Selain Nusantara, Indonesia Ternyata Punya 5 Nama yang Populer di Dunia

Selain Nusantara, Indonesia Ternyata Punya 5 Nama yang Populer di Dunia
info gambar utama

Selain menyebut negeri kita dengan nama ‘’asli’’-nya, yaitu Indonesia. Kita juga kadang menyebutnya dengan Nusantara. Kata ‘’Nusantara’’ ini sudah tercatat dalam literature berbahasa Jawa antara abad ke-12 hingga ke-16.

Kala itu, istilah ‘’Nusantara’’ digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Kerajaan Majapahit. Terlihat juga dari arti kata ini yang berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ‘’nusa’’ yang berarti ‘’pulau’’ dan ‘’antara’’ yang berarti ‘’luar’’.

Dengan begitu penyebutan Nusantara ini digunakan untuk menyebut pulau-pulau di luar Majapahit yang wilayah kekuasannya menyangkut seluruh pulau Jawa.

Meski begitu, pada awal abad ke-20, sosok Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat), yang menjadi sarjana Indonesia pertama menghidupan kembali istilah ‘’Nusantara’’ sebagai bentuk negara merdeka pasca nama Hindia Belanda melekat pada saat masa penjajahan.

Uniknya, Ki Hajar Dewantara jugalah yang kala itu memperkenalkan nama ‘’Indonesia’’ dalam ranah politik. Jadi, kala itu Ki Hajar Dewantara mempopulerkan dua nama untuk negeri ini. Dan terbukti hingga sekarang nama ‘’Nusantara’’ masih kerap digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Untuk diketahui, nama ‘’Indonesia’’ sendiri diperkenalkan pertama kali ke seluruh dunia oleh James Richardson Logan pada 1850. Sebelum nama ‘’Indonesia’’ dan ‘’Nusantara’’ populer, ternyata sejarah mencatat ada beberapa nama atau sebutan lain yang pernah disematkan kepada tanah Indonesia.

Bahkan, pemerintah Indonesia juga pernah meresmikan peringatan Hari Nusantara setiap tanggal 13 Desember. Kawan GNFI jangan sampai lupa, ya. Peringatan Hari Nusantara ini dikampanyekan oleh pemerintah sebagai hari perayaan yang sama penting layaknya Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober dan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.

Pasalnya kedaulatan Indonesia pada titik balik kelautan dan kemaritiman, serta pengakuan terhadap negara kemaritiman terbentuk pada tanggal ini. Indonesia pernah memperjuangkan hal ini di depan forum internasional.

Baca Selengkapnya: Kisah Awal Peringatan Hari Nusantara 13 Desember yang Tak Boleh Terlupakan

Hindia

Jika Kawan GNFI mengira bahwa penyebutan nama ‘’Hindia’’ erat kaitannya dengan masa penjajahan Belanda, maka sebenarnya perkiraan itu salah.

Justru nama Hindia diberikan oleh penjelajah asal Portugsi bernama Vasco da Gama yang datang ke tanah Indonesia saat menyusur sungai Indus tahun 1498 Masehi. Kala itu ia menemukan gagasan kepulauan dalam ekspedisinya dari Eropa ke Malabar (India).

Melihat gugusan kepulauan yang ia temukan berada di perbatasan langsung Samudera Hindia, Vasco pun menyebutnya kepulauan yang merupakan tanah Indonesia itu dengan nama ‘’Hindia’’. Sedangkan nama Hindia sendiri diciptakan oleh Herodotus, ahli ilmu sejarah asal Yunani.

Nederlandsch Oost-Indie

Nah, baru sebutan inilah yang erat kaitannya dengan masa penjajahan Belanda selama 350 tahun lamanya. Nederlandsch Oost-Indie yang artinya Hindia Timur Belanda juga sering disingkat dengan penyebutan Nederlandsch Indie atau yang kita kenal dengan Hindia Belanda.

Untuk diketahui, bangsa Belanda pertama kalinya datang ke tanah Indonesia pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Sejak saat itu, hingga sepanjang masa penjajahan, seluruh orang-orang Eropa menyebut tanah Indonesia sebagai Nederlandsch Oost-Indie.

Insulinde

Nama ini diberikan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli) yang tertulis dalam buku Max Havelaar yang dirilis 1860. Kemudian nama ini dipopulerkan oleh Professor P. J. Veth. Multatuli. Asal-usul pemberian nama ‘’Insulinde’’ ini berasal dari perkataan ‘Insulair’, ‘Insula’, dan ‘Indus’.

‘Insula’ dalam bahasa latin berarti ‘pulau’. ‘Indus’ berarti ‘Hindia’. ‘Insulinde’ diartikan sebagai pulau Hindia. Sedangkan alasan Eduard memberi nama Insulinde karena Eduard tidak suka mendengar nama ‘’Nederlandsch Oost-Indie’’ yang diberikan oleh Belanda.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Eduard merasa jijik dengan nama tersebut karena Eduard geram melihat perlakuan buruk Belanda terhadap rakyat Indonesia. Ia kerap mengkritik sikap tidak manusiawi Belanda.

The Malay Archipelago

Nama ini dipopulerkan oleh Alfred Russel Wallace yang dia berikan setelah berkunjung ke tanah Indonesia pada tahun 1854-1682. Sebenarnya The Malay Archipelago ini mencakup daerah Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

The Malay Archipelago ini berasal dari Yunani. ‘Malay’ diartikan sebagai ‘Melayu’. ‘Archipel’ yang terdiri dari kata ‘Archi’ yang artinya memerintah dan ‘plagus’ yang artinya laut. Dengan demikian The Malay Archipelago memiliki arti ‘’menguasai laut’’ atau berarti kumpulan pulau-pulau Melayu.

Zamrud Khatulistiwa atau The Emerald of Equator

Nama ini disematkan pada tanah Indonesia karena letak geografisnya yang sangat pas melintasi garis khatulistiwa. Jika dilihat, gugusan kepulauan Indonesia ini didominasi warna hijau yang menyejukan dan diibaratkan sebagai Batu Zamrud atau Emerald.

Keindahan Indonesia ini juga pernah disampaikan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli), seorang penulis Belanda abad ke-19 dalam salah satu suratnya. Isinya ia menggambarkan keindahan alam tanah Indonesia.

--

Sumber: Skola, Kompas.com | Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini