Kisah Pembangunan Studio Gamplong, Mini Hollywood Ala Indonesia

Kisah Pembangunan Studio Gamplong, Mini Hollywood Ala Indonesia
info gambar utama

Desa yang bernama Gamplong itu kini berubah menjadi studio alam. Letaknya di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta. Meski begitu, studio yang mendapat julukan Mini Hollywood itu kini tengah digandrungi oleh anak-anak muda Yogyakarta, bahkan wisatawan dari luar kota Yogyakarta.

Bagi Generasi Milenial dan Generasi Z, tak heran kalau tempat ini dijadikan destinasi wisata ketika berkunjung ke Yogya. Ini karena banyak spot Instagramable yang menjadi sasaran empuk para pemburu foto-foto estetik untuk hanya sekadar memenuhi dokumentasi pribadi, sampai membagikannya di media sosial.

Memasuki Studio Gamplong, Kawan GNFI akan disuguhi dengan pedesaan kuno Indonesia di masa lampau. Bahkan Kawan GNFI akan dibawa merasakan bagaimana kondisi dan situasi pedesaan pada abad ke-16. Benteng Kolonial Belanda pun ada di sini. Sengaja dibangun sedetil mungkin menyerupai benteng aslinya.

Studio Gamplong
info gambar

Situasi kota zaman dulu dengan rel trem di tengah-tengah kota pun bisa Kawan GNFI temui di sini. Rasanya benar-benar dibawa bernostalgia.

Desa Gamplong ini memang disulap menjadi studio lokasi syuting yang diprakarsai oleh sutradara Hanung Bramantyo. Hingga saat ini, total sudah ada 15 film karya Hanung Bramantyo yang menggunakan Studio Gamplong sebagai lokasi syuting.

Beberapa film yang ‘’memantik’’ tersohonya Studio Gamplong ini antara lain Bumi Manusia, Sultan Agung: The Untold Love Story, Habibie & Ainun 3, dan yang terbaru adalah Gatotkaca. Sejak studio ini dibangun 2017 silam, beberapa set dan bangunan semi permanennya kerap berubah. Tergantung keperluan set syuting yang dibutuhkan.

Kolaborasi Antara Hanung Bramantyo dan Pemerintah

Studio Gamplong
info gambar

Awalnya, studio yang beralamat di Jalan Gamplong No.1, Sumberrahayu Moyudan Sleman, Yogyakarta ini merupakan wujud dedikasi produksi film, Dapur Film, yang dikelola Hanung Bramantyo. Pertama kali Studio Gamplong dibangun untuk mendukung proses pengambilan gambar film kolosal Sultan Agung: The Untold Love Story pada tahun 2017 silam.

Berbagai dukungan pun datang, mulai dari pendiri Mustika Ratu, Moeryati Soedibyo, sampai ke jajaran pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Bangunan ikonik seperti bangunan bernuansa Keraton Mataram kini menjadi jantung Studio Gamplong. Bangunan-bangunan lainnya juga dibuat sedemikian rupa seperti kompleks Kampung Mataram yang menggambarkan kehidupan masyarakat era 1.600-an.

Kampung Belanda, Kampung Pecinan, bahkan sampai replika Kali Ciliwung pun dibangun di area seluas 10 hektare ini. Menariknya, selain untuk memenuhi kebutuhan set syuting film-filmnya, Studio Gamplong juga merupakan upaya meningkatkan potensi perekonomian daerah kelahirannya.

Setelah syuting film Sultan Agung: The Untold Love Story selesai, studio alam ini diserahkan kepada Bupati Sleman, Sri Purnomo, sebagai salah satu aset yang dapat mendorong wisata dan perekonomian warga sekitar. Kala itu Presiden Joko Widodo meresmikannya secara langsung pada 15 Juli 2018.

Meski sudah menjadi milik pemerintah setempat, namun Studio Gamplong masih dijadikan sebagai lokasi syuting film-film yang digarap oleh Hanung. Set lokasinya akan berubah sesuai kebutuhan dan permintaan. Dan setiap ada perubahan, selalu akan menarik perhatian wisata baru.

Pusat Kerajinan Tenun Tetap Dipertahankan

Sentra Tenun Desa Gamplong
info gambar

Sebelum menjadi lokasi pembuatan film, Desa Gamplong sudah sejak lama dikenal sebagai desa penghasil kerajinan tenun di Yogyakarta. Sejak tahun 1950, Desa Gamplong memang sudah dikenal sebagai sentranya kerajinan tenun.

Keterampinan menenun ini sudah dimiliki oleh warga setempat yang diperoleh secara turun temurun. Tidak ingin menghilangkan aset berharga lintas generasi ini, tital sentra kerajinan tenun di Desa Gamplong pun tidak akan dihilangkan.

Demi melengkapi status Studio Gamplong sebagai wisata edukasi, pusat kerajinan tenun yang ada di Desa Gamplong ini akan terus dilestarikan. Bahkan semakin berkembang karena Studio Gamplong telah memancing banyaknya wisatawan.

Salah satu kerajinan tenun yang dipertahankan adalah tenun limbah eceng gondong. Tidak hanya melihat dan mengenal proses langsung dari proses pengrajin tenun, para wisatawan juga bisa turut ikut belajar menenun menggunakan alat tradisional.

Selain puas berfoto ria dan memenuhi galeri foto, tak ada salahnya juga untuk menjajal keterampilan tenun di Studio Gamplong. Yuk, kita dukung ekonomi rakyat Desa Gamplong!

--

Sumber: Kompas.com | Liputan6.com | Kumparan.com | Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini