Sekilas Mirip, Putu Bambu dan Dodongkal Jajanan Pasar yang Manis Nan Gurih

Sekilas Mirip, Putu Bambu dan Dodongkal Jajanan Pasar yang Manis Nan Gurih
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

Indonesia memang luar biasa keren. Melimpahnya sumber daya alam dan rempah membuat masakan Indonesia sangat beragam. Bahkan, hampir setiap daerah punya makanan dan kudapan khasnya. Saat berkunjung ke suatu daerah, Kawan mungkin akan menjumpai kuliner tradisional khas daerah tersebut yang sulit ditemui di daerah lain.

Namun, kekayaan kuliner Indonesia seringkali menghadirkan kuliner yang sekilas terlihat mirip, padahal berasal dari daerah yang berbeda. Dari sekian banyak kuliner mirip, salah satunya ada kue tradisional putu bambu dari Medan dan dodongkal dari Jawa Barat.

Bagi sebagian orang, kedua kue ini selalu mampu menghadirkan nostalgia indah dan rasa rindu akan jajanan pasar tempo dulu. Kue putu dan dodongkal terbuat dari bahan yang sama, tepung beras, gula aren, dan bertabur parutan kelapa. Tapi ternyata, jika Kawan selidiki lebih dalam, keduanya sungguh berbeda.

Penasaran apa yang membuat keduanya berbeda? Yuk, simak.

Putu Bambu

Kue putu © Buahatiku.com
info gambar

Kue putu bambu yang sering Kawan temui ternyata berasal dari daerah Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia. Kue ini tak hanya jadi kudapan kegemaran masyarakat Medan, tetapi juga masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut sejarah, putu sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu, tepatnya pada masa Dinasti Ming. Kue ini bernama XianRoe Xiao Long, kue tepung beras berisi kacang hijau lembut yang dimasak dengan cetakan bambu. Kini, kudapan ini pun berkembang sehingga disebut putudan isian putu pun ikut berubah, dari yang semula kacang hijau menjadi gula aren atau gula jawa.

Kue putu terbuat dari bahan dasar tepung beras dengan tambahan sedikit garam, aroma pandan, dan pewarna hijau. Kue putu juga diberi dengan isian gula aren di dalamnya. Teksturnya cenderung lebih lembut dan tidak terlalu padat sehingga saat Kawan memakannya, akan lebih mudah hancur.

Putu bambu © Instagram.com/rizaldi_77
info gambar

Putu bambu berbentuk menyerupai tabung atau bambu karena adonan dicetak pada cetakan bambu, tetapi sekarang sudah berganti menjadi cetakan pipa. Pengolahan putu begitu unik, hanya perlu memasak air hingga mendidih dan menutupnya dengan lapisan seng. Lapisan seng diberi lubang-lubang untuk mengeluarkan uap panas dan kue putu diletakkan tepat di atas lubang tersebut.

Uap ini juga mengeluarkan bunyi nyaring seperti peluit untuk menandakan bahwa kue sudah matang. Nah, suara ini pun menjadi ciri khas para penjaja kue putu keliling. Setelah matang, kue putu akan bertabur parutan kelapa jadi rasanya manis dan gurih, sangat nikmat saat menyantapnya selagi hangat.

Dodongkal

Dodongkal © Cookpad.com
info gambar

Berbeda dengan kue putu, dodongkal atau dongkal merupakan kue tradisional masyarakat Jawa Barat. Konon, dongkal kerap menjadi sajian saat upacara adat zaman dahulu. Namun, kini dongkal bisa Kawan temui sebagai jajanan pasar.

Dongkal juga terbuat dari tepung beras, tetapi bedanya, kue ini tidak menambahkan pewarna sehingga selalu dalam balutan warna putih. Tekstur dongkal sedikit lebih kasar dari kue putu. Permukaannya unik, membentuk susunan belang-belang tak beraturan berwarna putih dari tepung beras dan cokelat dari gula aren.

Dodongkal © Instagram.com/rangkasjajan
info gambar

Pengolahan dongkal membutuhkan alat khusus bernama aseupan, kukusan kerucut dari anyaman bambu. Aseupan diisi tepung beras dan gula aren secara bergantian. Begitu penuh, aseupan lantas diletakkan ke dalam sebuah dandang khusus bernama seeng.

Dandang seeng berbentuk sedemikian rupa unik untuk mempertahankan uap panas saat mengukus agar kue lekas matang. Sisi bawah dan lehernya tampak melebar, tetapi sisi tengahnya meramping, sesuai dengan bentuk kerucut dari kukusan.

Usai matang sempurna, dongkal akan nampak berbentuk seperti gunungan, mirip nasi tumpeng dengan ukuran kecil. Kemudian, dongkal akan diiris sesuai selera, ditaburi parutan kelapa, dan disajikan dengan balutan daun pisang. Sebaiknya, Kawan menyantap dongkal saat hangat, karena kalau sudah dingin, teksturnya akan sedikit lebih padat dan keras.

Kedua kue tradisional ini cukup terjangkau. Dahulu, banyak penjaja kue putu dan dodongkal keliling, tetapi sekarang sudah semakin sulit menemukannya. Mungkin Kawan bisa menjumpainya di penjual jajan pasar tradisional.

Citarasa lezat perpaduan dari manis dan gurihnya, membuat kudapan ini sangat cocok disantap sebagai teman minum teh. Terlebih, buat Kawan para pecinta kudapan manis, tentu akan suka dengan kue putu dan kue dongkal. Jadi, mana yang akan Kawan pilih?

Referensi: Traveling Yuk | detikFood | Ini Baru | Fimela

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini