Eduard dan Ernest Douwes Dekker, Nama Sama Beda Persona

Eduard dan Ernest Douwes Dekker, Nama Sama Beda Persona
info gambar utama

Dari sekian banyak tokoh yang berpengaruh bagi Indonesia, terdapat dua sosok yang mempunyai nama belakang yang sama, yakni Eduard Douwes Dekker dan Ernest Douwes Dekker. Karena biasa didengungkan nama "Douwes Dekker"-nya, beberapa khalayak sering menganggap nama ini dimiliki satu orang saja.

Nama belakangnya sama, bukan berarti kembar. Hanya saja tidak sepenuhnya anggapan itu salah karena Eduard dan Ernest memang mempunyai pertalian darah.

Eduard dan Ernest sama-sama berdarah Belanda, itulah persamaannya. Namun, Kawan GNFI jangan salah pula mengira keduanya hidup pada era yang sama. Eduard hidup pada abad ke 19, sementara Ernest baru lahir pada pertengahan abad itu. Meskipun hidup pada masa yang berbeda, keberadaan keduanya di Indonesia—kala itu bernama Hindia Belanda—menjadi penting dalam memperjuangkan nasib kaum pribumi yang kebebasannya dibatasi oleh pemerintahan kolonialisme Belanda.

Eduard Douwes Dekker, Si Multatuli

Eduard Douwes Dekker lahir di Amsterdam, Belanda, pada 2 Maret 1820. Semasa mudanya ia menimba ilmu di sekolah Latin di Singel (kini bernama Barlaeus Gymnasium). Ayahnya menginginkan Eduard kerja di pemerintahan, tetapi karena bosan ia tidak menamatkan sekolahnya dan bekerja di sebuah kantor dagang.

Hindia Belanda saat itu menggoda bagi orang-orang di negeri Belanda. Kekayaan dan jabatan bisa didapat bila punya kemauan mengabdi pada pemerintahan kolonial. Maka dari itu, pada 1838 Eduard memutuskan pergi ke Pulau Jawa dan setahun setelahnya tiba di Batavia.

Berkat bantuan relasi dari ayahnya, Eduard diberi jabatan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor pengawasan keuangan Batavia. Ia kemudian dikirim bertugas sebagai seorang kontrolir di Kota Natal, Sumatra Utara, yang daerahnya terpencil. Eduard bekerja jauh dari keramaian. Namun, tugas-tugasnya jauh dari kata menyenangkan sehingga ia diberhentikan sementara.

Setelah dicopot jabatannya, Eduard tinggal di Padang. Eduard belajar dari pengalaman buruk dan memperbaiki diri yang membuatnya diangkat menjadi pegawai tetap. Kariernya menanjak, ia kemudain kembali bekerja di kantor residen Purworejo pada 1840-an.

Patung Multatuli karya Hans Bayens yang berdiri di Kota Amsterdam
info gambar

Selain Natal dan Purworejo, sejumlah tempat di Hindia Belanda pernah menjadi lapangan kerja bagi Eduard, antara lain Manado, Bogor, dan Ambon. Namun pekerjaannya sebagai asisten residen Lebak, Banten, pada Januari 1856 menjadi yang cukup dikenang. Ia menyaksikan pribumi golongan bawah diperas dalam sistem kolonial Hindia Belanda.

Eduard menemukan fakta bahwa kerja rodi yang diterapkan pada rakyat Lebak telah melampaui batas bahkan cenderung mengarah ke pemerasan. Sayangnya, sisi humanisnya itu bertentangan dengan pemerintah kolonial. Setelah mengadu ke atasannya, Eduard malah mendapatkan peringatan keras. Kecewa dengan balasan yang didapat, akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatannya.

Pengalamannya sebagai pejabat di Lebak kemudian dituangkan dalam novel satire berjudul Max Havelaar. Ia menggunakan nama pena "Multatuli" yang berasal dari bahasa Latin yang berarti "Aku sudah banyak menderita". Ia membuat novel tersebut di sebuah kamar hotel di Brussel, Belgia, pada 1859.

Bukunya terbit pada 1860 dan terjual di seluruh Eropa. Sisi kelam di Hindia Belanda pun terbuka walaupun ada yang menilai penggambaran tokoh dalam novel tersebut dilebih-lebihkan.

Karya Multatuli tentu menyebar hingga Hindia Belanda. Raden Ajeng Kartini, Sukarno, dan tokoh bangsa yang lain turut mendapat pengaruh dari tulisannya yang menggugat penjajahan yang dilakukan bangsanya sendiri pada bangsa lain.

"Ada seorang Belanda yang menentang terhadap bangsanya, itu timbul dari Multatuli. Seorang politikus tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanism (humanisme). Dan politikus tidak mengenal Multatuli bisa jadi politikus kejam,"

~ Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan Indonesia Angkatan '45)

Ernest Douwes Dekker, Penggagas "Nusantara"

Douwes Dekker yang lain bernama panjang Ernest François Eugene Douwes Dekker. Pada masa kemerdekaan Sukarno memberinya nama beraroma Indonesia, Danudirja Setiabudi. Ernest sendiri lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879 atau delapan tahun sebelum Eduard Douwes Dekker wafat di Jerman.

Lalu apa hubungan antara Eduard dan Ernest yang memiliki nama belakang yang sama?

Jawabannya sesimpel ini. Eduard merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Salah satu kakaknya bernama Jan Douwes Dekker mempunyai anak bernama Auguste yang kemudian menikah dengan wanita berdarah Jawa-Jerman, Louisa Neumann, di Pasuruan. Dari kedua pasangan itu lahirlah Ernest. Jadi, Ernest merupakan cucu dari Jan dan Eduard.

Ernest terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara dan keluarganya sering berpindah-pindah. Saudaranya yang perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (lahir 1876) dan Julius (1878) terlahir sewaktu keluarga Dekker berada di Surabaya, dan adik laki-lakinya lahir di Meester Cornelis (Jatinegara), Batavia pada 1883. Dari situ, keluarga Dekker berpindah lagi ke Pegangsaan, Jakarta Pusat.

Kiprah Ernest menggaung pada zaman pergerakan nasional. Pada 1912, ia bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat membentuk Indische Partij (Partai Hindia). Partai bentukan Tiga Serangkai ini didirikan sebagai bentuk jawaban santernya diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap orang keturunan Belanda dan orang asli Indonesia.

Ernest adalah orang yang kritis, sama seperti pendahulunya Multatuli. Ia berprofesi sebagai jurnalis yang sering menerbitkan artikel berisi sindiran kalangan pro-kolonial yang kebanyakan orang Indo, kaumnya sendiri.

Diskriminasi pendidikan oleh pemerintah kolonial kepada kaum pribumi masih terus berjalan pada awal abad XX. Hal inilah yang membuat Ernest tergerak untuk mempropagandakan sebuah pemikiran dan pembelajaran tentang makna nasionalisme untuk tujuan akhir yaitu Hindia Belanda memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan yang tidak mudah.

Selain aktif beroraganisasi menyuarakan semangat nasionalisme dan menerbitkan tulisan yang dicap berbahaya oleh pemerintah kolonial, Ernest juga punya andil mempopulerkan nama "Nusantara", suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Ernest mengambil nama itu dari Pararaton, sebuah naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad XIX yang diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada 1920.

Namun, perlu dicatat pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian Nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa ("antara" dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari "Jawadwipa" (Pulau Jawa).

Oleh Ernest kata Nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi non-Jawais itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli, maka Nusantara memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern.

Istilah Nusantara dari Ernest ini lalu dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda kala itu. Sampai hari ini pun istilah Nusantara masih sering dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang hingga Merauke.

Banyaknya pengaruh Ernest dalam pergerakan nasional membuatnya diasingkan ke Suriname pada 1941. Barulah setelah Indonesia meraih kemerdekaan sejumlah orang buangan kiriman Belanda termasuk dirinya dibebaskan pada 1946.

Pada masa revolusi nasional, Ernest ikut terjun dalam aktivitas politik Indonesia. Selain itu, ia juga aktif mengelola Ksatrian Instituut sebuah sekolah dan yayasan di Kota Bandung yang menjadi tempat belajar bagi murid pribumi, peranakan Tionghoa dan Indo-Eropa.

Pada 28 Agustus 1950, Ernest berpulang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Nama besarnya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia. Gelar pahlawan didapatnya dari Presiden Sukarno pada 1961.

---

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini