Mengenal Griya Kain Tuan Kentang dan Kain Tenun Palembang yang Mendunia

Mengenal Griya Kain Tuan Kentang dan Kain Tenun Palembang yang Mendunia
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

Pada masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-9, Kota Palembang pernah menjadi ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara. Kota ini memiliki keindahan alam, kuliner, budaya, dan adat istiadat. Palembang juga menjadi kota yang terkenal dengan kerajinan kain tenunnya yang mendunia.

Kain tenun Palembang punya beragam motif khas dan bernilai jual tinggi. Motifnya tentu unik dan berbeda dengan kain dari daerah lain. Kain ini pun berhasil mengangkat nama Kota Palembang ke kancah dunia.

Griya Kain Tuan Kentang © Instagram.com/palembanginfo
info gambar

Ada sebuah kampung istimewa bernama Tuan Kentang yang letaknya di tepi Sungai Ogan, Palembang. Sebagian besar warga kampung ini hidup sebagai pengrajin kain tradisional Palembang. Kampung ini terus memproduksi dalam jumlah besar dan pernah menyuplai beberapa galeri dan toko terkenal di kawasan kain Tangga Buntung, Palembang.

Konon, nama Tuan Kentang berasal dari nama saudagar Tionghoa yang pernah punya bisnis besar di sepanjang muara sungai. Usai wafat, Tuan Kentang dimakamkan di kampung itu, makamnya menjadi yang paling besar dan memanjang. Warga sekitar menganggap bahwa Tuan Kentang memiliki ‘sesuatu’ yang istimewa sehingga mereka sering memberi sesajen.

Melihat potensi tersebut, pada Februari 2017, Pemerintah Daerah Kota Palembang bersama Bank Indonesia (BI) membangun Griya Kain Tuan Kentang. BI membiayai pembangunannya sebagai bagian dari program pembinaan Wira Usaha Bank Indonesia (WUBI) Sumatera Selatan. Bahkan, BI pun mengundang pelatih ternama di Indonesia untuk membina para pengrajin.

Griya Kain Tuan Kentang © Instagram.com/ayuamandasitanggang
info gambar

Griya Tuan Kentang terletak di Jalan Aiptu A. Wahab, Kelurahan Tuan Kentang, Kota Palembang. Para pengrajin dapat menaruh kain buatannya dan menjual kepada wisatawan yang berkunjung. Pada perjalanannya, galeri ini telah menjadi destinasi wisata belanja yang menarik, Kawan juga bisa menemui kain, pakaian, dan aksesoris khas Palembang.

Sebelumnya, para pengrajin harus berkeliling pasar untuk menjajakan kainnya. Kini, kehadiran galeri ini sangat memudahkan mereka untuk memasarkan karyanya serta mengangkat perekonomian. Pemasarannya pun lebih tertata karena adanya Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tuan Kentang

Sedari pagi hingga menjelang petang, kampung Tuan Kentang tak pernah sepi dari suara Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) milik para pengrajin. Mereka banyak memproduksi banyak jenis kain, tetapi ada tiga jenis kain yang sangat terkenal, yakni kain songket, tajung, dan jumputan.

Griya Kain Tuan Kentang © Instagram.com/rachsusilo
info gambar

Kain songket khas Palembang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2013. Songket berasal dari kata sungkit yang berarti mengait atau mencungkil. Merujuk pada metode pembuatannya, mengaitkan dan mengambil sejumput benang tenun, menyelipkan benang emas, menenun atau menyulam, serta diakhiri dengan menyempurnakan.

Pembuatan kain songket bisa memakan waktu selama 3-6 bulan, tergantung kerumitan motifnya. Kain songket juga beragam, antara lain ada songket lepus, songket limar, songket rumpak, songket tabur, songket bunga, dan songket trestes.

Umumnya, kain tajung berbentuk sarung yang biasa dikenakan laki-laki untuk upacara adat atau hari raya. Dahulu, kain tajung dibuat dengan alat tenun gendong, tetapi sejak tahun 1970 mulai beralih memakai ATBM. Kain tenun tajung berbahan sutra, semi sutra, dan katun dengan beragam motif, seperti limar, limar patut, gerbik, dan petak-petak berwarna.

Lalu, ada kain jumputan yang paling populer karena beraneka warna nan unik dan sulit menemukannya di daerah lain. Kain jumputan sangat menarik dan fleksibel, baik pria maupun wanita cocok mengenakannya untuk busana resmi dan santai. Jumputan tersedia bahan sifon, katun, fiskos, dobi, semi sutra dengan motif khas titik lima, titik tujuh, titik sembilan, dan motif modern.

Seorang desainer nasional, Ghea Panggabean tertarik pada kain jumputan khas Palembang. Ia pun memilih kain ini sebagai bahan busananya. Pada tahun 1986, Ghea berhasil menerima penghargaan dari Asean Designer Show di Singapore berkat mengangkat kain jumputan.

Bila Kawan berkunjung ke Palembang, usahakan mampir ke Griya Kain Tuan Kentang. Di sini, Kawan bisa berburu kain khas Palembang sekaligus mengintip proses penenunannya. Kawan tentu akan terpukau dengan keindahan kain tenunnya.

Referensi:Pemerintah Indonesia | Tribbunews

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini