HPN 2021, PPIDK Amerop Angkat Isu “Melawan Hoax, Mengawal Independensi Pers”

HPN 2021, PPIDK Amerop Angkat Isu “Melawan Hoax, Mengawal Independensi Pers”
info gambar utama

PPIDK Amerop - Perkembangan informasi era digital saat ini memudahkan kita memperoleh akses berita dari berbagai sumber. Dalam hitungan detik, berita tersebar luas melalui berbagai platform media sosial. Ironisnya, kecepatan informasi ini seringkali diwarnai maraknya berita bohong/hoax sehingga dengan mudah memprovokasi kepada pembaca. Kondisi ini jika diabaikan, berdampak pada persatuan dan kesatuan bangsa. Pemerintah, insan pers dan seluruh lapisan sosial masyarakat perlu bersinergi melawan maraknya berita hoax.

Dari persoalan tersebut Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Amerika-Eropa (PPIDK Amerop) kemudian membentuk sebuah ruang diskusi dalam konsep webinar kebangsaan Hari Pers Nasional tahun 2021. Kegiatan itu menghadirkan narasumber antara lain, Dedy Permadi, Stafsus Kementrian Komunikasi dan Informasi RI Bidang Digital dan SDM/Juru Bicara Kominfo RI, Mohammad Rohanudin, Direktur Utama Radio Republik Indonesia, Abdul Manan, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen, Arif Zulkifli selaku Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakkan Etika Pers, Dewan Pers dan Atmaji Sapto Anggoro, Founder Tirto.id.

Pada kesempatan itu, Dedy Permadi mengatakan masih banyak ditemui di berbagai platform media terkait hoax. Kemudian tren penggunaan akses informasi melalui inernet, dari 196,7 juta pengguna internet di Indonesia, teridentifikasi sekitar 6 juta diantaranya merupakan pembaca media online.

“Sementara pembaca media cetak 4,5 juta. Dari data itu pembaca media online memiliki jumlah yang sangat besar. Isu informasi pemberitaan sangat strategis jika masuk media online,” kata Dedy dalam kesempatan webinar kebangsaan Hari Pers Nasional 2021 PPIDK Amerop, Sabtu (13/02) kemarin.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Abdul Manan didalam kesempatan webinar kebangsaan HPN 2021 menekankan masih banyaknya ditemukan kasus kekerasan terhadap wartawan. Ia menegaskan, kekerasan terhadap wartawan adalah iklim yang paling berpengaruh terhadap kinerja pewarta.

“Ada tiga hal yang tidak boleh terjadi jika kebebasan pers ingin tumbuh. Pertama tidak berada dalam iklim korup, tidak miskin dan tidak dibawah dalam ketakutan. Bagaimana pers kita bisa dikatakan bebas? Tentu bisa dilihat juga dari bagaimana iklim hukum di negara kita,” kata Abdul Manan.

Fenomena hoax ini coba disikapi dengan upaya perlawanan terhadap hoax itu sendiri. Arif Zulifli, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakkan Etika Pers, Dewan Pers mengatakan, melawan hoax harus dengan berita benar yang diproduksi oleh awak media yang bekerja secara profesional. Dalam beberapa kesempatan diskursus publik, sambungnya, seringkali muncul pertanyaan bahwa hoax itu berbahaya, tapi lebih berbahaya lagi adalah konglomerasi media.

“Hoax itu berbahaya, tapi lebih berbahaya lagi konglomerasi media yang dikuasai oleh modal besar sehingga kontennya disetir oleh modal tersebut. Hoax itu berbahaya, tapi berita tidak akurat juga tidak kalah berbahaya,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Majalah Tempo.

Pada kesempatan webinar kebangsaan HPN 2021 ini, PPIDK Amerop juga menekankan isu pentingnya jurnalistik di era digital. Hal itu selaras dengan karakteristik yang dibangun oleh salah satu media online, Tirto.id. Ya, seperti kita ketahui bersama bahwa Tirto.id saat ini merupakan salah satu media online yang memiliki DNA kuat ditengah perkembangan informasi era digital. Inovasi jurnalistik era digital sangat penting saat ini. Namun demikian, inovasi tetap harus berpegang teguh pada nilai dasar dan kredibilitas.

“Ada banyak motivasi membangun media. Apakah untuk kejar rangking, bisnis murni atau informasi menghibur atau sekedar ada tapi untuk akses bisnis yang lain. Atau punya cita-cita tinggi, untuk peradaban literasi misalnya,” kata founder Tirto.id, Atmaji Sapto Anggoro.

Koordinator PPIDK Amerop, Yitzhak Simatupang mengatakan dalam sambutannya, penting bagi pers selalu menjaga dan memelihara independensinya. Pers juga harus bisa menjadi garda terdepan dalam menangkal maraknya berita bohong yang dapat mengancam keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Harapannya, melalui momentum HPN 2021 ini kedepannya pers semakin professional dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai jembatan informasi kepentingan publik.

Sementara itu Penanggungjawab Departemen Media dan Informasi PPIDK Amerop Ali Mufid mengatakan, HPN merupakan momen peringatan perjalanan panjang perjuangan insan pers dahulu hingga saat ini. Dulu, era kemerdekaan, pers memiliki andil besar sebagai jembatan informasi ke seluruh pelosok negeri. Melalui narasi yang dibangun atas dasar cinta tanah air, insan pers menegaskan bahwa Indonesia telah berdaulat sebagai sebuah negara. Saat ini, insan pers masih konsisten menjadi pelopor konstruksi negeri. Berperan pada kontrol sosial dan berdiri teguh pada posisi pilar demokrasi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini