Mengenal Keelokan Budaya Minangkabau di TMII

Mengenal Keelokan Budaya Minangkabau di TMII
info gambar utama

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budayanya, bahkan dikenal sampai ke mancanegara. Mulai dari bahasa, pakaian adat, tarian, kesenian daerah, upacara adat, lagu khas daerah, dan rumah adat tradisional. Keberagaman budaya Indonesia telah melekat dan menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia.

Keberagaman budaya Indonesia bisa dilihat dan dinikmati dengan berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berada di Jakarta. Taman Mini Indonesia Indah merupakan kawasan taman wisata budaya yang bertemakan budaya serta adat istiadat bangsa Indonesia.

Di Indonesia, hampir setiap suku bangsa memiliki bentuk dan corak bangunan yang berbeda, bahkan tidak jarang satu suku bangsa memiliki lebih dari satu jenis bangunan tradisional. Hal itu dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki. Gambaran itu diwujudkan dalam bentuk anjungan daerah yang mewakili setiap suku-suku bangsa Indonesia di TMII.

Anjungan daerah hadir di TMII selain sebagai objek wisata untuk memperkenalkan kebudayaan dan kekayaan alam bangsa Indonesia, juga sebagai objek wisata yang edukatif. Pengunjung bisa merasakan serta menikmati eloknya budaya Minangkabau yang begitu kental di Anjungan Sumatera Barat. Selain manambah wawasan, berkunjung ke anjungan daerah dapat mengobati rasa rindu akan kampung halaman.

Bangunan-bangunan di anjungan daerah merupakan miniatur yang mirip dengan daerah asalnya. Bentuk rumah adat dibuat sesuai dengan bangunan asli, baik ukuran, bentuk atap, ragam hias, susunan ruangan, bentuk jendela, tangga, dan detail lainnya.

Anjungan Sumate=ra Barat terdiri dari lima bangunan adat, yaitu rumah besar atau sering disebut rumah gadang, balai adat, surau, lumbung padi, dan rumah mentawai. Bangunan dan rumah adat yang ada di sana digunakan sebagai ruang pameran dan peragaan untuk menampilkan beragam budaya Minangkabau. Seperti pakaian adat, benda sejarah, peralataan kesenian, hasil kerajinan, dan benda-benda budaya lainnya.

Berikut bangunan adat yang bisa Kawan nikmati saat berkunjung ke TMII.

1. Rumah Besar (rumah gadang)

miniatur rumah gadang di TMiI | foto: indonesiakaya.com
info gambar

Dalam memperkenalkan 'Ranah Minang', Anjungan Sumatera Barat menampilkan model rumah gadang. Rumah ini aslinya dihuni oleh sebuah keluarga besar yang dikepalai oleh seorang Ninik Mamak yang bergelar Datuk. Namun di anjungan ini, rumah besar tersebut digunakan untuk memamerkan aspek budaya dan aktivitas kesenian Minangkabau.

Rumah besar yang terdapat di anjungan ini adalah model Rumah Gadang Sembilan Ruang Empat Deret. Uniknya rumah besar ini memiliki bentuk atap yang menyerupai seperti tanduk kerbau yang sering dihubungkan dengan cerita tambalang Minangkabau. Selain itu, rumah berbentuk panggung ini hanya memiliki satu tangga untuk masuk ke dalam rumah. Bagian dindingnya pun diukir dengan motif asli Minangkabau dengan motif flora dan fauna yang didominasi oleh warna merah, hitam, kuning, dan hijau.

Begitu memasuki bagian dalam, pengunjung langsung disuguhkan oleh beragam budaya Minang, seperti busana adat, pelaminan pengantin Padang Pariaman, kain Songket Silungkang, dan seperangkat musik Talempong. Ada juga struktur pemerintahan Kerajaan Pagaruyung di masa lalu yang dikenal dengan sebutan Rajo Tigo Selo, Basa Ampek Balai.

2. Balai Adat (balairung)

Bangunan menyerupai pendopo ini merupakan ruang tanpa dinding yang hanya beratap dan berlantai. Balai adat pada masyarakat Minang digunakan sebagai tempat pertemuan adat untuk mengadakan musyawarah. Segala permasalahan berkaitan dengan keluarga, masyarakat dan kaum dipecahkan bersama melalui musyawarah. Sementara balai adat yang ada di anjungan ini difungsikan sebagai tempat aktivitas dan balai pertemuan.

Keadaan ini menjadi suatu keunikan dalam kehidupan masyarakat di Minangkabau. Adanya kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Artinya, kerja sama merupakan wujud hidup gotong royong masyarakat Minang.

3. Surau

Bagi masyarakat Minang masa dahulu, surau yang berarti musala atau masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah dan belajar mengaji saja, tetapi juga berfungsi sebagai tempat belajar ilmu bela diri silat.

Dalam filosofi kebudayaan Minangkabau, surau memiliki peran yang sangat penting dalam struktur sosial masyarakat. Surau tidak hanya dianggap sebagai sebuah lembaga keagamaan, tetapi memiliki fungsi sebagai tranformasi nilai-nilai budaya dan agama dalam masyarakat Minang.

Surau merupakan suatu lambang kesakralan yang mencerminkan sikap religius kepada Allah Yang Maha Kuasa. Generasi muda pada masyarakat Minang bisa dikatakan ditentukan dari banyaknya waktu yang mereka habiskan sebagai bagian dari hidupnya di surau.

4. Lumbung padi (rangkiang)

Dalam masyarakat Minang, lumbung padi lebih dikenal dengan nama rangkiang. Rangkiang merupakan sebuah rumah kecil di sebelah atau di depan rumah gadang yang digunakan untuk menyimpan padi.

Padi yang disimpan dalam rangkiang itu nantinya digunakan apabila terjadi kelaparan akibat kehabisan sumber makanan. Rangkiang di Minangkabau memiliki banyak fungsi, tergantung pada letak berbagai corak bangunan rangkiang dan tata letaknya.

Rangkiang yang ada di Anjungan Sumatera Barat terdiri dari dua macam, antara lain rangkiang berkaki 4 dan rangkiang berkaki 6. Meskipun keduanya berfungsi sama untuk menyimpan padi, namun yang membedakannya adalah fungsi peruntukannya.

5. Rumah Mentawai

rumah panjang uma | foto: merahputih.com
info gambar

Rumah suku asli Mentawai ‘Uma’ merupakan sebuah rumah panggung yang ramping memanjang ke belakang. Bagian atap rumah mentawai terbuat dari ijuk sebagai simbol ramah lingkungan. Sementara pada tiang penyangga, dinding, dan lantainya pun terbuat dari papan kayu dan bambu.

Suku Mentawai di Sumatra Barat dikenal sebagai suku yang memiliki kebudayaan eksotis, yaitu seni merajahnya. Bahkan seni merajah ini menjadi salah satu seni tato tertua di dunia. Selain itu, suku Mentawai juga dikenal sebagai salah satu suku yang mengandalkan perahu sebagai alat transportasi tradisional.*

Referensi: travel.detik | kemdikbud.go.id | kompas.com | tamanmini.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini