Istilah ''Ada Rupa Ada Harga'', Nampaknya Tak Berlaku Bagi POCO M3

Istilah ''Ada Rupa Ada Harga'', Nampaknya Tak Berlaku Bagi POCO M3
info gambar utama

Membaca judul di atas, kira-kira begitu ketika kita melihat ponsel anyar POCO M3 yang baru diperkenalkan secara resmi di Indonesia, Kamis (21/1/2021).

Bagaimana tidak, dengan banderol hanya Rp2,3 jutaan saja, kawan GNFI sudah bisa mendapatkan ponsel dengan RAM 6 GB dan ROM 128 GB. Jika doku kurang, mungkin bisa memboyong yang memiliki RAM 4 GB dan ROM 64 GB yang dilego Rp1,9 juta saja.

Konotasi kalimat ''Ada rupa, ada harga'' memang identik dengan pemahaman, jika kita ingin produk bagus, maka kita harus membayar mahal untuk itu. Tapi tidak untuk produk yang satu ini.

Harga yang ditawarkan boleh jadi tak masuk akal, karena ponsel yang dibekali cipset dengan fabrikasi 11 nanometer (11 nm) melalui Snapdragon 662, slot 2 SIM card dan memori eksternal berjenis MicroSD ini, bisa saja membantai produsen lain yang menjual ponsel dengan rentang harga serupa.

Belum lagi soal bonus lainnya, seperti ponsel yang masih menyediakan jack audio 35 mm, sebuah fitur yang cukup langka ditemui pada ponsel-ponsel kekinian.

Jika saja ponsel ini muncul di akhir tahun lalu, mungkin penulis akan mendapuknya sebagai ''Ponsel dengan bujet terbaik'', menggeser posisi Realme Narzo. Soal ponsel terbaik tahun lalu, selengkapnya kawan GNFI bisa baca di tautan ini.

Tapi, kita sudahi saja puja-puji soal harga pada ponsel yang kelewat ''value'' itu, kawan. Sekarang, kita bahas bagaimana produk POCO yang resmi lepas dari manajemen Xiaomi Indonesia.

Ini alasan Xiaomi melepas POCO

Peluncuran POCO M3
info gambar

Awal tahun memang menjadi salah satu momentum penting bagi semua perusahaan untuk memperlihatkan startegi dan jati diri sesungguhnya. Siapa yang menyangkal jika pada awal tahun semua perusahaan berlomba-lomba merebut awareness konsumen dengan produk yang memiliki nilai tambah.

Xiaomi Indonesia, sebagai produsen ponsel yang mendapatkan market share ke-3 terbesar di tahun lalu, nampaknya bakal terus melaju dengan jajaran ponsel-ponselnya di 2021. Tapi jenama ini juga sadar, bahwa mereka harus melepas POCO untuk berjalan secara mandiri. Memang, selama ini produk POCO berada dalam bayang-bayang Xiaomi.

Hal itu dikonfirmasi pada peluncuran ponsel POCO M3, yang menandakan keputusan Xiaomi Indonesia untuk melapas POCO menjadi brand independen. Sebuah titik penting yang dimungkinkan berkat pencapaian produk POCO yang hadir sejak tahun 2018.

Pendek kata, untuk distribusi ponsel POCO saat ini tak lagi dibawah naungan manajemen Xiaomi Indonesia, tapi langsung oleh POCO Indonesia. Pede banget? Ya, harus sih.

Sebagai catatan saja, sejumlah keberhasilan telah dicapai POCO pada 35 pasar global dalam waktu tiga tahun. Pengapalan POCO F1 di dunia mencapai 2,2 juta unit lebih, dan per tanggal 31 Desember 2020, POCO telah mengirimkan lebih dari 9,4 juta unit ponsel sejak produk pertama diluncurkan pada Agustus 2018.

Catatan itu tentunya lebih dari cukup untuk membuktikan market share POCO sebagai sebuah produk yang mampu sejajar dengan brand mandiri lainnya.

Apakah POCO bakal diseting sebagai ponsel ''killer''?

Bicara soal ponsel POCO khususnya di Indonesia, tentu kawan GNFI masih ingat dengan produk POCO X3 NFC, ponsel yang dijuluki ''Mid-Range Killer''.

Asal tahu saja, Ponsel ini jadi raja pada kuartal 4 (Q4) atau pada periode Oktober-Desember 2020. Tak berlebihan jika pada kurun itu pasar ponsel Indonesia menjadi milik POCO X3 NFC yang membuat brand lain seolah ''gigit jari''.

Nah, boleh jadi dengan momentum serta ketertarikan masyarakat dengan produk POCO yang mulai populer di Indonesia, maka pada awal tahun inilah POCO M3 dihadirkan. Tapi dengan misi yang berbeda, yakni dengan tujuan mengangkangi segmen lainnya, yakni Entry-Level yang berada pada rentang harga Rp1-3 jutaan.

Oleh karena itu, POCO Indonesia menjuliki ponsel ini sebagai ''The New Entry-Level Killer''.

Jika melihat ke belakang, produk POCO memang selalu dijuluki dengan kata ''Killer''. Lihat saja produk POCO F1 (2018) dan POCO F2 Pro (2020) yang diberi titel ''Flagship Killer''. Mereka seolah ingin meledek ponsel flagship dengan menghadirkan fitur serupa, namun dengan banderol yang lebih terjangkau. Lalu ada POCO X3 NFC, yang julukannya telah penulis tulis di atas.

Lalu, apakah memang ponsel POCO diseting untuk menjadi pembunuh ponsel-ponsel kompetitor di semua segmen? Kita lihat saja nanti.

Yang jelas, Bos Xiaomi Indonesia, Alvin Tse, tak yakin kalau varian POCO akan mempecundangi produk Mi dan Redmi. Ia percaya jika produk POCO memiliki fans dan segmen yang sama sekali berbeda dengan produk yang digelontorkan Xiaomi Indonesia.

Spesifikasi umum POCO M3

Spesifikasi POCO M3
info gambar

Sekarang, kita intip spesifikasi ponsel POCO M3 secara menyeluruh.

Secara tampilan, ponsel ini dibekali layar IPS LCD 6,53 inci FHD+ berproteksi Gorilla Glass 3, kamera utama 48 MP pada 3-kamera belakang, dan tentunya baterai jumbo berkapasitas 6.000 mAh yang dilengkapi pengecasan cepat 22,5 watt.

Selain mendapatkan sertifikasi dari TÜV Rheinland untuk perlindungan dari sinar biru yang merusak mata pada layar ponsel, POCO M3 juga hadir dengan dukungan sertifikasi Widevine L1 demi pengalaman menonton konten Netflix agar jauh lebih nyaman, karena bisa dinikmati dengan resolusi tinggi.

Jika ditanya apakah layarnya punya refresh rate di atas 60 Hz yang saat ini sedang tren? Ya nggak lah. Mana ada ponsel entry-level yang fokus pada sektor itu. Tapi yang pasti, layarnya cukup nyaman untuk dinikmati, setidaknya dari 2 sertifikasi yang disebutkan di atas tadi.

Bicara soal kamera, maka ada 3-kamera belakang yang masing-masing beresolusi 48 MP yang diklaim POCO cukup mumpuni untuk memotret pada kondisi cahaya redup. Lain itu ada lensa makro dan lensa bersensor bokeh yang masing-masing bersolusi 2 MP.

Hal lainnya yang ditawarkan ponsel ini adalah soal fitur dual stereo speakers yang lazim ada pada ponsel mid-range premium atau flagship. Sementara sensor infra merah (IR blaster) pun tak luput sebagai fitur penunjang lainnya.

Soal warna, POCO M3 yang dijual di Indonesia bisa dipilih melalui 3 warna yang disediakan, yakni hitam, biru, dan kuning.

Jika kawan GNFI tertarik, maka siap-siap saja pada tanggal 26 Januari 2021. Ponsel ini akan dijual perdana di toko online dan offline di gerai Mi Store dan distributor resmi lainnya. Tapi soal harga, ada perbedaan. Jika kawan GNFI membelinya secara online, maka akan lebih murah Rp100 ribu ketimbang membelinya di gerai/ritel.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini