Sejarah Hari Ini (23 Januari 1991) - Presiden Suharto Resmikan TPI

Sejarah Hari Ini (23 Januari 1991) - Presiden Suharto Resmikan TPI
info gambar utama

Televisi Pendidikan Indonesia didirikan putri Presiden RI kedua Suharto, Siti Hardiyanti Rukmana - atau lebih dikenal dengan sebutan Mbak Tutut, pada 1991.

Untuk pertama kalinya TPI mengudara pada 1 Januari 1991 selama dua jam mulai pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WIB.

Namun, secara resminya, TPI mulai disiarkan pada 23 Januari 1991.

Tanggal itu bertepatan dengan ulang tahun Mbak Tutut dan peresmian dilakukan langsung Presiden Suharto di Studio 12 TVRI Senayan, Jakarta Pusat. Saat itu TPI mengudara selama 4 jam.

Sesuai dengan namanya, TPI mengedepankan siaran edukatif saja. Maka dari itu, urusan tayangan dibantu oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan menyiarkan materi pelajaran pendidikan menengah.

Namun, misi edukatif yang dilakukan TPI mulai tergerus.

Sebuah iklan mengabarkan tanggal siar awal TPI
info gambar

Pada pertengahan hingga akhir 90-an mulai ada beberapa tayangan hiburan yang disiarkan TPI seperti kuis dan sinetron.

Meskipun begitu, tayangan non-edukatif itu dianggap ciri khas dari TPI saat itu, sebut saja di antaranya Kuis Dangdut yang dipandu Jaja Mihardja dan sinetron Mat Angin yang diperankan Deddy Mizwar.

Pada 25 Agustus 1997, TPI berpisah dengan TVRI. Program siarannya pun mulai difokuskan dengan tayangan hiburan untuk keluarga. Pada awal 2000-an, TPI mulai menayangkan tayangan luar salah satu contohnya acara permainan dari Jepang, Takeshi Castle (Benteng Takeshi), yang menjadi favorit pemirsa Indonesia.

Pasca lengsernya Suharto, eksistensi TPI mulai kendur. Pada 2003, akhirnya TPI dibeli oleh PT. Bimantara Citra, Tbk. yang merupakan salah suatu induk usaha yang menaungi RCTI dan Global TV. Ketiganya kemudian membentuk induk usaha yaitu Media Nusantara Citra (MNC).

Karena namanya sudah tidak relevan dengan kontennya, TPI pun berganti nama menjadi MNCTV pada 2010. Hanya saja muncul pendapat perubahan nama dilakukan karena adanya sengketa perebutan kepemilikan antara Hary Tanoesoedibjo dan Mbak Tutut.

---

Referensi: Philip Kitley, "Television, Nation, and Culture in Indonesia" | Andi Fachruddin, "Journalism Today"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini