Antara Vaksin dan Politik

Antara Vaksin dan Politik
info gambar utama

*Penulis Senior GNFI

Penemuan vaksin dari beberapa negara maju, memunculkan harapan akan berakhirnya pandemi covid-19 yang berkepanjangan dan melanda negara-negara seluruh dunia. Namun disamping itu, penemuan vaksin ini juga memunculkan persaingan –tidak hanya dalam bisnis tapi persaingan politik antar negara. Saya pernah menulis di GNFI ini seputar vaksin dan kebanggaan negara. Masing-masing perusahaan farmasi skala global negara - negara maju berusaha menemukan vaksin seperti Amerika Serikat, Cina dan Inggris; dan tentunya berupaya dengan segala cara termasuk cara politik negara agar vaksin buatan negaranya mendominasi dunia.

Namun penemuan vaksin negara-negara maju itu menimbulkan kekhawatiran soal “Ketidak seimbangan distribusi”, karena dikhawatirkan vaksin itu hanya didistribusikan dinegara produsen sendiri atau di negara-negara sekutunya; sementara negara-negara berkembang dan miskin tidak kebagian vaksin yang mengakibatkan penyeberan covid-19 di negaranya masing-masing mencapai tingkat sangat berbahaya.

Persaingan itu terus berlanjut sampai sekarang. Penemuan vaksin convid-19 oleh dua perusahaan farmasi raksasa Amerika Serikat Pfizer dan Moderna, Astrazeneca dari Inggris menjadi berita breaking news berhari-hari di saluran – saluran TV internasional. Tentu dengan pengaruh dominasi media barat, berita itu menyebar dengan cepat. Masyarakat dunia disuguhi dengan penemuan produk vaksin dua perusahaan tersebut dengan informasi penting misalnya soal tingkat efikasi ysng tinggi, tidak ada side effect, bisa disimpan dalam tempat pendingin sekian derajat dsb. Dan yang penting adalah pesan bahwa vaksin “produksi negara saya lebih baik dari yang lain”.

Lalu muncul berita tandingan bahwa Rusia juga menemukan vaksin namanya Sputnik V dan presiden Vladimir Putin menjadi kepala negara yang bersedia disuntik vaksin buatan negerinya itu. Namun bisa diduga berita-berita dari media dunia barat ramai-ramai mengkritik penemuan itu tentu dengan berbagai alasan ilmiah, misalkan belum dilakukannya uji klinik level 3, atau belum ada tulisan di jurnal internasional, kemungkinan side effect-nya membahayakan manusia, tingkat efikasinya rendah dan lain lain. Segala sanggahan dari pihak Rusia jelas-jelas ditolak, yang intinya adalah pesan marketing pada negara-negara didunia “jangan beli vaksin Rusia”. Berita yang serupa juga gencar memberitakan sisi negative vaksin Sinovac buatan negara Cina.

Baru-baru ini muncul berita media internasional (seperti BBC0 bahwa vaksin buatan Rusia itu terbukti tingkat efikasinya 92%. Berita lain menyebutkan vaksin Sputnik V ini bisa disimpan ditempat yang tidak terlalu dingin, tidak ada efek sampingan yang membahayakan, lebih efisien dan harganya lebih murah. Tentu negara-negara yang berseberangan dengan barat, atau negara-negara berkembang mengambil keputusan segera untuk membeli vaksin buatan Rusia ini, misalnya Iran, beberapa negara di Amerika Latin dan Afrika. Bahkan ada negara blok Nato juga memutuskan memilih membelinya.

Memang ada pernyataan dari beberapa tokoh dunia termasuk Direktur WHO bahwa perlu memisahkan urusan upaya menghentikan pandemi covid-19 ini dengan urusan politik, karena ini menyangkut soal kemanusiaan dimana pandemi ini melanda semua negara didunia tanpa memperdulikan agama, ras, suku bangsa, dan pilihan politik negara. Namun tetap saja kepentingan politik negara-negara kaya rasanya lebih mengemuka ketimbang soal kamanusiaan itu.

Vaksin dan obat covid-19 buatan anak bangsa Indonesia juga mengalami hal serupa, artinya apapun hasil positif nya penemuan itu, media dunia tidak mewartakannya, padahal penelitian yang dilakukan berbagai pakar dari Perguruan Tinggi di Indonesia sudah ditulis di jurnal internasional. Toh tetap saja “nobody knows” atau nyaris tak terdengar di kancah persaingan global.

Politik kebangsaan Indonesia dalam hal ini perlu terus menerus digalakkan, artinya media di Indonesia termasuk para pakar, politisi, influencer dsb harus tidak boleh terjebak dengan “political game” negara lain. Semua hasil gemilang anak bangsa perlu diwartakan luas– meskipun media dunia tidak melakukannya; kalau ada penemuan anak bangsa yang masih ada kekurangan, perlu ramai-ramai diberi masukan perbaikan, yang membangun bukan hanya mengkritik tanpa solusi. Tidak boleh ada rasa persaingan (atau cemburu) sesama anak bangsa dalam upaya membuat produk dalam negari. Kepentingan nasional harus lebih menjadi prioritas semua pihak (negara-negara lain juga melakukan hal yang sama).

Kalau kita mengikuti jejak permainan politik global dalam hal ini persaingan penemuan vaksin covid-19, maka vaksin Merah Putih (atau apapun namanya) hasil anak bangsa itu hanya tinggal narasi hampa belaka; sementara itu mindset generasi muda kita hanya dipenuhi dengan berita dan pengetahuan tentang kehebatan negara-negara lain, sehingga menafikan potensi bangsanya sendiri.

Wallahualam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini