Es Krim Jamu, Jajanan Sehat yang Memanfaatkan Rempah Alam

Es Krim Jamu,  Jajanan Sehat yang Memanfaatkan Rempah Alam
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #BanggaKaryaAnakBangsa

Pada masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, kita harus menjaga kesehatan agar terhindar dari paparan virus Corona yang kini sudah menyebar di Indonesia. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan, yakni dengan memperbanyak minum vitamin, menjaga pola makan, rajin berolahraga, dan menerapkan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak).

Sebenarnya, pencegahannya tidak cukup sampai di sini mengingat virus ini menyerang sistem imun pada tubuh manusia yang dapat mempercepat proses penularan terhadap orang yang berada di sekitarnya. Butuh yang namanya asupan nutrisi yang dapat dikonsumsi secara terus-menerus, tetapi tetap memberikan efek yang baik tentunya. Salah satunya adalah jamu.

Jamu merupakan pengobatan tradisional yang sudah dikenal sejak lama. Dengan memanfaatkan rempah-rempah pilihan, seperti asam jawa, jahe, kencur, temu lawak, dan berbagai macam rempah lain. Dilansir dari Alodokter, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013, kurang lebih sebanyak 60% penduduk Indonesia yang sudah mencapai usia 15 tahun ke atas pernah minum jamu. Dan 95% dari mereka dapat merasakan manfaat setelah mengonsumsi ramuan tradisional tersebut.

Ratusan tahun dijajah, tidak mengubah keingininan negara barat untuk menguasai wilayah yang penuh dengan rempah-rempah dan sudah menjadi identitas dari Indonesia. Jamu memang sudah ada sejak dahulu. Rasa dan aromanya masih menjadi khas dari rempah-rempah itu sendiri. Dan ini dijadikan sebagai patokan, yakni cara alternatif nenek moyang untuk membantu proses penyembuhan sebelum mengenal obat-obatan layaknya di apotek seperti sekarang. Tidak jarang pula orang terdahulu lebih terlihat sehat, bugar bahkan jarang sekali terkena penyakit daripada orang zaman modern seperti saat ini.

Rasa dari jamu memanglah identik dengan rasa yang pahit atau lebih rasa asli dari rempah itu sendiri. Hal ini bukan lagi menjadi sebuah alasan mengapa orang-orang terutama anak-anak tidak terlalu menyukai untuk minum jamu. Namun, tidak menyulitkan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan menginovasikan jamu yang semula berbentuk cair kemudian dijadikan sebagai es krim yang banyak diminati.

Lima mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Elok Pawening Maharani, Sari Yuslia, Arif Sugianto, Anisa Dian Safitri dan Aryo Dwi Nugroho membuat inovasi baru dari jamu-jamuan yang enggan untuk diminati, kemudian disulap menjadi es krim tanpa mengurangi rasa yang khas dari jamu tersebut. Produk dari kelima mahasiswa ini diberi nama Herbatic, yang merupakan kepanjangan dari Herbal Nabati Ice Cream.

Alasan utama dalam pembuatan es krim jamu atau Herbatinc ini, menurut Elok Pawening, yakni adanya keprihatinan kepada masyarakat sekitar yang masih sedikit minat mereka untuk mengonsumsi jamu. Padahal jika dilihat dari segi manfaatnya, jamu merupakan minuman menyehatkan. Jutaan Rempah-rempah hanya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan obat herbal. Selanjutnya, masyarakat juga menilai bahwa jamu sebenarnya kurang praktis dalam proses penyajian sehingga hal itu kurang diminati oleh mereka.

Akhirnya, Elok dan teman-temanya berupaya untuk menemukan sebuah solusi bagaimana caranya kemasan jamu itu lebih menarik perhatian masyarakat sekitar. Dengan memodifikasi jamu menjadi es krim.

Herbatic ini dibuat dari kombinasi antara sari kacang merah dan berbagai jamu-jamuan. Hal ini menjadi cara alternatif bagi mereka yang mendukung disersifikasi pangan lokal nabati untuk vegetarian, kalangan diet lemak dan pecinta jamu-jamuan sedangkan es krim dibuat dari lemak nabati, yakni dari susu sapi yang menjadi pantangan bagi mereka yang menderita lactose intolerant, yang sedang atau vegetarian.

Es krim jamu ini sangat menyehatkan. Karena di dalamnya terdapat beberapa kandungan penting seperti jahe, temu lawak, kencur yang mengandung zat aktif minyak atsiri, zingerone, antimikrobia, antioksidan, polifenol, curcumin, shogaol, geraniol dan alkaloid.

Dalam proses pembuatan es krim. Glikemik dari kacang merah dan jamu-jamuan memang sedikit rendah, yakni sekitar 20-32. Sehingga hal ini tidak diragukan bagi mereka yang mengonsuminya merupakan penderita dari diabetes. Selanjutnya, proses pengunyahan dari kacang merah dan es krim memang memerlukan sedikit waktu yang bisa menyebabkan kadar gula itu bertambah. Namun, jangan khawatir.

Meskipun nantinya menggunakan insulin, kemungkinan besar insulin yang dibutuhkan tidak seberapa karena makanan yang dikonsumsi bukan mengandung sebuah karbohidrat yang tinggi. Komposisi dari pembuatan Herbatic ini, tanpa menggunakan telur, mentega dan gelatin. Namun. dua kompisisi itu diganti, yang mana mentega diganti dengan margarin sedangkan gelatin diganti dengan maizena.

Dalam hal marketing, kurun waktu satu minggu sudah bisa menjual mencapai angka 90 cup Herbatic dengan harga Rp3.500 per cupnya. Varian rasa dari Herbatic dimulai dari jahe, kunyit asam, temu lawak, dan jahe merah. Karena tidak menggunakan bahan pengawet, konsumsi produk Herbatic ini tidak bisa bertahan lama layaknya es krim pada umumnya.

Referensi:Alodokter | Detik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini