskan, tanaman porang milik Agus selama ini dibeli oleh relasinya di Jakarta. Bahkan beberapa relasinya dari Jepang dan Jerman beberapa kali datang mengunjungi kebun porang milik Agus. Para relasinya itu kagum dengan terobosan yang dilakukan Agus dan memintanya untuk belajar lebih dalam lagi tentang pertanian.

Romo Bernadus mengatakan, ia mengirim Agus ke Jepang untuk belajar cara mengolah umbi porang jadi produk makanan, minuman dan lainnya.

"Puji Tuhan, ia mengikuti magang dengan baik dan hasilnya, ia merupakan lulusan terbaik," ujarnya.

Jely hasil olahan umbi porang yang dibawa Agus dari Jepang | Foto: Dok. Pribadi
info gambar

Berkat Agus, nama Kabupaten Manggarai Timur di kanca Asia khususnya Jepang menjadi terkenal. Tentu saja masyarakat di daerahnya sangat bangga. Kini, petani yang menanam porang sudah tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur. Di antaranya, Kecamatan Kota Komba, Lamba Leda, Elar dan Elar Selatan. Meski demikian, lanjutnya, Pemerintah Daerah Manggarai Timur belum bisa membantu benih porang ke petani karena belum disertifikasi.

Agus mengatakan, pengetahuan yang ia peroleh dari Jepang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh petani di NTT. Untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang ia dapat, lanjutnya, ia tidak bisa bekerja sendiri.

"Pemerintah, gereja dan kita semua harus kerja sama untuk bangun pertanian di NTT ini," katanya.

Menurut Agus, petani di Jepang sejahtera bukan karena tanah mereka subur. Namun karena pengetahuan mereka tentang pertanian jauh lebih maju. Petani di NTT, kata dia, bisa lebih maju dari Jepang karena punya potensi tanah yang lebih subur.

"Mengapa kita tidak sejahtera? Mari kita belajar cara bertani seperti di Jepang secara besama-sama. Saya siap untuk membagikan pengetahuan yang saya punyai," pungkasnya.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini