Menunggu Misi Indonesia ke Planet Mars

Menunggu Misi Indonesia ke Planet Mars
info gambar utama

Ada dua berita besar (setidaknya menurut saya), yang terlewat oleh banyak orang. Keduanya bersumber dari sebuah tempat yang begitu jauh, dan ratusan juta kilometer jaraknya. Berita pertama adalah mengenai misi pertama Uni Emirat Arab ke planet Mars, yang diberi nama "AMAL". telah sampai di orbit planet itu pada hari Selasa (09/02), setelah menempuh perjalanan selama tujuh bulan, sejauh 494 juta kilometer. Dan keriuhan pun terjadi di bumi, tepatnya di negara kaya minyak itu. Ribuan orang bersorak riang sambil mengibarkan bendera nasional UEA. Para pengendali di darat, i pusat ruang angkasa UEA di Dubai, berdiri dan bertepuk tangan ketika mendapat kabar bahwa pesawat tak berawak itu telah mencapai akhir dari perjalanan hampir tujuh bulan sejauh 482 juta meter dan mulai mengelilingi Mars, di mana penjelajah itu akan mengumpulkan data rinci tentang atmosfer planet tersebut.

Wahana tersebut, bersama dengan tiga peralatan ilmiahnya, diharapkan bisa membuat potret lengkap pertama dari atmosfer Mars. Peralatan itu akan mengumpulkan berbagai titik data di atmosfer serta mengukur perubahan musiman dan harian.

Wahana pengorbit itu menyalakan mesin utamanya selama 27 menit dalam manuver rumit yang memperlambat pesawat agar bisa ditangkap oleh gravitasi Mars. Kemudian butuh waktu sekitar 15 menit untuk mendapatkan sinyal yang memastikan keberhasilannya mencapai Bumi.

Misi ini menjadikan UEA sebagai badan antariksa kelima di dunia, yang berhasil mencapai planet merah dan menandai misi antarplanet pertama yang dipimpin oleh sebuah negara dari dunia Arab.

Misi UAE ke Mars yang menelan biaya sekitar 200 juta dollar AS atau sekitar 2.9 triliun rupiah, meluncurkan Hope Probe dari pusat luar angkasa Jepang Juli 2020 lalu. UEA tahun ini merayakan 50 tahun merdeka dari Inggris. Badan antariksa negara ini mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk merintis misi penghunian di Mars tahun 2117.

Yang menarik, tim sains misi ini terdiri dari 80% perempuan. Mereka berada di sana berdasarkan prestasi dan berdasarkan apa yang mereka kontribusikan terhadap desain dan pengembangan misi, bukan berdasarkan sebab-sebab lain. Di salam jajaran insinyur utamanya pun, dua di antara tujuh insinyur juga kaum perempuan, termasuk kepala bidang sains-nya.

 Para insinyur UAE dalam misi ke planet Mars yang berhasil | Gulfnews.com
info gambar

Sehari setelah, giliran sang raksasa Asia yang bersorak gembira. Wahana Tianwen-1 milik China tiba tepat waktu di sekitar orbit Mars, tepat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Pada Bulan Mei 2021, wahana itu akan mendaratkan penjelajahnya di Mars.

Berbeda dengan Amal milik UEA, Tianwen-1, yang berarti diterjemahkan menjadi "pertanyaan ke surga" adalah paket lengap misi ke Mars, yang berisi penjelajah, pendarat, dan pengorbit seberat lima ton yang diluncurkan dari Wenchang di China selatan pada Juli 2020 lalu.

Pesawat ruang angkasa itu berada di orbit yang akan membawanya dalam jarak 400 km dari permukaan Mars, di mana ia akan menghabiskan beberapa bulan untuk mensurvei lokasi pendaratannya di wilayah Utopia Planitia, sebuah cekungan raksasa di permukaan Mars yang terbentuk akibat hantaman benda angkasa di masa lalu . Pada bulan Mei 2021, pendarat dan penjelajah akan melepaskan diri dari pesawat ruang angkasa dan melakukan pendaratan di satu titik di Utopia Planitia, yang juga diyakini menjadi tempat deposit besar es air berada di bawah permukaan planet Mars. Jika berhasil, China akan menjadi negara kedua, setelah AS, yang mendarat dan mengoperasikan penjelajah di permukaan Mars.

Sebelumnya, Mangalyaan, sebuah wahana luar angkasa India juga telah mencapai orbit Mars pada 2014. Menariknya, misi ke Mars ini berbiaya sangat rendah, hanya kurang dari $ 75 juta, atau hanya 1/10 dari biaya Maven milik NASA, yang juga sama sama mengorbit di Mars. Keberhasilan India tentu juga menjadi bukti bahwa pada dasarnya, every country can go to space.

Pengendali misi Mars India, merayakan keberhasilan\ MANJUNATH KIRAN / GETTY
info gambar

Penjelajahan luar angkasa telah menjadi subjek minat manusia dan memicu perlombaan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak begitu lama. Mulai dari ilmu astronomi yang dikembangkan di dunia Islam sejak awal abad ke-9, hingga space race di abad ke 20.

Namun, kini berbeda. Kini, kita berada di sebuah titik yang sangat penting, di mana banyak pemerintah berbagai negara yang meluncurkan strategi luar angkasa yang ambisius. Selain itu, sektor swasta juga tidak ketinggalan, dan menjadi katalisator munculnya antusiasme berbagai kalangan akan penjalajahan angkasa, sesuatu yang sempat muncul di tahun 80an. Terobosan-terobosan teknologi, mulai dari teknologi roket, teknologi pertanian di luar bumi, kini sedang giat ditemukan.

Luar angkasa begitu luasnya, dan akan menjadi sebuah tempat yang komunal, komersial, dan menjanjikan di masa depan. KMPG memperkirakan bahwa saat industri terbuka dan lebih banyak perkembangan dan terobosan teknologu di buat, industri luar angkasa akan tumbuh dan menghasilkan peluang dan risiko bagi semua pemain.
Perkiraan menunjukkan industri luar angkasa global bisa bernilai US $ 600 miliar pada tahun 2030. Dalam laporan "Voices of 2030: The future of space" diprediksi bahwa indutri luar angkasa akan sejalan dengan lima pilar perubahan signifikan dalam sepuluh tahun ke depan:
• Manusia akan hidup, bekerja dan berlibur di luar angkasa;
• Eksplorasi ruang angkasa yang jauh (deep-space exploration);
• Akan muncul model-model bisnis luar angkasa;
• Data-data luar angkasa akan menjadi komoditas perdagangan baru; dan
• Keberlanjutan di luar angkasa, akan mendukung keberlanjutan di bumi

Menunggu Indonesia

Sejak batalnya Dr. Pratiwi Sudharmono menjadi awak Challenger di tahun 1987, praktis tak lagi terdengar antusiasme publik negeri ini tentang luar angkasa. Sebagai sebuah negara besar, tak salah kiranya jika kita ikut terlibat secara signifikan, atau bahkan menjadi pemain pada eksplorasi luar angkasa. Dan tentu, Indonesia punya banyak kepentingan di sana. Karena, bisa jadi, "the space is the future". Dan rasanya, keberhasilan UEA, China, dan India bisa menjadi bahan bagi kita untuk kembali berkontemplasi dan kemudian menyatukan energi agar di masa depan yang tidak terlalu lama, Indonesia bisa menyamai keduanya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini