PPI Dunia Bersama Pakar Mengkaji Program Vaksinasi Untuk Melawan Covid-19 Di Indonesia

PPI Dunia Bersama Pakar Mengkaji Program Vaksinasi Untuk Melawan Covid-19 Di Indonesia
info gambar utama

Pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 telah merenggut banyak korban jiwa dan menimbulkan kerugian lainnya. Kemajuan teknologi dan sumber daya manusia dalam bidang kedokteran telah berhasil membuat vaksin untuk melawan COVID-19. Di Indonesia, kehadiran program vaksinasi tidak lepas dari berita hoax yang menimbulkan keraguan dan kekhawatiran masyarakat untuk menerima vaksin.

Oleh karena itu, untuk mendukung kebijakan pemerintah melawan COVID-19 dan membahas pro-kontra program vaksinasi di Indonesia, Komisi Kesehatan Direktorat Penelitian dan Kajian PPI Dunia menyelenggarakan seminar daring dan diskusi publik dengan tajuk “Dibalik Vaksin COVID-19 dan Upaya Indonesia Mengontrol Pandemi” pada Sabtu (6/2) terbuka untuk umum.

Seminar daring ini dibagi menjadi tiga sesi dan menghadirkan para narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya. Kegiatan ini dipandu oleh Anita Kurnia Ilahi dan diawali dengan kata sambutan oleh dr. Anthony Paulo Sunjaya selaku Ketua Komisi Kesehatan Direktorat Penelitian dan Kajian PPI Dunia periode 2020-2021. “Kerja sama yang baik antara Pemerintah, Tenaga Medis, Industri, dan Media sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi mengenai program vaksinasi kepada seluruh masyarakat,” pesan dr. Anthony.

Choirul Anam, SE, ME, AK, CA selaku Koordinator PPI Dunia periode 2020-2021 memberi kata sambutan kedua, “Bagikan informasi ini kepada khalayak ramai, mari kita sukseskan program vaksinasi ini hingga pandemi hilang dari muka bumi atau setidaknya untuk meminimalisir resiko.” Selanjutnya, Keynote Speech yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ir. Budi Gunadi Sadikin, CHFC, CLC membuka acara secara resmi.

Sesi pertama dipimpin oleh Fauchil Wardati sebagai moderator. Topik yang dibahas adalah Medis, Keamanan, dan Efektifitas Vaksin: dari A sampai Z. Poin pembahasan mengenai topik ini diberikan oleh Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Syaraswati Hadinegoro, Sp.A(K) - Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam kesempatan ini, beliau memaparkan materi tentang vaksin, jenis-jenis, hingga tahapan vaksinasi, “Melakukan vaksinasi merupakan bagian pelengkap dari protokol kesehatan untuk mendorong herd immunity.”

Poin pembahasan selanjutnya disampaikan oleh Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. - Deputy for Fundamental Research Lembaga Ejikman yang membahas Genomic Surveillance COVID-19 dan dampak variant terhadap efficacy vaksin. Beliau menjelaskan beberapa jenis varian dan mutasi virus SARS-CoV-2 yang telah tersebar di berbagai negara. “Sampai 1 Februari 2021, varian-varian baru belum ditemukan pada 251 sekuens SARS-CoV-2 di Indonesia yang sudah dilaporkan ke GISAID.” Namun, untuk meningkatkan surveilans genomik, Indonesia melalui Lembaga Ejikman membuat 5K Genome Project untuk mengidentifikasi karakteristik dari varian-varian tersebut agar dapat melakukan penanganan Kesehatan lebih lanjut.

Materi terakhir pada sesi pertama disampaikan oleh Prof. Dr.dr. Kusnandi Rusmil, Sp. A(K). - Ketua Tim Riset Vaksin COVID-19 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Beliau membedah Laporan Interim Trial Vaksin COVID-19 di Indonesia. Beliau juga menyampaikan efikasi vaksin di Indonesia mencapai 65,3% dan telah memenuhi syarat WHO mengenai efektivitas efikasi vaksin.

Pada sesi kedua, Komunikasi Publik, Manajemen Mata Rantai, dan Sumber Daya Manusia dalam Mendistribusikan dan Mendorong Vaksinasi menjadi topik bahasan. Pemateri pertama di sesi ini adalah Dr. Neni Nurainy, S.Si, Apt. - Project Integration Manager of Research and Development Division PT Biofarma, memaparkan prinsip dan rencana skenario supply vaksin COVID-19 serta proses pendistribusian vaksin ke seluruh pelosok negeri.

Materi kedua disampaikan oleh dr. Daeng M. Faqih, SH, MH. - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, membahas Kesiapan SDM Kesehatan untuk Vaksinasi Massal. “Sinovac yang digunakan di Indonesia penyimpanannya lebih mudah dan metode pemberiannya tidak sulit, sehingga tenaga kesehatan yang bertugas menjadi vaksinator tidak membutuhkan pelatihan yang rumit,” ujar dr. Daeng M. Faqih, SH, MH.

Pemateri terakhir di sesi kedua adalah Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, MHA (Ino), DTM&H (UK), DTCE (Jpn), SpP (Ino), FISR (Ino). - Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas YARSI dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa terdapat 63 vaksin di seluruh dunia yang telah melalui uji klinik dan akan ada 7-8 vaksin selain Sinovac yang akan digunakan di Indonesia. “Tidak ada jenis vaksin COVID-19 yang paling ideal. Vaksin apapun yang ada selama aman, efektif, dan bermutu dapat digunakan untuk mengurangi risiko COVID-19,” tegasnya.

Pada sesi terakhir, topik yang dibahas adalah Indonesia Beyond COVID-19. Materi mengenai masa depan sistem kesehatan Indonesia paska pandemi dibahas oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH. - Chair, Center for Health Economics and Policy Studies Universitas Indonesia dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Edukasi program vaksinasi kepada masyarakat luas sangatlah penting. PPI Dunia berharap dapat memberikan pemahaman dan memperkaya pengetahuan mengenai program vaksinasi, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan vaksinasi untuk kemudian mendukung kebijakan pemerintah dalam program vaksinasi COVID-19. Sebagai bentuk tindak lanjut dari seminar ini, Komisi Kesehatan PPI Dunia juga akan memberikan masukan kepada stake holder untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dalam mengontrol pandemi di Indonesia.

Ditulis oleh: Ahsanah Nur Amalia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini