Belajar dari Sujono, Pahlawan Perangkul Anak Berkebutuhan Khusus

Belajar dari Sujono, Pahlawan Perangkul Anak Berkebutuhan Khusus
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

Hari kasih sayang tak harus selalu berkenaan dengan pasangan. Namun, Kawan bisa mengasihi dan menyayangi siapapun. Kawan bisa memperingati hari istimewa ini dengan berbagi kebahagiaan dan kepedulian dengan sesama. Itulah yang dilakukan oleh Sujono, pendiri Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Nusantara. Pak Sujono, sapaannya, telah menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anak istimewa.

Drs. Sujono, S.Psi, M.M., sosok di balik YPLB Nusantara, sebuah yayasan sosial non-profit yang bergerak di bidang pengembangan potensi anak. Berdiri sejak 2 Oktober 1989, yayasan ini terletak di Beji, Kota Depok, Jawa Barat.

Berdirinya YPLB ini menjadi buah rasa kasih sayang Sujono kepada anak penderita down syndrome, yang sedang mencari makan di tepi jalan. Ia melihat tak ada seorang pun warga yang peduli dengan anak tersebut. Dengan penuh iba, ia membawa anak tersebut ke rumahnya, berniat untuk memberi tempat tinggal dan merawatnya.

Sujono telah berusaha mengabarkan masyarakat sekitar dan mencari keluarga anak tersebut. Namun, tak kunjung ada yang datang. Bersama istrinya, ia pun tetap mengasihi dan memenuhi kebutuhan anak tersebut.

Pada suatu waktu, ia merasa hidupnya penuh kekosongan karena tidak dapat berguna bagi siapapun. Padahal, ia memiliki kelengkapan pancaindra, kemampuan berfikir, serta fisik yang lengkap dan kuat. Ia ingin mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Hingga akhirnya, Sujono memutuskan untuk tak menutup mata dari kenyataan permasalahan tersebut. Ia ingin merawat anak-anak istimewa yang membutuhkan sandang, pangan, papan, pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, dan pemakaman saat meninggal. Terlebih, bagi mereka yang tidak memiliki keluarga.

Meski sempat menerima pertentangan, ia berhasil memberi pengertian kepada masyarakat sekitar. Pada lima tahun pertama, Sujono menampung anak-anak berkebutuhan khusus yang tinggal di jalan tanpa keluarga dengan berbagai upaya, seperti menulis pemberitahuan di sepeda motornya. Beruntung Sujono memiliki istri yang juga berhati mulia dan turut membantu. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, merawat, menjaga, mengasuh, dan mendidik anak-anak tersebut.

Anak-anak YPLB Nusantara © Yplbnusantara.org
info gambar

Seiring waktu, masyarakat jadi banyak yang tahu kalau ia menerima anak berkebutuhan khusus. Sujono pun mengambil keputusan besar untuk menjual rumahnya seluas 300 meter, beserta perlengkapan di dalamnya. Ia menggunakan dana tersebut untuk membangun sekolah dan panti asuhan serta menunjang kegiatan anak-anaknya.

Awalnya, Sujono hanya mengandalkan pekerjaannya sebagai PNS untuk anggaran sekolah dan panti asuhan. Namun, kini YPLB tersebut telah menerima bantuan penunjang dari pemerintah dan masyarakat yang berkunjung.

Yayasan ini terus berkembang, yang semula hanya panti asuhan biasa, kini tersedia Sekolah Luar Biasa (SLB) berasrama. Fasilitas YPLB ini cukup lengkap, seperti kamar tidur dan perlengkapannya, ruang makan dan dapur, arena olahraga, ruang musik, komputer, koperasi dan wirausaha, serta tempat terapi.

Ada banyak keluarga yang mulai menitipkan anaknya dengan iuran sesuai kemampuan. Terhitung ada ratusan anak di sekolah berkebutuhan khusus dengan karakterisktik tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, hiperaktif, down syndrome, autis, epilepsi, cerebral palsy, dan yatim piatu. Anak-anak tersebut ada yang menetap di panti dan ada pula yang tidak menetap.

Anak-anak YPLB Nusantara © Yplbnusantara.org
info gambar

Tak lagi mengurusnya sendiri, YPLB ini juga sudah punya pengurus, pengajar, dan instruktur. Hebatnya, yayasan ini juga memiliki kawasan rekreasi khusus sekaligus penunjang kebutuhan pangan, seperti sawah dengan sumber air, perkebunan buah, dan penangkaran ikan. Sujono mendirikan kawasan ini karena sering menerima penolakan saat mengajak anak-anaknya rekreasi di tempat umum.

Sujono berharap yayasan ini dapat terus berjalan. Ia ingin anak-anaknya tidak hanya mendapat ilmu akademik, tetapi juga keterampilan dan ketaatan beragama yang dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian mereka. Ia bertekad mengabdi dan merangkul agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa memperoleh hak yang sama dengan anak-anak lain.

Referensi:YPLB Nusantara

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini