Mungkin Kita Perlu Belajar dari China Bagaimana Menjadi Raksasa

Mungkin Kita Perlu Belajar dari China Bagaimana Menjadi Raksasa
info gambar utama

*Penulis Senior GNFI.

Perkembangan ekonomi Cina di level global terus meningkat pesat, saat ini Cina menduduki peringkat dua sebagai negara terbesar perekonomiannya didunia setelah Amerika Serikat. Namun artikel yang ditulis Lizzy Burden, tanggal December 26, 2020 di Bloomberg memprediksi bahwa Cina akan menyalip Amerika Serikat menjadi negara terkuat perekonomiannya di dunia nanti pada tahun 2028 dan bahkan ada yang memprediksi tahun 2023. Kekuatan perekonomian Cina ini salah satunya disumbang oleh besarnya export Cina ke negara-negara didunia termasuk Indonesia.

Kepala Badan Statistik (BPS) Suhariyanto mengakui bahwa mayoritas impor yang masuk ke Indonesia masih berasal dari China. Tercatat, pada Mei 2020 . Tercatat impor Indonesia pada Mei 2020 sebesar USD8,44 miliar.Jun 23, 2020. BPS juga mencatat bahwa kinerja impor Indonesia pada Desember 2020 mulai meningkat. Pada bulan itu, impor tercatat sebesar US$14,44 miliar atau naik 14 persen dibanding November 2020, meski turun 0,47 persen dari Desember 2019. "Berdasarkan penggunaan barangnya, impor Indonesia pada bulan itu didominasi oleh barang konsumsi yang tumbuh 31,89 persen, dibanding catatan pada November 2020, dan tumbuh 3,87 persen dibanding Desember 2019. Nilai impor barang konsumsi bulan itu US$1,72 miliar. Memang diakui bahwa negara asal barang impor terbanyak di Indonesia adalah Cina.

Akibat dari gencarnya ekspor Cina ke Indonesia, menyebabkan defisit perdagangan Indonesia dari Cina untuk periode Januari sampai Agustus 2020, Indonesia defisit US$6,6 miliar mencapai US$2 miliar. Secara umum yang disebut defisit neraca perdagangan itu apabila jumlah impor dari negara lain lebih besar dari jumlah ekspornya ke negara lain.

Dalam semua textbook ilmu ekonomi Makro disebutkan bahwa untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara itu bisa dari sisi produksi, bisa dari konsumsi. Rumusnya dari sisi konsumsi adalah Y= C + I + G (X-M) dimana Y= Pertumbuhan Ekonomi, C = Konsumsi rumah tangga), G = Belanja Pemerintah, I = Investasi, X= Ekspor dan M = Impor. Memang meningkatnya konsumsi suatu negara baik konsumsi rumah tangga, pemerintah maupun swasta akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Konsumsi sering dikatakan sebagai “katup” penyelamat perekonomian.

Namun apabila kebutuhan konsumsi itu dipenuhi dari impor, maka itu menjadi masaalah, antara lain bisa memunculkan defisit neraca perdagangan, melemahnya industri dalam negeri, tergerusnya devisa negara dsb. Jepang memang pernah sehabis hancur karena perang dunia II, perekonomiannya meningkat pesat karena tingkat konsumsinya tinggi, namun konsumsinya itu banyak dipenuhi dengan produksi buatan dalam negerinya.

Negara Cina memang all-out melakukan ekpsor produk-produknya ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Negeri tirai bambu ini membangun kota-kota yang menjadi pusat transaksi perdagangan dunia atas barang-barang buatan Cina. Salah satunya Kota Perdagangan Internasiona Yiwu – di daerah Zhejiang (diresmikan tanggal 22 Oktober 2002) yang menurut Bank Dunia merupakan pasar yang menjual “small commodities” terbesar didunia, dan menjual produk=produk Cina senilai milyaran dolar. Pasar ini luasnya 5,5 juta m2 (ada yang menyebut seluas 1.000 kali nya lapangan sepakbola). Ini adalah pasar grosir dimana didalamnya ada 75.000 toko yang melibatkan 100.000 supplier (pemasok) dan menjual 400.000 berbagai macam produk (sekitar 2.000 jenis/kategori barang).

Segala ada | China money network
info gambar

Saking luas dan besarnya pasar grosir ini seorang photographer CNN dari Amerika Serikat mengaku memerlukan waktu 4 hari untuk mengunjungi semua toko di pasar Yiwu ini, kata dia “I spent a total of four days constantly walking around Yiwu and wouldn’t say I got near to seeing all of the stalls”.

Ribuan pedagang berdatangan dari segala penjuru dunia – termasuk para pedagang Indonesia mengunjungi “Transnational Marketplace” di Yiwu ini, dan di kota-kota lain di Cina, mereka melakukan transaksi impor dan melihat langsung proses produksi di berbagai prabrik, mengunjungi pergudangan dan fasilitas lainnya. Negeri Cina yang dengan all-out membangun Marketplace global ini membuahkan multiplier effect yang hebat antara lain gencarnya expansi dan diversifikasi pasar yang mengkususkan pada perdangan grosir untuk barang-barang konsumis yang dihasilkan oleh para UKM dingeri ini. Selain itu memunculkan berbagai inovasi dan kreativitas yang tinggi dan terus-menerus dari para pengusaha Cina baik pengusaha besar maupun UKM. Akibat lainnya tentunya meningkatnya industri pariwisata (industri hotel dan kuliner) dan devisa negara.

Cina yang melakukan integrated marketing strategy ini menarik minat pengusaha lama maupun baru di berbagai belahan dunia termasuk ribuan orang Indonesia (termasuk kalangan muda yang baru memulai bisnis/start-up) untuk melakukan impor barang-barang Cina. Ketertarikan ini akibat berbagai kemudahan yang diberikan Cina misalkan mengorganisir kunjungan ke Cina untuk melihat langsung Marketplaces dan bertemu dengan penjual, dan yang penting harga barang yang dijual itu di Cina ada yang berharga cuma Rp 20.000 (s/d jutaan untuk produk manufaktur). Dan ini adalah hal yang menggiurkan bagi pengusaha Indonesia ini, bayangkan produk tas yang laku dijual di facebook degan harga Rp 400.000 ternyata harga kulakannya di Cina hanya Rp 75.000 an, ditambah biaya transportasi, pajak di pelabuhan Tanjung Priok dan ongkos kirim dari Jakarta ke daerah-daerah jatuhnya menjadi Rp 125.000 an. Bisa dibayangkan besar keuntungannya. Selain itu memang barang konsumsi yang dijual itu memiliki daya tarik (hasil dari inovasi dan kreativitas) dan sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi sekarang bermunculan pengusaha muda yang membuka jasa impor bagi pengusaha baru yang tidak memiliki modal banyak dengan cara “Impor Berjamaah”, sehingga dengan modall Rp 750.000 – 1.000.000, orang bisa impor produk-produk Cina yang murah dengan cara bergabung dengan pengusaha lainnya.

Tentu tidak ada yang salah bagi para importer dari Indonesia untuk melakukan bisnis semacam itu; dalam perdagangan dunia hal itu wajar, karena bisa memunculkan pengusaha baru, meningkatkan pendapatan, mengurangi pengangguran dsb. Namun selama Indonesia tidak melakukan hal yang sama (seperti yang dilakukan Cina) misalnya membangun Marketplace yang representative, membangun inovasi dan kreativitas anak-anak bangsa, memberikan berbagai kemudahan bagi eksportir, menyederhanakan birokrasi dsb, maka selama itu tingkat impor dari Cina akan terus meningkat tidak bisa dibendung; dan kondisi industri dalam negeri atau perkembangam UKM akan berjalan ditempat bahkan hancur karena kalah bersaing dengan Cina.

Kalau hal itu terjadi, maka kita sebenarnya juga ikut andil memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi keperkasaan ekonomi Cina menjadi Super Power ekonomi di dunia.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini