#LocalPride, Apa yang Membuatnya Menjadi Eksis?

#LocalPride, Apa yang Membuatnya Menjadi Eksis?
info gambar utama

Istilah #LocalPride sebenarnya sudah ada sejak tahun 2017. Berawal dari istilah ‘Cintailah Produk-Produk Indonesia’, kini memiliki new term menjadi #LocalPride yang baru mulai didengar orang-orang saat tahun 2019.

Tagar ini muncul ke permukaan seiring dengan munculnya berbagai macam merek sneakers buatan produk anak bangsa. Sampai sekarang, tak hanya sneakers, banyak anak muda mulai berlomba-lomba menciptakan berbagai macam jenis clothing line.

Yang tadinya hanya berawal dengan konsep streetwear atau terkenal dengan kesan Hype Beast, anak muda kini mulai menunjukkan jati dirinya melalui style fesyen ciri khasnya masing-masing. Bahkan, local business sampai mampu menggaet banyak fans baru berkedok ‘bangga buatan lokal’ ini.

Lebih Didominasi Kawula Muda

Hasil sensus penduduk 2020 yang dirilis BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan mayoritas penduduk ialah generasi Z dan milenial. Sebagai catatan, generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997-2013. Generasi ini tercatat mencapai persentase 27,94%. Ditambah juga generasi milenial yang lahir antara tahun 1981-1996 mencapai persentase 25,87%. Dua generasi ini dapat dikategorikan sebagai kawula muda alias anak muda.

Ketika kita melihat seorang influencer atau teman kita sendiri mem-postingstyle fesyennya di media sosial, tak jarang kita merasa tertarik dan menilisik kira-kira brand apa yang sedang dikenakan mereka. Yap! Mulai dari sini peran media sosial sangat berpengaruh bagi kawula muda.

Saat ini, banyak berseliweran di media sosial hasil eksperimen gaya baju ala mereka sendiri. Tak jarang juga mereka memberikan tips mix and match pakaian. Dengan tagar #OOTD (Outfit Of The Day), mereka berlomba-lomba mencitrakan diri mereka sendiri melalui gaya fesyen. Bukankah ada yang bilang, “You are what you wear”?

Harga Murah, Bangga Dapet

“Kalo lo tau 2009, orang-orang mindset-nya adalah ‘brand lokal, ngapain gue beli lo. Gue mending beli yang lain’, masih gitu kan?” jelas Direz Zender salah satu Co-Founder Darahkubiru yang merupakan forum denim (yang berfokus pada produk lokal) terbesar di Indonesia.

“Kalo sekarang beda, dong? ‘brand luar ngapain gue beli lo. Lo mahal mending gue beli brand lokal, pride gue dapet, harga dapet, cocok’,” sambung Direz di salah satu episode Prambors Podcast bersama dr. Tirta.

Dari statement ini, mulai menyadarkan masyarakat Indonesia semakin bangga dengan produk-produk yang dihasilkan anak bangsa. Yang tadinya masyarakat Indonesia masih berkutat dengan gengsi mereka akan brand ternama asal luar sekarang beralih menggunakan brand lokal.

Tidak dapat dipungkiri, pola pikir kita selalu terpaku pada ‘ada harga, ada rupa’. Artinya, wajar jika barang mahal asal kualitas barang tersebut bagus dan panjang umur. Akan tetapi, sudah banyak produk clothing line yang menawarkan kualitas barang yang tinggi setara dengan brand luar, tetapi harga tetap cocok di kalangan masyarakat Indonesia, serta plus desain yang tak kalah uniknya.

Karena cita-cita Indonesia dahulu yang bersusah payah menggaungkan “Bangga Buatan Bangsa” ini akhirnya terwujud, masyarakat pun menjadi overproud. Yang tadinya sebatas hanya ingin menyadarkan bangsanya sendiri, sekarang kita bercita-cita agar tidak cuma #LocalPride tapi menjadikan brand lokal yang kita miliki saat ini bisa go international. Jadi, udah, deh, gak zaman gengsi brand lokal lagi.

Annual Event Membuat Makin Eksis

Brand-brand clothing line lokal baru semakin terus bermunculan. “Kenapa kita tidak jadikan satu wadah bagi mereka untuk berpromosi?”. Mungkin itulah yang ada dibenak para pendiri annual event yang mengusung konsep produk lokal.

Salah satu annual event clothing line yang sangat amat ditunggu bagi kalangan muda dan mungkin sudah sangat kita kenal, yaitu Jakarta Sneaker Day salah satunya. Karena melek akan atensi masyarakat Indonesia terhadap produk lokal lainnya, annual event ini tidak lagi hanya berfokus pada sneakers.

Jakarta Sneaker Day memperluas segmentasinya ke seluruh aspek fesyen guna mengeksplorasi keanekaragaman produk lokal. Selain Jakarta Sneaker Day, masih ada Urban Sneaker Society, Makerfest, dan ada juga Pop Up Market Jakarta yang diorganisir oleh mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya yang ikut andil mewadahi dan mendukung brand-brand lokal.

Pemerintah juga sadar akan potensi industri kreatif di tanah air semakin maju. Oleh karena itu, tahun lalu tampil perdana “Indonesia Local Brands Expo 2020” yang baru diselenggarakan secara virtual. Pameran produk lokal ini digagas oleh Asosiasi Lesensi Indonesia (Asensi).

Lagi-lagi peran media sosial mampu menarik rasa penasaran masyarakat akan acara tahunan clothing line produk lokal. Banyak masyarakat yang awalnya hanya ingin ikut merasakan euforia dan atensi akan produk lokal, tak kalah banyak juga yang menjadi fans dadakan dari #LocalPride melalui event tersebut.

Sayangnya, berawal dari ‘overproud’ inilah banyak oknum yang memanfaatkan kesempatan untuk membeli produk tersebut kemudian resell dengan harga 2 kali lipat dari harga aslinya. Sehingga, kesan “pride” yang sebenarnya tidak berarti lagi.

Akhir kata, semoga industri kreatif di Indonesia yang kini semakin melambung tinggi tetap langgeng. Mari kita terus tetap bangga menggunakan produk-produk asli buatan anak bangsa.

Clothing line brand lokal kini tak hanya menawarkan gaya streetwear, sudah banyak yang menciptakan gaya fesyen dengan keunikan dan kecirikhasan masing-masing. Oleh karena itu, terus bereksplorasi dengan style fesyen yang sesuai jati diri melalui brand clothing line lokal. Salam #LocalPride!

Referensi: Koran Harian Kontan | Prambors Podcast | SWA | Mojok.co

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini