Mengenal Noleech, Inovasi Anak Bangsa yang Dapat Memerangi Serangan Pacet

Mengenal Noleech, Inovasi Anak Bangsa yang Dapat Memerangi Serangan Pacet
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #BanggaKaryaAnakBangsa

Mungkin masih ada sebagian orang di luar sana yang belum mengenal pacet. Namun, bagaimana dengan lintah? Istilah lintah pasti sudah tidak asing lagi terdengar di telinga. Kedua istilah tersebut merujuk pada satu hewan yang sama, yaitu hewan hitam, berlendir, dan tidak bertulang belakang, serta gemar memarasit atau menghisap darah hewan lainnya termasuk darah manusia.

Di Indonesia, istilah pacet dan lintah dikonotasikan seolah-olah keduanya berbeda. Istilah pacet umumnya digunakan ketika menemukan hewan ini berada di daratan dengan kondisi kelembaban yang tinggi, seperti hutan, pegunungan, atau rerumputan. Sementara, istilah lintah biasa digunakan ketika hewan ini berada di lingkungan perairan, seperti danau, sungai-sungai dangkal, atau rawa.

Pacet atau lintah adalah salah satu hewan yang termasuk dalam Filum Annelida dengan subkelas Hirudinea. Dengan kata lain, pacet atau lintah merupakan kerabat dekat dengan cacing tanah yang juga termasuk dalam Filum Annelida, meskipun bentuk tubuh dan sumber makanannya memang tidak terlalu mirip.

Serangan pacet atau lintah sering dianggap meresahkan bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya di alam bebas. Tak jarang, serangan pacet atau lintah ini membuat panik dan takut korbannya lantaran kesulitan melepaskan gigitan pacet tersebut.

Gigitan pacet atau lintah memang tidak disarankan untuk dilepas secara paksa. Apabila dilepaskan secara paksa, akan menyebabkan darah mengalir keluar dari luka bekas gigitan pacet tersebut dan cukup sulit untuk dihentikan. Lantas, bagaimana solusi yang tepat dalam menangani masalah serangan pacet ini?

Pada pertengahan tahun 2019, lima orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berasal dari Fakultas Pertanian serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu Juwadi, Ade Buchori, Fajar Gustian Reyzaldi, Yurike Kurnila Prastika, dan Rifany Fairuz Aqilah berinovasi memanfaatkan limbah batang tembakau dan menjadikannya sebuah lotion bernama Noleech untuk mencegah serangan pacet.

Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbesar di ASEAN. Pada tahun 2018 saja, produksi tembakau di Indonesia mencapai 195.482 ton. Namun, kebanyakan petani hanya memanfaatkan daun tembakau dan menyisakan batangnya di lahan pertanian sebagai limbah. Oleh karena itu, Juwadi dan kawan-kawannya memanfaatkan limbah batang tembakau yang tidak terpakai ini menjadi sebuah lotion anti-pacet.

Batang tembakau ini tidak bisa dimanfaatkan secara langsung. Untuk memanfaatkannya, batang tembakau harus dikeringkan terlebih dahulu, lalu dihaluskan hingga menjadi serbuk. Serbuk batang tembakau kemudian dilarutkan ke dalam etanol dan didiamkan kurang lebih selama seharian hingga warnanya kecokelatan. Larutan etanol dan serbuk batang tembakau yang sudah berubah warna tersebut nantinya akan dievaporasi, untuk memisahkan cairan etanol dari dalam larutan sehingga didapatkan ekstrak nikotin murni.

Menurut hasil penelitian, batang tembakau diketahui mengandung senyawa alkaloid berupa nikotin dan nikotianin. Senyawa alkaloid ini dapat merusak sistem saraf tangga tali pada permukaan kulit lintah dan pacet. Kandungan Nikotin di dalam batang tembakau juga dapat merangsang ganglia otonom dan sumbu neuromuskular yang dapat menyebabkan depresensia sistem saraf pusat pacet.

Selain pada kentang, senyawa alkaloid ini dapat juga ditemukan pada tanaman lain yang masih berada di dalam satu famili dengan tembakau, seperti tanaman kentang ataupun tomat.

Mengingat habitat pacet atau lintah yang gemar berada di tempat-tempat dengan kelembaban tinggi atau tempat-tempat berair, Noleech pun dibuat menjadi produk yang anti-air sehingga produk ini dapat digunakan dalam berbagai medan dan tidak mudah hilang.

Selain mencegah serangan pacet atau lintah, Noleech juga diketahui mampu mencegah gigitan nyamuk dan bahkan melindungi kulit dari paparan sinar UV. Hal ini akan menjadi nilai tambah bagi pengguna Noleech karena tidak perlu lagi menyiapkan lotion tambahan ketika beraktivitas di luar ruangan sehingga dapat mengurangi biaya, serta volume barang bawaan.

Ketika pertama kali Noleech ini berhasil diciptakan oleh Juwadi dan kawan-kawannya, mereka mendapat dukungan yang tinggi dari IPB University, disampaikan langsung oleh rektor IPB University, Arif Satria, dalam akun instagram pribadinya yang mengungkapkan rasa bangganya terhadap Juwadi dan kawan-kawan karena telah berhasil membuat suatu inovasi.

Juwadi dan kawan-kawannya bersama rektor IPB | ptn.ipb.ac.id
info gambar

Sejak Juli 2019, Noleech sudah mulai dipasarkan dan tersedia di beberapa tempat di Bogor, seperti Botani Mart IPB University, Bogor Tenjolaya Park, dan Kampung Horta. Noleech dijual dengan harga Rp20.000 untuk kemasan tube dan Rp3.000 untuk kemasan sachet.

Pada tahun yang sama, Noleech dikirim ke Jepang untuk dilakukan uji sensitivitas dengan harapan produk Noleech dapat menembus pasar internasional. Di samping itu, hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan produk Noleech, khususnya pada mahasiswa-mahasiswa yang ada di Universitas Kagawa, Jepang.

Namun, dalam satu tahun terakhir, laman instagram Noleech Indonesia atau @noleech tidak terlihat aktif. Postingan yang terakhir kali diunggah tercatat pada tanggal 21 November 2019.*

Referensi: Antaranews megapolitan | Noleech Indonesia | Proteksi Tanaman IPB

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini