Mengungkap Strategi Pivot Macroscope Indonesia Kala Pandemi Melanda

Mengungkap Strategi Pivot Macroscope Indonesia Kala Pandemi Melanda
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #BanggaKaryaAnakBangsa

Perekonomian merupakan elemen krusial bagi masyarakat Indonesia. Meningkatnya faktor krusialitas tersebut menyebabkan makin besarnya ancaman fluktuasi dan seringkali menjadi tantangan bagi para pegiat usaha. Seperti saat menginjak kuartal II di tahun 2020 lalu, meluasnya pandemi COVID-19 mendorong telak perekonomian hingga ke tepi jurang resesi.

Dilansir Kemenkeu.go.id, intervensi kebijakan pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa kota pusat industri dan penurunan belanja investasi menjadi alasan terjadinya kontraksi atau pertumbuhan ekonomi nasional ke arah negatif hingga mencapai minus 5,3 persen.

Terpukul oleh situasi yang labil lantas tidak membuat semua sektor memutuskan untuk mundur. Beberapa justru mencoba untuk melakukan pivot usaha dalam berinovasi menyongsong dekade ke depan dengan karya yang lebih baik. Salah satunya adalah Macroscope Indonesia. Badan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) asal Kota Malang, Jawa Timur yang bergerak di bidang apparel ini mengambil langkah yang cukup berani agar tetap bertahan di masa pandemi.

Mengenal Macroscope Indonesia

Sebagai salah satu perusahaan apparelstart-up karya anak bangsa, Macroscope Indonesia telah mencatat sejumlah prestasi membanggakan, di antaranya penghargaan Top 10 South East Asia Creative Camp 2018 untuk kategori Business Proposal dan perusahaan delegasi dalam Indonesian Youth Economic Summit (IDEATES) 2019, yang dihadiri atas undangan Dewan Kepemudaan Nasional (DKN).

Dalam IDEATES 2019 pula, Macroscope berkesempatan untuk memberikan produk eksklusif kepada Sandiaga Salahuddin Uno, politikus penggagas program OK Oce yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Berdirinya Macroscope Indonesia direalisasikan oleh Osman Nur Chaidir sebagai chief executive officer (CEO) bersama tiga rekannya, Dary Ramadhan (CIO), Refano Trinanda (COO), dan Bramantyo Diandra (CFO) pada 17 Desember 2016. Startup ini digagas secara koinsiden guna menyelesaikan masalah pencarian vendor produksi kaos classmeeting bagi siswa SMP Negeri 3 Malang.

Identitas Macroscope bermakna "Cakupan yang luas". Terdiri dari kata “Macro” yang bermakna besar atau luas, dan “Scope” yang bermakna cakupan. Maka dari itu, berdirinya Macroscope diharapkan dapat menjadi apparel yang mencakup masyarakat luas atau mendunia. Terbukti hingga sekarang, perusahaan yang pernah mencakup pelayanan bisnis global ke Thailand dan Taiwan ini semakin berekspansi menjadi salah satu UMKM andalan di Indonesia.

“Awalnya kami hanya berfokus kepada clothing line product berupa kaos. Kemudian selama 4 tahun ke belakang, masyarakat lebih mengenal Macroscope sebagai perusahaan apparel yang kapabel dalam memproduksi berbagai jenis produk tekstil,” ungkap Osman Nur Chaidir dalam wawancara eksklusif via panggilan telepon daring bersama penulis.

Berbicara tentang branding produknya sendiri, Osman mengelaborasi beberapa poin keunggulan Macroscope jika disandingkan dengan beberapa rival lainnya yang telah mendominasi di bidang yang sama terlebih dahulu.

“Yang pertama adanya sistem budget penyesuaian. Kami bekerja dengan menyesuaikan finansial konsumen sehingga tercipta hubungan yang sama baik antar kedua belah pihak. Kedua, adanya garansi quality control di mana kami selalu menggandeng partner terbaik dalam memproduksi berbagai jenis produk Macroscope. Pernyataan ini bisa Anda (pembaca, red) buktikan sendiri dengan penilaian melalui ulasan yang tertera di situs Google. Sembilan puluh persen pelanggan mengatakan bahwa mereka puas terhadap kualitas pelayanan sekaligus kami berhasil meraih rate bintang 4,9. Terakhir, adanya segmen business to business (B2B) yang berarti Macroscope juga bekerja sama dengan perusahaan lain dalam bentuk partnership atau sponsorship dalam rangka meningkatkan engagement dan sifat saling menguntungkan bagi kami bersama rekan kolaborator untuk ke depannya,” tutur Osman.

Tantangan Bagi Macroscope di Era Pandemi

Tidak dapat dipungkiri bahwa COVID-19 telah mengubah pergerakan ekonomi kreatif dalam negeri. Sebagai CEO, Osman pun mengakui bahwa perusahaan rintisannya tersebut sempat memasuki masa-masa gelap ketika arus pandemi mulai melanda.

“Di tahun 2020 kami sempat mengalami kerugian dengan pendapatan yang turun hampir mencapai persentase 70% jika dikomparasi dengan tahun sebelumnya dan beberapa pesanan yang dibatalkan oleh konsumen. Dampaknya tidak terlalu masif sebenarnya sehingga kami mencoba untuk bertahan dengan pemasaran masker yang sempat viral mulai kuartal II. Namun, pada akhirnya Macroscope memutuskan untuk hold ekuitas sementara waktu dengan menghentikan produksi masker untuk mempersiapkan strategi pivot baru di tahun 2021,” ceritanya lagi.

Selain itu, Macroscope juga mengubah orientasi dengan lebih memprioritaskan untuk pemasaran produk clothing line yang bersifat ready stock. Ya, inovasi yang menjadi kekuatan Macroscope dalam mengambil ancang-ancang pivot usaha tentunya tidak main-main.

Meskipun sempat terhenti di tahun sebelumnya, Osman mengungkap bahwa Macroscope siap bangkit mengawali tahun dengan semangat baru sesuai tagar andalan mereka, Fresh Look Fresh Confident!

“Kami akan segera kembali menghadirkan produk baru berupa kemeja sebagai optimalisasi komitmen kami dalam memproduksi brand clothing line, tentunya dengan desain, kualitas, dan kemasan yang luar biasa!” kelakarnya.

Selain itu, Osman juga menekankan bahwa Macroscope akan mulai melakukan pengembangan layanan digital. Mulai dari situs web hingga kanal hotline untuk mempermudah konsumen dalam melakukan pemesanan dan transaksi via daring.

Sinergi Macroscope untuk Generasi Emas Indonesia

Sebagai bagian dari eksistensi ekonomi kreatif, Osman menaruh beberapa prospek bagi pemerintah dan masyarakat agar semakin bersinergi dengan para pegiat UMKM menyongsong generasi emas Indonesia.

“Kami ingin pemerintah memperhatikan UMKM lebih baik serta membuktikan komitmen dengan cara memperjelas Peraturan Presiden dan aturan turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja agar kami dapat memperoleh legalitas usaha yang lebih kuat. Ke depannya legalitas tersebut juga akan berpengaruh dalam mendapatkan bantuan modal yang lebih cepat dan lebih luas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Osman berharap pemerintah dapat memberikan inkubasi lanjutan berupa akses permodalan, pelatihan dalam membangun skill usaha secara lebih terstruktur, serta edukasi mengenai perpajakan bagi UMKM. Selain itu, program Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM) diproyeksi agar tetap dilanjutkan dalam rangka membantu percepatan pengembangan internal maupun eksternal usaha.

Di penghujung obrolan, Osman juga mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih memprioritaskan UMKM dalam negeri sebagai opsi ketika berbelanja bukan melihat dari segi marketplace.

“Contohnya ketika membeli produk luar negeri, secara tidak langsung Anda telah mematikan produktivitas karya anak bangsa. Maka dari itu, sudah seharusnya UMKM Indonesia di era industri 4.0 fokus pada optimalisasi digital production dan digital marketing berbasis Internet of Things (IoT) sehingga tercipta efisiensi waktu dan biaya dalam proses publikasi produk di masyarakat," tutup Osman.

Referensi: Kemenkeu.go.id | Macroscope Indonesia.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini