Diah Widuretno: Penggagas Sekolah Kontekstual Demi Pertahankan Eksistensi Desa

Diah Widuretno: Penggagas Sekolah Kontekstual Demi Pertahankan Eksistensi Desa
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #BanggaKaryaAnakBangsa

Pendidikan sejatinya adalah tempat tercetaknya generasi yang bisa membantu memecahkan persoalan di tengah masyarakat. Setelah lulus, harapannya ilmu yang diterima dapat diterapkan oleh mereka untuk masyarakat, bukan sebaliknya yang mengacuhkan atau meninggalkan lingkungannya.

Kesadaran inilah yang coba dibangun oleh seorang sukarelawan pendidikan di sebuah desa yang mulai banyak ditinggalkan oleh generasi mudanya. Meskipun tanpa dinding dan atap sekolah, ia tetap pertahankan eksistensi desa kecil yang ditinggalkan generasi mudanya.

Sekolah Pagesangan, Sekolah Kehidupan

Sekolah Pagesangan merupakan sekolah informal yang didirikan oleh Diah Widuretno sekitar tahun 2013. Sekolah ini berlokasi di Dusun Wintaos, Kabupaten Gunung Kidul. Diah sendiri sebenarnya bukanlah penduduk lokal desa tersebut. Ia adalah relawan yang memiliki minat pada dunia sosial, pendidikan, dan pemberdayaan.

Sekolah Pagesangan ini bisa dibilang lain dari sekolah yang ada pada umumnya. Sekolah ini sangat sederhana. Hanya memiliki satu tempat belajar yang itupun bukan gedung atau bangunan layaknya sebuah sekolah.

Murid-muridnya hanya belajar di gubuk sederhana yang tersusun dari bambu-bambu dan tidak memiliki dinding. Para muridnya juga tidak menggunakan sepatu, seragam sekolah, tas, ataupun perlengkapan sekolah lainnya.

Mereka diajarkan apa saja, tetapi utamanya adalah tentang bagaimana hidup yang berdaya. Ya, hidup yang berdaya dari desa dengan segala kelebihan maupun kelemahan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, sekolah ini diberi nama Sekolah Pagesangan yang berarti “Sekolah Kehidupan".

Mengajar di Semua Usia

Pada kelompok anak-anak, Diah mengajarkan hal-hal dasar, yaitu mengajarkan agar mereka lebih mengenali diri sendiri dan lingkungannya serta ditanamkan cara agar bisa mencintai dan merasa bangga sebagai anak desa. Diah juga memberikan pembekalan jiwa kemandirian dan rasa tanggung jawab.

Lain halnya dengan kelompok pengolah, yaitu kelompok yang notabenenya diisi oleh usia dewasa dan orangtua ini diajarkan cara menemukan dan mengembangkan produk dari hasil pertanian yang ada di desa. Hal ini dilakukan agar mereka bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan hidup pada warga Desa Wintaos. Hasil-hasil bumi, seperti singkong, kacang koro, kelapa, jagung, dan sebagainya diupayakan untuk bisa menjadi aneka olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dari biasanya.

Kemudian ada kelompok tani, mereka belajar tentang cara menyediakan hasil pangan dengan kualitas baik dan mampu menjaga keseimbangan alam di Wintaos.

Pendidikan Kontekstual

Pembelajaran di Sekolah Pagesangan juga diketahui memiliki keunikan. Siswa bukan hanya menjadi objek, tetapi juga dilibatkan sebagai subjek dalam merumuskan pelajaran apa saja yang perlu untuk dipahami dan dicarikan pemecahannya. Pembelajaran berbasis persoalan ini yang biasa disebut Diah sebagai pendidikan kontekstual. Ya, materi pembelajaran yang diangkat sesuai dengan kebutuhan atau masalah yang biasanya dihadapi di kehidupan bertani sehari-hari, seperti cara menambah kesuburan tanah.

Meski berbeda dengan sistem sekolah pada umumnya, Diah justru menjelaskan bahwa dengan metode semacam ini akan sangat efektif. Sebab masyarakat sebagai peserta didik bisa ikut terlibat merumuskan masalahnya dan terus termotivasi untuk mencari pemecahan masalah yang benar-benar dialaminya.

Mengangkat Ekonomi, Menekan Laju Urbanisasi

Kini, para remaja Wintaos banyak menghasilkan produk-produk makanan olahan, kurang lebih 9 komoditas hasil bumi dan 16 produk hasil olahan. Beberapa di antara produk olahan itu seperti tempe dari kacang koro, tepung mocaf dari singkong, tepung gaplek, tiwul instan, keripik singkong, sale pisang, dan minyak kelapa.

Semua produk olahan tersebut dijual secara daring di Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Di samping itu, produk olahan Wintaos juga dijual melalui pasar-pasar komunitas yang ada di Jogja. Untuk memudahkan distribusinya, Diah dan manajer pemasaran biasanya membawa sendiri produk tersebut sejauh rumah Diah yang ada di Imogiri, Bantul.

Meski sudah melakukan banyak hal untuk masyarakat Wintaos, nyatanya Diah tak pernah mengharapkan imbalan apapun. Semuanya ia lakukan secara sukarela, sesuai dengan passionnya selama ini. Ia pun mengaku, hanya ingin memberi manfaat bagi orang lain.

Dukungan keluarga juga menjadi motivasi Diah untuk terus menapaki perjuangan, yang mungkin tak semua orang mau melakukan hal yang sama ini. Sang suami justru sangat bangga, dengan jalan sunyi yang sudah menjadi ketetapan istrinya tersebut.

Local Heroes

Diah Widuretno, wanita tangguh, tulus, dan prestatif. Memiliki semangat hidup, menebar kebermanfaat. Anak bangsa yang melahirkan anak bangsa lainnya. Memberi cahaya di tengah redupnya perubahan.

Kesuksesan tak hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang dimiliki, tapi juga seberapa banyak karya yang telah diberi untuk lingkungan sekitar supaya lebih baik lagi. Diah Widuretno dapat membuktikan kepada kita bahwa makna hidup bisa dirasakan jika kita berbagi kepada sesama.*

Referensi:

  • Diah Widuretno – Berdaya di Tanah Gersang. CNN Indonesia Heroes. Channel Youtube CNN Indonesia. 2019
  • Agar Desa Tak Kehilangan Petani. Forest Diggest.2019

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini