Tidak Perlu Lagi Meributkan Durinya, Inilah Olahan Bandeng Khas Nusantara

Tidak Perlu Lagi Meributkan Durinya, Inilah Olahan Bandeng Khas Nusantara
info gambar utama

Setiap kali mendengar kata bandeng, hal pertama yang selalu terbayang pasti tulang-tulang halus atau duri yang sangat banyak di dalamnya. Keberadaan duri ini kerap kali membuat para penikmat bandeng kesulitan pada saat menyantapnya karena diperlukan kehati-hatian ekstra agar duri ikan bandeng tidak ikut termakan.

Masalah duri ikan bandeng ternyata telah dialami oleh banyak orang sejak zaman dahulu bahkan sejak abad ke-16 masehi. Hal ini pun mendorong masyarakat Indonesia dalam menciptakan olahan-olahan bandeng yang mudah untuk dinikmati tanpa harus memikirkan masalah durinya. Berikut beberapa olahan bandeng khas nusantara yang dapat dinikmati dengan mudah tanpa perlu takut dengan durinya.

Sate Bandeng Khas Serang

Sate Bandeng Serang | Indonesia Kaya
info gambar

Sate bandeng merupakan kuliner olahan bandeng khas dari Kota Serang, Banten. Apabila biasanya sate di Indonesia berbahan dasar daging, seperti daging ayam, sapi, atau kambing, sate yang satu ini justru menggunakan bandeng sebagai bahan bakunya.

Sate bandeng telah ada sejak abad ke-16 masehi pada masa kesultanan Banten. Di masa itu, ikan bandeng menjadi salah satu ikan yang mudah didapatkan dari nelayan di kawasan pesisir Serang. Ikan bandeng yang berasal dari sana dikenal memiliki rasa yang nikmat, pulen, dan tidak berbau lumpur.

Olahan sate bandeng tercetus oleh juru masak kerajaan saat ingin menyajikan hidangan ikan bandeng. Setelah dibuat pusing dengan keberadaan duri di dalam daging ikan, sang juru masak akhirnya menemukan cara untuk membuat olahan bandeng yang terbebas dari durinya.

Juru masak tersebut awalnya menekan dan memukul-mukul ikan bandeng hingga dagingnya hancur dan terpisah dari tulang maupun kulitnya. Tulang ikan yang sudah terpisah dari dagingnya kemudian ditarik keluar melalui bagian bawah kepala ikan. Setelah itu, daging ikan yang telah hancur dipisahkan dari kulitnya dan dicampur dengan santan kental bersama bumbu rempah lainnya kemudian dimasukan kembali ke dalam kulitnya.

Sate ikan bandeng dibakar dengan cara dijepit menggunakan bambu. Sisa adonan daging ikan biasanya digunakan untuk melumuri bagian luar ikan bandeng yang akan dibakar. Tidak lama setelah itu, sate bandeng pun siap untuk dinikmati dan sangat cocok bersanding dengan nasi hangat serta sambal.

Olahan sate bandeng ini sangat digemari dan masih dipertahankan oleh masyarakat Kota Serang hingga saat ini. Sate bandeng bahkan telah menjadi kuliner khas Banten yang wajib dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke sana.

Otak-otak Bandeng khas Gresik

Otak-otak Bandeng Khas Gresik | Disparbud Gresik
info gambar

Serupa namun tak sama dengan sate bandeng dari Serang, otak-otak bandeng merupakan salah satu kuliner khas Gresik, Jawa Timur, selain nasi krawu dan pudak. Olahan bandeng satu ini menyulap daging bandeng yang memiliki banyak duri menjadi makanan yang mudah untuk dinikmati hingga memiliki cita rasa yang gurih dan lezat.

Proses pembuatan otak-otak bandeng pun sedikit mirip dengan pembuatan sate bandeng. Pertama-tama, daging ikan bandeng dipisahkan dari kulit dan durinya. Daging tersebut kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bahan-bahan lainnya, seperti kelapa, bawang putih, garam, dan cabai. Setelah dimasak, olahan daging dimasukan kembali ke dalam kulit ikan bandeng dan dikukus hingga matang. Otak-otak ikan bandeng biasa disajikan setelah diolah lagi dengan cara dibakar atau diasap.

Bandeng Presto khas Semarang

Bandeng Presto | Indonesia Kaya
info gambar

Olahan bandeng selanjutnya yang tidak kalah enak adalah bandeng presto dari Semarang, Jawa tengah. Berbeda dengan olahan bandeng sebelumnya, olahan bandeng yang satu ini masih memiliki tulang di dalamnya. Namun tidak perlu khawatir, ikan bandeng ini sudah diolah menjadi ikan yang berduri lunak sehingga bisa dinikmati tanpa perlu meributkan durinya.

Pembuatan bandeng presto ini terbilang sederhana. Ikan bandeng yang telah dibersihkan hanya dibumbui menggunakan bumbu rempah, seperti bawang putih, kunyit, dan garam. Kemudian, ikan bandeng tersebut dimasak menggunakan panci pressure cooker atau lebih dikenal sebagai panci presto. Proses memasak inilah yang menjadi rahasia dibalik duri lunak bandeng presto.

Bandeng presto pertama kali dirintis oleh Hanna Budimulya, seorang wanita kelahiran Juwana, Jawa Tengah. Bermula dari kekhawatiran terhadap suaminya yang bekerja sebagai supir truk, Hanna pun berniat untuk membantu mencari penghasilan tambahan.

Suatu hari saat mengantar anak pertamanya masuk taman kanak-kanak, Hanna melihat ibu-ibu lainnya mengantarkan anaknya sambil membawa barang dagangan, seperti baju dan sepatu. Melihat peluang ini, Hanna mendapat ide untuk menjual bandeng pindang yang durinya sudah dilunakkan dengan panci pressure cooker merek Presto miliknya. Panci tersebut merupakan hadiah ulang tahun Hanna pada tanggal 28 Juni 1976.

Saat pertama kali berjualan, Hanna memproduksi sebanyak 12 ekor ikan bandeng. Namun, hanya 2 ekor saja yang terjual. Di hari-hari berikutnya, penjualan olahan bandeng Hanna semakin bertambah. Melihat hal ini, Hanna pun semakin percaya diri dan memberanikan dirinya untuk membuka toko bandeng Presto di rumahnya.

Sampai saat ini, bandeng presto masih tetap eksis dan telah menjadi ikon dari Kota Semarang. Tidak hanya itu, olahan bandeng yang satu ini juga sudah sampai ke luar kota, seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung, maupun ke luar negeri, seperti Hongkong dan Amerika.

Itulah beberapa olahan bandeng khas nusantara yang dapat dinikmati dengan mudah tanpa harus kerepotan dengan durinya. Dari ketiga olahan bandeng ini, olahan bandeng mana saja nih yang sudah atau ingin Kawan cicipi?*

Referensi:Indonesia Kaya | Bandeng Presto Semarang | Budaya.co | Detikfood | Gotravelly

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini